Tips Mencegah Hipotermia Saat Naik Gunung

Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 24/09/2019 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Hipotermia merupakan salah satu momok menakutkan bagi para pendaki. Hipotermia bisa menyerang kapan saja dan di mana saja, tidak peduli Anda adalah pendaki pemula atau pendaki kawakan yang sudah menaklukkan seven summits. CDC menyatakan sebanyak 1.301 kematian setiap tahunnya dalam kurun waktu 1999-2011 disebabkan oleh hipotermia dan komplikasinya. Angka ini bisa saja bertambah, karena kejadian hipotermia ini bagaikan puncak gunung es, dikarenakan tidak semua kejadian dilaporkan.

Hipotermia didefinisikan sebagai kegagalan untuk mengontrol temperatur tubuh dikarenakan adanya terpaan dingin dari luar tubuh. Hipotermia bisa terjadi saat suhu inti tubuh turun sampai di bawah 35oC. Pada pendaki, hal ini disebabkan temperatur di pegunungan yang dingin, angin, ataupun karena menggunakan pakaian basah dalam waktu yang lama. Berada dalam air dengan suhu 5-10oC selama 10 menit dapat menyebabkan hipotermia, menggunakan pakaian basah selama 1 jam di temperatur 0oC dengan angin kencang bisa menyebabkan hipotermia. Orang tua dan anak lebih rentan untuk terkena hipotermia, begitu pula dengan orang yang beraktivitas dalam kondisi dingin atau pengguna alkohol dan beberapa jenis obat tertentu.

Gejala hipotermia

Berdasarkan suhu tubuh penderita, gejala, dan tanda, hipotermia diklasifikasikan ke dalam 3 tingkatan, yaitu:

Ringan (stage of excitement)

Hipotermia ringan terjadi saat suhu tubuh berada di kisaran 32-35oC. Penderita akan tampak gemetar hebat, tekanan darah dan frekuensi denyut nadi akan meningkat, pada bagian akral seperti ujung jari kaki atau tangan akan terasa sakit dikarenakan pasokan darah yang berkurang. Awalnya penderita masih sadar, namun lama kelamaan akan nampak gelisah dan apatis.

Sedang (stage of exhaustion)

Pada hipotermia sedang, suhu tubuh turun sampai 28-32oC, cadangan glukosa berkurang sehingga kondisi gemetar pada tubuh penderita melambat, frekuensi denyut nadi akan menurun, kadang ditemukan gangguan pernapasan. Lama-kelamaan pasien akan berhalusinasi, tidak sadar, dan baal terhadap rasa sakit.

Berat (stage of paralysis)

Apabila suhu tubuh penderita menurun sampai di bawah 28oC, penderita akan jatuh dalam kondisi koma, pupil mata melebar dan tidak merespon cahaya, gangguan pada irama jantung, bahkan bisa sampai henti napas dan menyebabkan kematian.  

Hipotermia: perlu menghangatkan diri atau tidak?

Terdapat beberapa pandangan mengenai penanganan pertama pada penderita hipotermia. Menghangatkan tubuh penderita secara mendadak justru membahayakan. Suhu tubuh yang meningkat cepat bisa menyebabkan syok dan gangguan irama jantung, yang akan berujung pada gagal jantung. Sehingga, penanganan hipotermia harus dilakukan secara hati-hati dan disesuaikan dengan ringan-beratnya gejala yang dialami. Inti dari penanganan awal hipotermia adalah mengurangi pelepasan panas tubuh, dan menghangatkan penderita secara perlahan-lahan untuk menghindari komplikasi di atas.

Berikut langkah-langkah yang harus dilakukan jika rekan pendakian Anda mengalami hipotermia :

  • Selalu pantau pernapasan dan nadi penderita, berikan bantuan pernapasan bila diperlukan.
  • Ganti pakaian penderita dengan pakaian yang kering.
  • Bawa penderita ke tempat yang lebih hangat dan terhindar dari angin kencang.
  • Dirikan tenda di tempat yang rendah dan tertutup oleh pepohonan atau semak yang rimbun untuk mengurangi terpaan angin kencang. Untuk menghindari kontak langsung dengan tanah yang dingin, rekan pendakian bisa melapisi tanah terlebih dahulu dengan tumpukan dedaunan kering sebelum mendirikan tenda, dan melapisinya dengan matras setelah tenda didirikan.
  • Beberapa sleeping bag bisa berfungsi menahan panas dalam waktu yang singkat. Isi sleeping bag dengan orang sehat terlebih dahulu untuk menciptakan kondisi hangat dalam sleeping bag, kemudian baru masukkan penderita ke dalam sleeping bag.
  • Buat api unggun untuk menciptakan temperatur yang hangat di sekitar tenda, pastikan Anda tidak merusak alam atau membuat kebakaran dalam pembuatannya.
  • Apabila penderita masih sadar dan bisa minum, berikan minum hangat. Hindari pemberian alkohol atau kopi, karena bisa memperberat kondisi hipotermia.
  • Peluk penderita, dengan cara ini, kita bisa memberikan hangat tubuh kita kepada penderita. Hasil yang lebih baik bisa didapat apabila dilakukan secara skin-to-skin.
  • Masak air hangat, masukkan ke dalam botol kosong dan kompres di tubuh penderita, terutama di daerah kepala, leher, dada atau perut dan selangkangan.

Apabila kondisi penderita tidak membaik, hubungi tim medis untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Hipotermia merupakan kondisi yang membahayakan dalam pendakian. Pencegahan akan hipotermia tentu merupakan hal penting yang harus diketahui oleh para pendaki. Berikut hal yang bisa dipersiapkan :

  • Selalu membawa jas hujan dalam pendakian. Pakaian yang basah membuat Anda gampang terkena hipotermia
  • Gunakan pakaian yang tebal dan hangat. Jika ada, gunakan jaket wind-breaker untuk mengurangi panas tubuh yang hilang karena angin.
  • Gunakan sarung tangan, kaus kaki, syal, atau kupluk selama pendakian.
  • Makan dan minum hangat untuk menjaga tubuh agar tetap hangat.
  • Lakukan pemanasan, dan jangan berdiam diri saja, terutama saat berada di tempat dingin, agar panas tubuh tetap terjaga.

BACA JUGA:

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

    Apakah artikel ini membantu Anda?
    happy unhappy"
    Sumber

    Yang juga perlu Anda baca

    8 Hal yang Perlu Dipersiapkan Saat Keluar Rumah di Masa New Normal

    Ada beragam persiapan yang perlu dibawa saat beraktivitas di luar ruangan pada masa New Normal. Cari tahu daftar perlengkapan yang perlu disediakan.

    Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
    Ditulis oleh: Maria Amanda
    Konten Bersponsor
    persiapan saat new normal
    Hidup Sehat, Tips Sehat 29/07/2020 . Waktu baca 6 menit

    9 Cara Lindungi Diri Jalankan Hobi di Luar Ruang saat Adaptasi Kebiasaan Baru

    PSBB memang mulai longgar, tetapi tetap ikuti tips lindungi diri di adaptasi kebiasaan baru agar terhindar dari COVID-19, Sobat Sehat!

    Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
    Ditulis oleh: Willyson Eveiro
    Konten Bersponsor
    lindungi diri di adaptasi kebiasaan baru
    Hidup Sehat, Tips Sehat 29/07/2020 . Waktu baca 5 menit

    Hati-hati Penggunaan Obat Kortikosteroid Berlebihan

    Sering disebut "obat dewa" karena bisa menyembuhan alergi, gatal-gatal, hingga flu, obat kortikosteroid juga bisa berbahaya jika dipakai berlebihan.

    Ditulis oleh: dr. Angga Maulana
    Hidup Sehat, Tips Sehat 28/07/2020 . Waktu baca 4 menit

    Minum Madu Setelah Minum Obat, Boleh atau Tidak?

    Minum obat terus minum madu? Boleh atau tidak? Baiknya Anda simak penjelasan di sini mengenai bahaya dan anjuran saat minum madu.

    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Hidup Sehat, Tips Sehat, Fakta Unik 27/07/2020 . Waktu baca 3 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    mengatasi rambut kering

    5 Ramuan Alami Terbaik untuk Mengatasi Rambut Kering

    Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Dipublikasikan tanggal: 04/08/2020 . Waktu baca 4 menit
    Konten Bersponsor
    menghadapi kecemasan di new normal

    Tips Menghadapi Kecemasan Kembali Beraktivitas di Era New Normal

    Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
    Ditulis oleh: Willyson Eveiro
    Dipublikasikan tanggal: 03/08/2020 . Waktu baca 5 menit
    nutrisi untuk mencegah covid

    Penuhi Nutrisi Ini untuk Mencegah Penularan Coronavirus saat New Normal

    Ditulis oleh: Maria Amanda
    Dipublikasikan tanggal: 30/07/2020 . Waktu baca 9 menit
    Konten Bersponsor

    8 Tips Lari di Luar Ruangan saat Masa New Normal

    Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
    Ditulis oleh: Willyson Eveiro
    Dipublikasikan tanggal: 29/07/2020 . Waktu baca 5 menit