Apakah Memakai Kacamata Mengurangi Risiko Tertular COVID-19?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 21 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Sebuah studi yang dilakukan peneliti Rumah Sakit Suizhou Zengdu, China, mengatakan bahwa pengguna kacamata memiliki risiko lebih rendah tertular COVID-19 dibandingkan mereka yang tidak. 

Apakah ini berarti kacamata membantu penggunanya mengurangi risiko penularan COVID-19?

Kacamata dan pencegahan penularan COVID-19

kacamata penggunaan sehari hari pandemi covid-19

Sebuah studi di China menunjukkan bahwa mereka yang memakai kacamata selama lebih dari delapan jam sehari memiliki risiko lebih rendah tertular COVID-19 dibandingkan mereka yang tidak berkacamata. 

Penelitian ini dilakukan dengan mengamati 276 pasien COVID-19 di Rumah Sakit Suizhou Zengdu, China. Dari 276 pasien yang diamati tersebut hanya 16 pasien yang memakai kacamata, jumlah ini hanya 6 persen dari 31 persen populasi penduduk lokal yang memakai kacamata.

Pengamatan ini dinilai bisa menjadi bukti awal bahwa pemakai kacamata sehari-hari tidak terlalu rentan terinfeksi COVID-19. Hal tersebut menjadi spekulasi awal para peneliti. 

Perlu dicatat ini adalah penelitian yang dilakukan hanya dalam skala kecil dan hanya menunjukkan hubungan antara memakai kacamata dan tingkat infeksi COVID-19, bukan eksperimen langsung. 

Terlalu dini untuk mengatakan kacamata dapat membantu mencegah tertular Coronavirus sebab masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut. Walau begitu ada beberapa hal penting yang bisa dicatat dari fakta ini.

COVID-19 Outbreak updates
Country: Indonesia
Data

917,015

Confirmed

745,935

Recovered

26,282

Death
Distribution Map

Mata menjadi jalur masuk virus penyebab COVID-19

kacamata bisa melindungi dari penularan covid-19 apakah benar?

Menurut Medical Journal of Virology, mata menjadi salah satu jalur utama masuknya virus SARS-CoV-2 ke dalam tubuh.

COVID-19 dapat menular melalui tetesan pernapasan (droplet) yang keluar ketika seseorang bernapas, bicara, batuk, atau bersin. Droplet yang mengandung virus tersebut dapat terdorong oleh udara lalu mencari inang lain, biasanya virus ini masuk ke tubuh melalui hidung atau mulut. 

Mata memiliki lapisan pelindung yang disebut selaput lendir. Lapisan tersebut juga dimiliki oleh hidung dan mulut tempat virus corona mendarat dan berusaha melewati selaput lendir tersebut untuk menginfeksi. 

Itu sebabnya para peneliti melihat kemungkinan selaput lendir di mata ini juga bisa menjadi portal masuknya virus corona penyebab COVID-19.

Secara teoritis, memakai kacamata menjadi penghalang tambahan untuk melindungi mata dari sentuhan langsung atau percikan droplet. Para petugas kesehatan menggunakan kacamata goggles di lingkungan zona merah COVID-19 dengan alasan yang sama, yakni melindungi mata dari percikan droplet. 

Bedanya, kacamata goggles didesain untuk melindungi mata sekitar air dengan rapat. Sedangkan kacamata yang digunakan sehari-hari hanya menghalangi droplet dari bagian depan dan sisi-sisi lainnya masih rentan.

Pusat Perlindungan dan Pengendalian Penyakit Amerika (CDC) merekomendasikan penggunaan kacamata goggle bagi petugas kesehatan yang menangani pasien di tempat berisiko tinggi. Tapi menekankan bahwa kacamata sehari-hari tidak dianggap memberikan pelindung dari penularan virus corona.

Bagaimana dengan face shield?

face shield dan kacamata melindungi dari penularan covid-19 ?

Untuk diingat, COVID-19 bisa menular dari kontak langsung dengan percikan droplet orang yang terinfeksi saat mereka bicara, batuk, atau bersin. Karena itu pencegahan utama yang disarankan adalah meminimalisir aktivitas di luar rumah untuk menjaga jarak (physical distancing)

Jika terpaksa melakukan aktivitas di luar rumah, diwajibkan mengenakan masker setidaknya masker kain tiga lapis dan menjaga jarak dengan orang lain minimal 1,5 meter. 

Face shield bisa digunakan sebagai pelengkap dari penggunaan masker tapi tidak bisa menggantikannya. Face shield adalah pelindung wajah terbuat dari plastik bening kaku yang menutupi wajah dari dahi hingga dagu. 

Salah satu jalur penularan COVID-19 tidak langsung adalah sentuhan dengan permukaan benda yang telah terkontaminasi lalu menyentuh wajah tanpa mencuci tangan terlebih dahulu. Keunggulan mengenakan face shield adalah mencegah kita menyentuh wajah dengan tangan yang kemungkinan terkontaminasi virus.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Parosmia, Gejala Long COVID-19 Bikin Pasien Mencium Bau Tak Sedap

Pasien COVID-19 melaporkan gejala baru yang disebut parosmia, yakni mencium bau amis ikan dan beberapa bau tidak sedap lain yang tidak sesuai kenyataan.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 11 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit

Semua tentang Vaksin COVID-19: Keamanan, Efek Samping, dan Lainnya

Berikut beberapa informasi umum seputar vaksin COVID-19, keamanan, efek samping, dan pelaksanaan imunisasinya di Indonesia.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 29 Desember 2020 . Waktu baca 9 menit

Vaksin COVID-19 Tidak Mencegah Penularan, Masyarakat Masih Harus Menerapkan 3M

Para ahli mengingatkan, berjalannya vaksinasi COVID-19 tidak serta merta mencegah penularan dan membuat bisa kembali hidup normal seperti sebelum pandemi.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 29 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit

Mengenal GeNose, Alat Deteksi COVID-19 dari Embusan Napas

UGM mengembangkan GeNose, teknologi untuk mendeteksi COVID-19 dengan cepat melalui embusan napas. Bagaimana cara kerjanya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 28 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

donor plasma konvalesen

Bagaimana Cara Donor Plasma Konvalesen Pasien COVID-19 Sembuh?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit
psikotik covid-19

Infeksi COVID-19 Bisa Menyebabkan Gejala Psikotik Seperti Delusi?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
jamu covid-19

Potensi Jamu dan Obat Tradisional dalam Penanganan COVID-19

Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 12 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
Keamanan Vaksin COVID-19

Perkembangan Uji Klinis Vaksin Sinovac di Indonesia

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 11 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit