Satu kantong darah yang didonorkan bisa menyelamatkan tiga nyawa yang membutuhkan. Namun, sebelum itu ada banyak hal yang harus diperhatikan sebelum melakukan transfusi darah. Masing-masing kondisi yang perlu mendapatkan donor darah mungkin membutuhkan jenis komponen darah yang berbeda. Ada yang butuh keseluruhan darah, ada yang butuh hanya sel darah merah saja, yang perlu trombosit saja, atau sebagian dari plasma darahnya saja. Berikut penjelasan lebih lengkapnya.

Kebutuhan transfusi darah tergantung dari kondisi dan komponen darah yang diperlukan

Jika dilihat dengan mata telanjang saja, darah adalah cairan berwarna merah tua. Namun nyatanya ketika diteliti di bawah mikroskop, darah terdiri dari banyak komponen berbeda yaitu sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit), trombosit/platelet, dan plasma darah.

Umumnya ada lima jenis komponen darah yang dapat disalurkan lewat transfusi darah. Sebelum itu, darah donor yang terkumpul akan dikirim dulu ke laboratorium untuk diproses dan dibagi sesuai kebutuhan, misalnya kantong sel darah merah, plasma, platelet darah dan/atau cryoprecipitaten.

Jenis komponen darah yang diberikan dalam proses transfusi akan tergantung dari keperluan dan fungsinya.

1. Darah utuh (whole blood)

Sesuai dengan namanya, darah utuh komplet mengandung semua komponen darah, yaitu sel darah merah, sel darah putih dan platelet (~45% dari volume darah utuh) serta plasma darah (~55% dari volume darah utuh).

Transfusi darah utuh dibutuhkan untuk penggantian sel darah merah sesegera mungkin, misalnya pada kasus kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan cedera berat sehingga kehilangan darah sangat banyak (lebih dari 30% volume cairan tubuh).

Transfusi darah utuh juga dapat dilakukan untuk mengganti volume darah yang hilang dalam jumlah besar selama tindakan operasi.

2. Sel darah merah (Packed Red Cells/PRC)

Satu kantong PRC terdiri dari 150-220 mL sel darah merah tanpa adanya plasma darah sama sekali. Transfusi PRC terutama diperlukan untuk pasien anemia, termasuk anemia yang disebabkan oleh kehamilan dan melahirkan.

Orang-orang yang baru pulih dari operasi tertentu, korban kecelakaan, dan yang memiliki kelainan darah seperti thalassemia dan leukimia juga membutuhkan sumbangan sel darah merah dari donor.

Pedoman terbaru yang diterbitkan oleh AABB (American Association of Blood Banks) merekomendasikan transfusi PRC pada pasien rawat inap yang kondisinya stabil tapi dengan kadar hemoglobin darahnya (Hb) < 7 g/dL,  termasuk pasien ICU.

Sedangkan bagi pasien yang baru saja menjalani operasi dan memiliki riwayat penyakit jantung dianjurkan untuk mendapatkan transfusi darah apabila kadar Hbnya kurang dari 8 g/dL.

3. Konsentrat platelet (Platelet Concentrate/PC)

Platelet atau trombosit merupakan komponen darah yang tidak berwarna. Fungsi utamanya adalah untuk membantu proses pembekuan darah dengan cara menempel pada dinding-dinding pembuluh darah yang rusak.

Butuh beberapa donor sekaligus untuk mendapatkan sekantong platelet. Masa simpan donor platelet juga singkat.

Transfusi platelet biasa ditujukan bagi orang-orang yang mengalami gangguan pembentukan platelet oleh sumsum tulang belakang serta gangguan fungsi maupun jumlah platelet lainnya.

4. FFP (Fresh Frozen Plasma)

FFP adalah komponen darah yang berwarna kekuningan. FFP merupakan produk darah yang diproses dari darah utuh. FFP mengandung komponen plasma darah yang padat akan faktor pembekuan darah, albumin, imunoglobulin, dan faktor VIII (salah satu faktor pembekuan darah yang terdapat dalam plasma).

FFP dapat bermanfaat bagi orang-orang yang mengalami gangguan pembekuan darah serta untuk mencegah terjadinya perdarahan yang berlebih pada pengguna obat pengencer darah (antikoagulan) yang akan menjalani operasi.

5. Cryo-AHF (Cryoprecipitated Anti Haemolytic Factor)

Cryo-AHF alias cryoprecipitaten adalah bagian plasma darah yang sangat kaya dengan faktor pembekuan seperti fibrinogen dan faktor VIII.

Komponen darah ini digunakan secara selektif untuk orang-orang dengan kelainan faktor pembekuan darah, seperti hemofilia tipe A (defisiensi faktor VIII) atau pun Von Willdebrand disease (salah satu jenis kelainan darah turunan).

Langkah transfusi yang aman

Transfusi darah merupakan salah satu tindakan medis yang memiliki banyak risiko. Maka, pemberiannya harus langsung di bawah pengawasan petugas medis. Volume darah yang disalurkan pun tidak bisa sembarangan, karena harus disesuaikan dengan kebutuhan serta kemampuan tubuh untuk menerima komponen darah tersebut.

Untuk memastikan transfusi berjalan secara aman, biasanya petugas medis akan melakukan pengecekan terhadap label yang tertera pada komponen darah dan memonitor tanda-tanda vital pasien dengan lebih intensif.

Masing-masing komponen sel darah memiliki rentang waktu yang berbeda sebelum komponen tersebut mengalami kerusakan. Hal tersebut mempengaruhi kecepatan komponen darah yang ditransfusikan ke dalam tubuh Anda. Sel darah merah (PRC) misalnya, harus habis dalam waktu 4 jam setelah dikeluarkan dari tempat penyimpanan darah, sedangkan FFP dan platelet harus habis dalam waktu kurang lebih 30 menit.

Pada saat transfusi darah berlangsung, perhatikan apakah muncul reaksi-reaksi alergi seperti menggigil, kemerahan, gatal-gatal, sesak atau gelisah. Sebagian besar gejala tersebut akan muncul dalam 15 menit pertama dalam pemberian transfusi darah. Jika muncul, segera laporkan ke dokter untuk mendapat penanganan yang tepat.

Baca Juga:

Sumber
Ingin hidup lebih sehat dan bahagia?
Dapatkan update terbaru dari Hello Sehat seputar tips dan info kesehatan
Yang juga perlu Anda baca