Terus pantau perkembangan soal COVID-19 di sini.

home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Studi: COVID-19 Dapat Menyebabkan Disfungsi Ereksi

Studi: COVID-19 Dapat Menyebabkan Disfungsi Ereksi

Sebuah penelitian terbaru mengungkapkan, COVID-19 bisa meningkatkan risiko seorang laki-laki mengalami disfungsi ereksi hampir 6 kali lipat. Disfungsi ereksi atau dikenal juga dengan impotensi adalah kondisi ketika laki-laki tidak bisa atau tidak memiliki kemampuan dalam mendapatkan dan mempertahankan ereksi secara optimal saat sedang berhubungan seks. Beberapa gejala disfungsi ereksi yakni kesulitan ereksi, masalah mempertahankan ereksi, dan berkurangnya hasrat seksual.

Bagaimana COVID-19 menyebabkan disfungsi ereksi (impotensi)?

Studi : COVID-19 Dapat Menyebabkan Disfungsi Ereksi

Sejak Mei 2020, para ahli telah membicarakan kemungkinan adanya pengaruh COVID-19 terhadap fungsi ereksi laki-laki. Sejumlah studi menemukan adanya hubungan yang belum terdefenisikan antara infeksi COVID-19 dengan defisiensi hormon testosteron, ditemukannya unsur virus SARS-CoV-2 dalam sperma, hingga adanya kerusakan sel endotel luas yang bisa meningkatkan risiko impotensi.

Sebuah studi terbaru yang dipublikasi The World Journal of Men’s Health menjabarkan kondisi yang terjadi pada dua orang laki-laki yang terinfeksi COVID-19. Satu orang mengalami gejala ringan dan sempat dirawat di rumah sakit, sedangkan satu lainnya isolasi mandiri karena memiliki gejala ringan.

Sekitar 6 hingga 8 bulan kemudian, dua orang ini masih memiliki partikel-partikel virus SARS-CoV-2 di dalam penis mereka. Mereka juga mengalami kondisi disfungsi ereksi parah hingga harus menjalani penile prosthesis atau operasi implan penis, padahal tidak memiliki riwayat impotensi sebelum terinfeksi COVID-19.

Mendapati kondisi kedua pasien ini, tim peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Miami Miller melakukan pemeriksaan pada sampel jaringan penis kedua pasien tersebut. Sebagai perbandingan, peneliti juga memeriksakan jaringan penis dari dua pasien disfungsi ereksi tanpa riwayat COVID-19.

Pemeriksaan tersebut menemukan adanya partikel virus SARS-CoV-2 dan disfungsi sel endotel dalam sampel jaringan penis dua pasien penyintas COVID-19. Sel endotel pembuluh darah adalah sel yang melapisi bagian dalam dinding pembuluh darah. Sedangkan pada sampel jaringan pasien disfungsi ereksi tanpa riwayat COVID-19, peneliti tidak menemukan adanya kerusakan sel endotel.

COVID-19 merusak sel endotel

Studi : COVID-19 Dapat Menyebabkan Disfungsi Ereksi

Dalam studi lainnya telah diketahui bahwa virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 ditemukan di dalam dinding pembuluh darah yang disebut endotelium. Serangan virus pada endotelium menyebabkan kerusakan sel endotel luas atau disfungsi endotel.

Disfungsi endotel adalah kondisi di mana lapisan pembuluh darah kecil gagal menjalankan semua fungsinya secara normal. Akibatnya jaringan organ yang seharusnya menerima suplai dari pembuluh tersebut bisa mengalami kerusakan.

“Kami menemukan bahwa virus ini memengaruhi aliran pembuluh darah yang mensuplai darah ke penis, sehingga menyebabkan disfungsi ereksi,” kata Direktur Program Urologi Reproduktif di Miller School of Medicine University of Miami sekaligus peneliti senior Dr. Ranjith Ramasamy. “Pembuluh darah tersebut kemudian tidak berfungsi dan tidak mampu memberikan cukup darah ke penis untuk ereksi.”

Ramasamy membandingkan kondisi disfungsi ereksi tersebut dengan kerusakan organ di paru-paru, ginjal, dan otak yang ditemukan pada banyak pasien COVID-19 yang juga berhubungan dengan kerusakan sel endotel.

“Kami pikir penis juga bisa terpengaruh dengan cara yang sama,” kata Ramasamy.

Ramasamy menyampaikan, meskipun kemungkinan hanya terjadi pada sedikit orang, efek jangka panjang dari COVID-19 ini perlu diwaspadai karena bisa bersifat permanen.

“Ini menunjukkan bahwa laki-laki yang terinfeksi COVID-19 harus menyadari bahwa disfungsi ereksi bisa menjadi efek buruk dari virus, dan harus segera periksa ke dokter jika mengalami gejala disfungsi ereksi,” kata Ramasamy.

Para ahli menekankan bahwa lebih banyak penelitian perlu dilakukan untuk mencari tahu lebih pasti hubungan infeksi COVID-19 dengan disfungsi ereksi pada laki-laki. Selain itu, temuan ini semakin mengingatkan kita betapa pentingnya mencegah diri dari terinfeksi COVID-19.

Mencegah efek COVID-19 jangka panjang

COVID-19 Dapat Menyebabkan Disfungsi Ereksi

Meskipun sebagian besar orang yang terinfeksi COVID-19 hanya mengalami gejala ringan bahkan tanpa gejala, ada beberapa efek jangka panjang yang dilaporkan bisa timbul setelah pulih.

Efek jangka panjang atau long COVID-19 saat ini memiliki nama resmi yakni Post Acute Sequelae Syndrome of SARS-CoV-2 atau PASC. Komplikasi jangka panjang setelah terinfeksi COVID-19 bisa berbeda-beda pada setiap orang, disfungsi ereksi saat ini mungkin menjadi salah satu diantaranya.

Menurut pusat pengendalian dan pencegahan penyakit Amerika (CDC), komplikasi jangka panjang setelah terinfeksi COVID-19 bisa berbeda-beda pada setiap orang, namun disfungsi ereksi tidak masuk dalam daftarnya. Seperti yang disampaikan Ramasamy, para ahli masih perlu mengkaji lebih lanjut mengenai hal ini.

Lawan COVID-19 bersama!

Ikuti informasi terbaru dan cerita para pejuang COVID-19 di sekitar kita. Ayo gabung komunitas sekarang!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber
  • Li D, Jin M, Bao P, Zhao W, Zhang S. Clinical Characteristics and Results of Semen Tests Among Men With Coronavirus Disease 2019. JAMA Netw Open. 2020;3(5):e208292. doi:10.1001/jamanetworkopen.2020.8292
  • Kresch, E., Achua, J., Saltzman, R., Khodamoradi, K., Arora, H., Ibrahim, E., Kryvenko, O., Almeida, V., Firdaus, F., Hare, J. and Ramasamy, R., 2021. COVID-19 Endothelial Dysfunction Can Cause Erectile Dysfunction: Histopathological, Immunohistochemical, and Ultrastructural Study of the Human Penis. The World Journal of Men’s Health, 39.
  • CDC. Post-COVID Conditions: Information for Healthcare Providers. Retrieved 15 April 2021 from: https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/hcp/clinical-care/post-covid-conditions.html
Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Ulfa Rahayu Diperbarui 27/05/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan