Bagaimana Seks Bisa Bantu Meringankan Gejala Parkinson?

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 03/12/2019
Bagikan sekarang

Penyakit Parkinson adalah gangguan fungsi otak yang mengacaukan koordinasi gerak tubuh. Pengidap Parkinson akan merasa kesulitan untuk mengatur pergerakan tubuh, termasuk saat berjalan, menulis, dan bahkan berbicara. Parkinson termasuk penyakit kronis yang tidak dapat disembuhkan. Penanganan medis yang ada hanya untuk mengurangi keparahan gejalanya. Lantas, benarkah anggapan bahwa seks mampu meringankan gejala Parkinson?

Seks dipercaya meringankan gejala Parkinson

Manfaat seks untuk mengurangi keparahan gejala Parkinson ternyata telah dibuktikan oleh penelitian Picillo dkk yang diterbitkan dalam European Journal of Neurology.

Picillo dkk mengamati 355 penderita Parkinson stadium awal yang berusia lebih dari 57 tahun. Subyek penelitian diminta untuk melakukan tes kemampuan motorik dan skrining kesehatan mental.

Setelah selesai, mereka diwawancarai terkait kondisi kesehatan secara menyeluruh dan riwayat aktivitas seks dalam setahun terakhir.

Hasilnya disimpulkan bahwa gejala pada pria penderita Parkinson tahap awal yang aktif berhubungan seks tidak berkembang semakin parah. Bahkan, pria-pria tersebut juga tidak kehilangan keterampilan motoriknya.

Sayangnya, hasil penelitian hanya berlaku untuk penderita Parkinson yang berjenis kelamin pria.

Kenapa bisa begitu?

Peneliti belum tahu pasti alasan kenapa hanya pria yang dapat merasakan manfaat ini sehingga hasil penelitian belum dapat dijadikan acuan.

Meski begitu, dr. Adolfo Ramirez-Zamora, seorang profesor neurologi dan pakar dari Parkinson’s Foundation menyebutkan hasil penelitian tersebut sejalan dengan teori yang telah lama dipercaya.

Teori yang dimaksud menyatakan peningkatan fungsi seksual mampu meningkatkan kesenangan, komunikasi, dan kepuasan pasangan sehingga berdampak positif pada keintiman hubungan.

Pada akhirnya, peningkatan fungsi seks diharapkan berpotensi menurunkan stres hingga mengurangi gejala penyakit Parkinson.

Tapi, obat Parkinson bisa sebabkan kecanduan seks

Meski sudah dibuktikan melalui penelitian, manfaat aktivitas seks terhadap berkurangnya gejala parkinson perlu diteliti lebih lanjut.

Terlebih tanpa disadari, penggunaan obat Parkinson, khususnya pramipexole (Mirapex) dan ropinirole (Requip), dapat memicu kecanduan seks. Kenapa?

Obat Parkinson tersebut membantu mengaktifkan reseptor otak yang menghasilkan dopamin. Dopamin adalah senyawa kimia yang bertugas untuk menyampaikan rangsangan ke seluruh tubuh, termasuk rangsangan seksual. Di sisi lain, dopamin juga bertanggung jawab memicu perilaku yang bersifat adiktif dan kompulsif.

Risiko kecanduan seks yang timbul sebagai efek samping obat Parkinson telah diteliti oleh Dr. Daniel Weintraud dari Universitas Pennsylvania, Amerika Serikat. Hasilnya, sekitar 13,6 persen penderita Parkinson yang menggunakan obat ini terlihat mengalami gangguan kontrol impulsif.

Gangguan tersebut meliputi keinginan belanja yang tidak terkendali (5,7 persen), kecanduan berjudi (5 persen), binge eating (4,3 persen), dan kecanduan seks (3,5 persen).

Maka, Anda sebaiknya tetap rutin kontrol ke dokter jika sedang diresepkan obat untuk mengatasi gejala Parkinson. Laporkan ke dokter jika Anda merasakan perubahan yang tidak biasa, baik pada tubuh maupun pikiran.

Dengan begitu, dokter dapat memutuskan apakah harus menurunkan dosis atau mengganti obatnya agar Anda terhindari dari risiko efek samping yang mungkin malah makin merugikan kesehatan..

You are already subscribed to notifications.

Baca Juga:

Sumber

WebMD. Is Sex Good Medicine for Parkinson's?. https://www.webmd.com/parkinsons-disease/news/20190715/is-sex-good-medicine-for-parkinsons#2, diakses pada 26/07/2017 pukul 14.50 WIB.

MayoClinic. Parkinson's Disease. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/parkinsons-disease/symptoms-causes/syc-20376055, diakses pada 26/07/2019 pukul 15.20 WIB.

NCBI. Impulse Control and Related Disorders in Parkinson's Disease. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/28802938, diakses pada 26/07/2019 pukul 19.23 WIB.

Yang juga perlu Anda baca

Cara Mudah Mengatasi dan Mencegah Pegal Linu Pada Lansia

Keluhan yang umumnya dilontarkan ketika sudah lanjut usia adalah pegal linu. Tak perlu cemas, begini cara mengatasi pegal linu dengan mudah.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. Ivena

Mengenal Glasgow Coma Scale (GCS), Penilaian Tingkat Kesadaran Manusia

Meski Glasgow Coma Scale (GCS) terbilang sederhana, namun metode ini efektif untuk merekam tingkat kesadaran seseorang setelah mengalami cedera kepala.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari

4 Tips Agar Bercinta Makin Enak Dengan Posisi Doggy Style

Agar tidak cepat bosan di ranjang, tidak ada salahnya untuk mencoba posisi seks doggy style yang lebih liar. Intip dulu tips antigagalnya di artikel ini!

Ditinjau secara medis oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini

Ternyata Orang yang Indra Penciumannya Peka Seksnya Lebih Memuaskan

Punya indra penciuman atau hidung yang peka ternyata banyak untungnya! Salah satunya, seks jadi lebih nikmat dan menggairahkan. Kenapa bisa begitu, ya?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini

Direkomendasikan untuk Anda

Manfaat Terapi Musik untuk Pasien Penyakit Parkinson

Manfaat Terapi Musik untuk Pasien Penyakit Parkinson

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Dipublikasikan tanggal: 23/05/2020
Penyakit Parkinson, Berbahaya Tidak, Ya?

Penyakit Parkinson, Berbahaya Tidak, Ya?

Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Dipublikasikan tanggal: 12/09/2019
Orang Dengan Parkinson Bisa Hidup Sehat dan Normal, Kok! Begini 5 Cara Mudahnya

Orang Dengan Parkinson Bisa Hidup Sehat dan Normal, Kok! Begini 5 Cara Mudahnya

Ditinjau secara medis oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 16/05/2019
Seks Karezza, Nikmat dan Mesra Tanpa Perlu Orgasme

Seks Karezza, Nikmat dan Mesra Tanpa Perlu Orgasme

Ditinjau secara medis oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Dipublikasikan tanggal: 25/01/2019