Bahaya Efusi Perikardium, Saat Jantung ‘Terendam’ Air

Oleh

Apakah Anda pernah mendengar penyakit di mana jantung terendam dengan air? Hal ini terjadi jika Anda mengalami efusi perikardium.

Apa itu perikardium?

Perikardium adalah selaput atau membran yang melapisi jantung dan akar pembuluh darah. Perikardium terdiri dari jaringan lapis berganda yang diharapkan bisa kuat menjaga jantung dari berbagai gangguan. Tidak hanya itu, perikardium juga berperan dalam menstabilkan gerakan jantung serta menjaga jantung tidak menjadi tumbuh lebih besar dengan cara membatasi ruang tumbuhnya.

Di antara jantung dengan lapisan perikardium, terdapat cairan yang disebut sebagai cairan perikardium. Cairan ini berguna untuk melumasi jantung saat bergerak, sehingga ketika jantung memompa darah tidak terjadi gesekan yang dapat menyebabkan masalah pada jantung.

Lalu bagaimana bisa jantung terendam dengan cairan perikardium? Apakah hal ini berbahaya? Apa saja gejalanya?

Apa itu efusi perikardium?

Efusi perikardium adalah penumpukan cairan yang melebihi kadar normal pada perikardium jantung. Normalnya cairan yang terdapat di lapisan perikardium hanya sekitar 15 hingga 50 ml. Sementara pada efusi perikardium, cairan yang ada di dalam lapisan tersebut bisa mencapai 100 ml bahkan 2 liter.

BACA JUGA: Penyebab Miokarditis, Penyakit Jantung yang Menyerang Anak Muda

Apa penyebab efusi perikardium?

Penyebab penumpukan cairan tergantung dengan berbagai kondisi serta masalah kesehatan yang terjadi sebelumnya. Hanya sekitar 30% kasus efusi perikardium yang tidak diketahui penyebabnya. Sedangkan sebagian besar efusi perikardium terjadi karena adanya peradangan pada perikardium jantung. Selain itu, kondisi ini juga diakibatkan oleh aliran cairan perikardium tersumbat atau aliran darah yang terakumulasi di bagian perikardium karena trauma pada bagian dada. 

Tidak hanya itu, beberapa kondisi dan masalah kesehatan yang juga bisa menyebabkan efusi perikardium adalah:

  • Peradangan pada perikardium akibat serangan jantung atau pernah mengalami operasi bagian jantung.
  • Penyakit autoimmune, seperti rematik atau lupus.
  • Kanker yang sudah menyebar, seperti kanker paru-paru, kanker payudara, melanoma, leukimia, non-Hodgkin’s lymphoma.
  • Menjalani kemoterapi – pengobatan kanker – dengan pemberian obat doxorubicin dan cyclophosphamide.
  • gangguan pada fungsi ginjal, seperti uremia dan gagal ginjal
  • mengalami hipotirodisme
  • infeksi dari virus, seperti virus HIV dan virus hepatitis.  

Siapa saja yang bisa mengalami efusi perikardium?

Karena efusi perikardium merupakan komplikasi dari kondisi kesehatan lainnya, maka siapapun yang memiliki gangguan serta kondisi yang bisa menyebabkan efusi perikardium bisa mengalaminya. Efusi perikardium bisa menjadi akut – datang dengan tiba-tiba – ataupun kronis, yaitu terjadi setidaknya selama 3 bulan.

BACA JUGA: Berbagai Penyebab Jantung Anda Bengkak

Apakah efusi perikardium berbahaya?

Tingkat keparahan atau serius tergantung dengan kondisi kesehatan yang menyebabkan efusi perikardium itu terjadi. Jika penyebab yang mengakibatkan efusi perikardium terjadi dapat diatasi, maka penderita akan bebas dan sembuh dari efusi perikardium. Efusi perikardium yang disebabkan oleh kondisi kesehatan tertentu seperti kanker, harus segera ditangani dengan baik karena akan mempengaruhi pengobatan kanker yang sedang dilakukan.

Apabila efusi perikardium tidak ditangani dan semakin parah, maka akan timbul kondisi kesehatan lain yang disebut dengan cardiac tamponade. Cardiac tamponade  adalah kondisi di mana sirkulasi darah tidak berjalan dengan baik dan banyak jaringan serta organ yang tidak mendapatkan oksigen akibat cairan yang terlalu banyak menekan bagian jantung. Tentu saja hal ini sangat berbahaya, bahkan dapat menyebabkan kematian.

Apa gejala dan tanda jika mengalami efusi perikardium?

Tidak jarang, ada yang mengalami efusi perikardium tetapi tidak merasakan gejala dan tanda apapun. Pada dasarnya, perikardium akan meregang untuk menampung lebih banyak cairan. Ketika cairan belum sampai memenuhi ruang perikardium yang meregang maka tanda dan gejala biasanya tidak muncul. Gejala akan terjadi ketika cairan yang ada di dalam perikardium sudah terlalu banyak, sehingga menekan berbagai organ di sekitarnya seperti paru-paru, lambung, serta sistem saraf yang ada di sekitar dada.

Jika memang efusi perikardium yang dialami cukup parah, karena volume cairan yang cukup tinggi, maka gejala yang akan ditimbulkan adalah:

  • Susah bernapas atau napas menjadi pendek
  • Merasa tidak nyaman ketika bernapas
  • Sakit pada dada, terutama pada bagian kiri dada
  • Dada terasa penuh dan tertekan
  • Kesulitan untuk menelan
  • Mual, muntah, dan diare
  • Sakit pada bagian otot
  • Demam serta kelelahan

BACA JUGA: Sering Menguap Bisa Jadi Tanda Gangguan Jantung

Bagaimana cara mendiagnosis efusi perikardium?

Berbagai pemeriksaan fisik dapat dilakukan untuk mengetahui apakah cairan yang ada di dalam perikardium itu normal atau tidak. Berikut adalah pemeriksaan yang biasa dilakukan:

  • Rontgen bagian dada
  • CT scan dada
  • MRI
  • Echocardiogram

Lalu, bagaimana cara menangani efusi perikardium?

Lagi-lagi, penanganan untuk efusi perkardium tergantung dengan penyebab dan seberapa parah kondisinya. Jika efusi perikardium yang terjadi cukup ringan dan tidak menimbulkan gejala apapun seperti efusi perikardium yang diakibatkan oleh gagal ginjal, maka tidak ada penanganan khusus untuk mengobatinya. Yang diperlukan adalah mengatasi gagal ginjal yang sedang terjadi saat itu.

Jika efusi perikardium terjadi karena infeksi virus, maka dokter biasanya akan menghilangkan virus dan bakteri tersebut dengan cara memberikan obat-obatan, seperti obat anti-peradangan nonstreoid. Namun jika efusi perikardium sudah menyebabkan cardiac tamponade, maka dapat dilakukan operasi untuk mengambil cairan yang ada di dalam perikardium.

Sumber