3 Dampak Obesitas Terhadap Kesehatan Tulang Anda

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum

Obesitas bisa ditandai dengan nilai indeks massa tubuh lebih besar dari angka 27. Selain penyakit jantung dan pembuluh darah, dampak obesitas juga bisa merambat ke mana-mana. Obesitas bisa berdampak juga pada kondisi kesehatan tulang, lho. Bagaimana obesitas memengaruhi kondisi tulang? Apa saja bentuk dampak yang bisa terjadi? Ini dia ulasannya.

Obesitas bisa menurunkan kepadatan tulang

Penelitian menunjukan bahwa obesitas akan mengurangi kepadatan tulang serta meningkatkan risiko untuk mengalami patah tulang. Pada dasarnya, tulang memiliki kemampuan untuk selalu memperbarui diri. Caranya yaitu dengan menghancurkan jaringan tulang yang sudah rusak dengan sel osteoklas, dan membangun jaringan tulang baru dengan sel osteoblas. Jika kecepatan keduanya berjalan dengan seimbang, tulang Anda akan senantiasa padat dan kuat.

Namun, pada orang obesitas, biasanya kecepatan memperbarui jaringan tulang ini tidak seimbang.

Dilansir dari laman Healthline, kecepatan membangun jaringan baru tulang cenderung berkurang pada kelompok yang obesitas. Sementara itu, pada proses penghancuran jaringan tulang justru meningkat 3 kali lipat lebih cepat pada kelompok yang obesitas. Lebih banyaknya proses penghancuran dibandingkan pembentukan alhasil membuat kepadatan tulang semakin berkurang. Jika kepadatan tulang menurun, tentunya tulang lebih mudah cedera atau patah.

Seberapa besar dampak obesitas bagi tulang?

Obesitas osteosarcopenic adalah kondisi memburuknya kepadatan tulang dan massa otot sekaligus yang terkait dengan penumpukan lemak berlebihan di dalam tubuh. Umumnya ini terjadi pada orang dewasa dan lanjut usia.

Menurut Dr. Michael Drey, M.Sc. seorang ahli osteosarcopenia, dari Medizinische Klinik und Poliklinik IV, di Klinikum der Universitat Munchen, obesitas osteosarcopenic diduga akan menjadi perhatian paling penting di masa depan, sebab ada tiga kondisi kesehatan yang menjadi satu sekaligus. Tiga kondisi tersebut adalah osteoporosis (kehilangan massa tulang), sarcopenia (kehilangan massa otot), dan obesitas. 

Menurut Jasminka Ilich-Ernst, seorang profesor bidang gizi di Florida State University, obesitas bukan hanya membuat tubuh orang berisiko tinggi mengalami masalah kesehatan jantung dan pembuluh darah, tapi juga menyebabkan masalah tulang. Memang kebanyakan penelitian melihat efek obesitas pada kasus metabolik dibandingkan kasus pada tulang. Akan tetapi, dampak obesitas pada tulang tak bisa disepelekan.

Ilich-Ernst mengatakan bahwa jaringan lemak memiliki dampak negatif terhadap kepadatan tulang, kekuatan otot, dan juga meningkatkan efek peradangan. Apalagi lemak di peru yang bersifat lebih beracun daripada di bagian lainnya.

Perubahan gaya hidup adalah salah satu cara yang bisa mencegah atau menunda terjadinya obesitas osteosarcopenic ini agar berat badan bisa terjaga keseimbangannya dan risiko mengalami masalah pada tulang dan otot lebih kecil. Tidak ada perawatan atau obat-obatan yang khusus dalam kasus ini, selain dengan menjaga asupan makanan dan olahraga.

Bukan hanya pada orang dewasa, obesitas berdampak pada kesehatan tulang anak

1. Lebih berisiko patah tulang dan bertubuh pendek

Sama seperti orang dewasa, anak yang obesitas juga memiliki peluang lebih besar mengalami patah tulang. Dilansir dalam News Medical Life Science, anak yang obesitas lebih cenderung mengalami patah tulang seringnya pada bagian growth plate mereka. Growth plate adalah area jaringan tumbuh di ujung tulang panjang. Area jaringan ini yang menghasilkan jaringan tulang-tulang baru sehingga tulang anak bisa semakin panjang, sehingga anak bisa semakin tinggi. Tulang panjang contohnya di bagian kaki dan lengan.

Patah tulang di bagian growth plate membuat fungsi jaringan ini tidak optimal. Kondisi ini tentunya mengganggu proses pemanjangan tulang yang dapat menghasilkan tinggi badan anak kurang secara permanen, tulang bengkok atau bahkan arthritis.

2. Telapak kaki datar

Dampak obesitas juga berpengaruh terhadap telapak kaki anak. Anak-anak yang obesitas seringnya memiliki telapak kaki datar. Kondisi ini membuat mereka menjadi lebih mudah lelah saat berjalan jauh. Anak dengan kaki datar sebaiknya melakukan latihan peregangan yang terfokus pada tendon di bagian tumit, menggunakan alas kaki sepatu khusus untuk memperbaiki bentuk kaki, dan pengaturan berat badan agar mengurangi beban yang semakin berat.

3. Gangguan perkembangan koordinasi

Menurut American Academy of Orthopaedic Surgeons, anak-anak yang mengalami obesitas seringkali mengalami kesulitan dalam gerakan mereka, contoh gejalanya seperti:

  • Anak mengalami masalah dengan gerakan motorik kasar seperti, gerakan melompat, berdiri dengan satu kaki
  • Masalah dengan motorik halus seperti menulis, menggunting, mengikat tali sepatu

Kondisi gangguan perkembangan koordinasi ini dapat mengganggu atau membatasi kemampuan anak berolahraga. Hal ini berpotensi membuat berat badan anak mengalami pertambahan berat badan lagi.

Baca Juga:

Sumber