Kapan Saja Kita Harus Terima Transfusi Darah?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 11 Agustus 2020 . Waktu baca 8 menit
Bagikan sekarang

Transfusi darah terkadang dibutuhkan seseorang ketika sedang mengalami tindakan medis. Saking pentingnya, sering kali transfusi darah dapat menyelamatkan nyawa seseorang. Namun transfusi tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Masing-masing kondisi mungkin membutuhkan jenis komponen darah yang berbeda. Ada yang butuh keseluruhan darah, ada yang butuh hanya sel darah merah saja, yang perlu trombosit saja, atau sebagian dari plasma darah saja. Berikut penjelasan lengkapnya.

Apa saja jenis komponen darah yang diberikan dalam proses transfusi?

Jika dilihat dengan mata telanjang, darah adalah cairan berwarna merah tua. Namun, nyatanya ketika diteliti di bawah mikroskop, darah terdiri dari banyak komponen berbeda yaitu sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit), trombosit/platelet, dan plasma darah.

Umumnya ada lima jenis komponen darah yang dapat disalurkan lewat prosedur ini. Sebelum itu, darah donor yang terkumpul akan dikirim dulu ke laboratorium untuk diproses dan dibagi sesuai kebutuhan, misalnya kantong sel darah merah, plasma, platelet darah dan/atau cryoprecipitate.

Jenis komponen darah yang diberikan dalam proses transfusi akan tergantung dari keperluan dan fungsinya.

1. Darah utuh (whole blood)

mempersiapkan transfusi darah

Sesuai dengan namanya, darah utuh komplit mengandung semua komponen darah, yaitu sel darah merah, sel darah putih dan platelet (~45% dari volume darah utuh) serta plasma darah (~55% dari volume darah utuh).

Transfusi darah utuh dibutuhkan untuk penggantian sel darah merah sesegera mungkin, misalnya pada kasus kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan cedera berat sehingga kehilangan darah sangat banyak (lebih dari 30% volume cairan tubuh).

Transfusi darah utuh juga dapat dilakukan untuk mengganti volume darah yang hilang dalam jumlah besar selama tindakan operasi.

2. Sel darah merah (Packed Red Cells/PRC)

Penularan hepatitis C melalui ransfusi darah

Satu kantong PRC terdiri dari 150-220 mL sel darah merah tanpa adanya plasma darah sama sekali. Transfusi PRC terutama diperlukan untuk pasien anemia, termasuk anemia yang disebabkan oleh kehamilan dan melahirkan.

Orang-orang yang baru pulih dari operasi tertentu, korban kecelakaan, dan yang memiliki kelainan darah seperti talasemia dan leukimia juga membutuhkan sumbangan sel darah merah dari donor.

Pedoman terbaru yang diterbitkan oleh AABB (American Association of Blood Banks) merekomendasikan transfusi PRC pada pasien rawat inap yang kondisinya stabil tapi dengan kadar hemoglobin darahnya (Hb) < 7 g/dL,  termasuk pasien ICU.

Sementara itu, pasien yang baru saja menjalani operasi dan memiliki riwayat penyakit jantung dianjurkan untuk mendapatkan transfusi darah apabila kadar Hbnya kurang dari 8 g/dL.

3. Konsentrat platelet (Platelet Concentrate/PC)

Penularan virus hepatitis B melalui transfusi darah

Platelet atau trombosit merupakan komponen darah yang tidak berwarna. Fungsi utamanya adalah untuk membantu proses pembekuan darah dengan cara menempel pada dinding-dinding pembuluh darah yang rusak.

Butuh beberapa donor sekaligus untuk mendapatkan sekantong platelet. Masa simpan donor platelet juga singkat.

Prosedur ini biasa ditujukan bagi orang-orang yang mengalami gangguan pembentukan platelet oleh sumsum tulang belakang serta gangguan fungsi maupun jumlah platelet lainnya.

4. FFP (Fresh Frozen Plasma)

Plasma darah

FFP adalah komponen darah yang berwarna kekuningan. FFP merupakan produk darah yang diproses dari darah utuh. FFP mengandung komponen plasma darah yang padat akan faktor pembekuan darah, albumin, imunoglobulin, dan faktor VIII (salah satu faktor pembekuan darah yang terdapat dalam plasma).

FFP dapat bermanfaat bagi orang-orang yang mengalami gangguan pembekuan darah serta untuk mencegah terjadinya perdarahan yang berlebih pada pengguna obat pengencer darah (antikoagulan) yang akan menjalani operasi.

5. Cryo-AHF (Cryoprecipitated Anti Haemolytic Factor)

Kantung plasma darah

Cryo-AHF alias cryoprecipitate adalah bagian plasma darah yang sangat kaya dengan faktor pembekuan seperti fibrinogen dan faktor VIII.

Komponen darah ini digunakan secara selektif untuk orang-orang dengan kelainan faktor pembekuan darah, seperti hemofilia tipe A (defisiensi faktor VIII) atau pun Von Willdebrand disease (salah satu jenis kelainan darah turunan).

Apa saja yang harus saya siapkan sebelum melakukan transfusi darah?

Trnasfusi darah

Pasien yang harus melakukan transfusi darah sebenarnya tidak perlu menyiapkan apapun. Hanya saja, sebelum dilakukan transfusi darah, golongan dan jenis darah pasien harus diketahui dulu. Hal ini dapat diketahui dengan cara memeriksa darah di laboratorium.

Sehingga, sebelum Anda melakukan transfusi, maka darah Anda akan diambil sedikit untuk menjadi sampel dan diperiksa lebih lanjut. Tak hanya itu, biasanya tim medis akan mengecek kondisi kesehatan Anda secara umum, dengan mengukur tekanan darah, suhu tubuh, dan detak jantung Anda.

Selain itu, Anda juga dapat mengonsumsi makanan tinggi gizi dan kalori agar mempercepat pemulihan kesehatan. Jika Anda mengalami anemia, Anda dapat mengonsumsi makanan seperti daging ayam, daging sapi, hati, dan berbagai sayuran yang berdaun hijau tua. 

Seperti apa proses transfusi darah?

Trnasfusi darah

Transfusi darah merupakan salah satu tindakan medis yang memiliki banyak risiko. Maka, pemberiannya harus langsung di bawah pengawasan petugas medis. Volume darah yang disalurkan pun tidak bisa sembarangan, karena harus disesuaikan dengan kebutuhan serta kemampuan tubuh untuk menerima komponen darah tersebut.

Prosedur ini dilakukan dengan cara memasukkan darah ke dalam tubuh melalui jarum yang selangnya terhubung ke kantung darah. tidak jauh beda ketika Anda diinfus, tindakan medis ini pun dilakukan dengan cara ini. Tindakan ini akan memakan waktu sekitar 30 menit hingga 4 jam, tergantung seberapa banyak kantung darah yang Anda perlu masuk ke dalam tubuh Anda.

Parameter transfusi

Sebagian besar rumah sakit memiliki aturan mengenai tingkat seberapa rendah sel darah merah sebelum pasien dinyatakan perlu mendapat transfusi darah. Aturan ini disebut juga parameter transfusi darah.

Penelitian menunjukkan bahwa tidak melakukan transfusi darah sebelum seseorang memiliki tingkat hemoglobin antara 7 dan 8 gram per desiliter (g/dL) dapat menurunnya angka kematian, durasi tinggal di rumah sakit yang lebih singkat, dan pemulihan yang lebih cepat.

Penelitian lain menemukan bahwa menahan transfusi darah pada pasien hingga tingkat hemoglobin berada pada parameter 7 atau 8 g/dL menghasilkan manfaat yang lebih baik sekaligus menurunkan biaya pengobatan.

Batas transfusi darah

Batas transfusi darah bergantung pada beberapa faktor dan bertujuan untuk menghindari efek samping atau komplikasi. Transfusi darah masif berpotensi menyebabkan komplikasi. Transfusi darah masif adalah ketika pasien mendapat 4 unit sel darah merah dalam satu jam, atau lebih dari 10 unit dalam 24 jam.

Komplikasi yang berpotensi terjadi di antaranya:

  • Kelainan elektrolit
  • Hipotermia (suhu tubuh rendah)
  • Penggumpalan darah
  • Asidosis metabolik, di mana cairan tubuh mengandung terlalu banyak asam
  • Stroke atau serangan jantung

Namun, transfusi masif tetap dibutuhkan untuk sebagian kondisi kesehatan, seperti:

  • Setelah trauma (seperti kecelakaan)
  • Terjadi pendarahan setelah operasi bypass pada jantung
  • Setelah perdarahan postpartum

Apa yang terjadi setelah prosedur berlangsung?

Setelah melawati prosedur tersebut, petugas kesehatan akan memeriksa tanda-tanda vital dalam tubuh Anda. Dalam proses ini, temperatur dan tekanan darah Anda mungkin akan dipantau.

Dikutip dari Hopkins Medicine, Anda mungkin diperbolehkan langsung pulang setelah melakukan transfusi darah. Anda juga akan segera melakukan aktivitas secara normal dan menjalani pola makan, seperti biasanya.

Lokasi penusukan jarum di lengan Anda akan terasa sakit selama beberapa waktu. Segera beri tahu pertugas kesehatan jika Anda mengalami gejala berupa demam, kesulitan bernapas, bengkak pada lokasi jarum, dan gejala lainnya.

Setelah itu, Anda mungkin akan diminta melakukan tes darah lanjutan. Proses ini dilakukan untuk mengetahui respons tubuh Anda terhadap transfusi yang baru Anda lewati.

Apakah ada efek samping dari transfusi darah?

Trnasfusi darah

Sejauh ini, jika transfusi  dilakukan berdasarkan standar medis yang benar, tidak akan membahayakan kesehatan sama sekali. Mungkin, Anda akan merasakan efek samping yang ringan, seperti:

  • Sakit kepala
  • Demam
  • Merasa gatal-gatal
  • Sedikit susah untuk bernapas
  • Kulit memerah

Sedangkan efek samping yang jarang muncul – namun tetap bisa terjadi – setelah melakukan hal ini yaitu:

  • Susah bernapas
  • Sakit pada dada
  • Tiba-tiba tekanan darah menurun

Bila Anda telah menjalani transfusi darah lebih dari satu kali, kemungkinan untuk terjadinya gangguan pada sistem kekebalan tubuh lebih besar. Hal ini disebabkan karena reaksi sistem kekebalan Anda terhadap darah yang baru saja masuk ke dalam tubuh. Namun, kondisi ini jarang terjadi dan bisa dicegah dengan mengecek tipe darah Anda sebelumnya, sehingga darah yang ditransfusikan sudah pasti cocok dengan tubuh.

Jika Anda mengalami atau merasakan suatu gejala atau gangguan kesehatan selama prosedur berlangsung, maka jangan ragu untuk memberitahukan tim medis yang menangani Anda.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Apakah Semua Pasien DBD Perlu Transfusi Ketika Trombosit Turun?

Dalam kondisi tertentu, pasien DBD memerlukan transfusi darah karena trombosit turun. Adapun cara untuk meningkatkan trombosit dengan cara yang alami.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Maria Amanda
Penyakit Musiman, Health Centers 7 April 2020 . Waktu baca 6 menit

Adakah Batas Maksimal untuk Transfusi Darah?

Setiap orang membutuhkan transfusi darah ketika dalam situasi kronis. Namun, adakah batas maksimal transfusi darah? Apakah ada aturan tentang hal ini?

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Hidup Sehat, Fakta Unik 23 Maret 2020 . Waktu baca 4 menit

7 Cara Mencegah Anemia yang Perlu Anda Lakukan

Salah satu upaya pencegahan anemia yang umum adalah konsumsi zat besi. Namun, tak hanya itu, ada vitamin dan cara lain yang juga dapat mencegah anemia.

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Anemia, Health Centers 26 Februari 2020 . Waktu baca 7 menit

Anemia Gravis

Anemia gravis adalah jenis anemia berat yang bisa menimbulkan komplikasi berupa kerusakan organ tubuh jika tidak ditangani segera.

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Novita Joseph
Penyakit A-Z, Kesehatan A-Z 16 Januari 2020 . Waktu baca 7 menit

Direkomendasikan untuk Anda

mempersiapkan transfusi darah

Hal yang Perlu Anda Ketahui Sebelum Menjalani Tranfusi Darah

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 2 September 2020 . Waktu baca 4 menit
anemia rash

Hal yang Perlu Anda Ketahui Mengenai Anemia Rash

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Dipublikasikan tanggal: 29 Juni 2020 . Waktu baca 4 menit
pantangan penderita anemia g6pd

5 Hal yang Perlu Dihindari Jika Anda Menderita Anemia Defisiensi G6PD

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 24 Mei 2020 . Waktu baca 4 menit
mengobati thalassemia

Apakah Pengidap Thalassemia Bisa Sembuh Total?

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Dipublikasikan tanggal: 10 April 2020 . Waktu baca 5 menit