Apa yang Sebenarnya Terjadi Selama Terapi Seks?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 25 Februari 2018 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Terapi seks dapat membantu mengatasi berbagai masalah seksual, mulai dari disfungsi seksual seperti impotensi dan anorgasmia (sulit/tidak bisa orgasme), libido rendah, hingga kecanduan seks.

Saat ini banyak orang masih yang beranggapan negatif ketika mendengar kata terapi seks. Tidak jarang juga yang mengaitkannya dengan kegiatan cabul atau iklan prostitusi. Padahal, yang terjadi selama terapi tersebut tidak seperti apa yang Anda bayangkan. Namun, apa yang terjadi selama terapi ini?

Terapi seks sama seperti konsultasi dengan psikolog pada umumnya

Jalannya terapi seks tidak jauh berbeda dengan konsultasi dengan psikolog untuk masalah psikologis pada umumnya. Pada saat konseling psikologis, terapis atau konselor biasanya akan menanyakan beberapa pertanyaan ringan untuk mengenal Anda lebih dekat. Mulai dari apa yang sedang terjadi dalam hidup Anda, apa yang membuat Anda pergi terapi, apa yang mengganggu hidup Anda, dan apa tujuan yang ingin Anda capai.

Terapis juga dapat menanyakan seputar riwayat kehidupan seks Anda secara rinci, mungkin termasuk seberapa sering Anda berhubungan seks dan apa yang Anda rasa menjadi masalah dalam urusan ranjang Anda. Pasalnya, kebanyakan masalah atau gangguan seksual umumnya berakar dari masalah psikologis, seperti stres, depresi, dan kecemasan. Orang yang mengalami masalah seks karena kondisi medis tertentu, kecelakaan, atau operasi juga bisa dikonsultasikan dengan terapis seks.

Pada dasarnya, terapi seks sama dengan jenis terapi lainnya yang mengharuskan Anda untuk membuka diri lewat sesi curhat supaya terapis bisa mendeteksi akar masalahnya untuk membantu Anda mengelola emosi dan pandangan soal akar masalah tersebut, baru kemudian ia akan membantu Anda mencari jalan keluar. Baik itu dengan cara mengubah diri, menjauhkan diri dari sumber masalah, atau belajar teknik baru untuk mengendalikan emosi.

Yang perlu dipahami, terapi ini tidak bisa menyembuhkan atau mengobati keterbatasan dan masalah fisik yang menyebabkan disfungsi seksual. Dalam banyak kasus, terapi seks hanya bisa membantu masalah seksual yang berakar dari masalah mental atau emosional.

Terapis mungkin akan memberikan Anda ‘PR’

Satu sesi terapi seks biasanya berlangsung selama satu jam setiap minggu, dan umumnya dilakukan untuk 5-20 sesi tergantung kesepakatan. Setiap terapis, konselor, atau psikolog pun pasti punya cara yang berbeda untuk menangani masalah kliennya.

Selama sesi tersebut, terapis akan memberi ‘PR’ kepada Anda untuk dilakukan di rumah. Beberapa tugas yang umum diberikan oleh terapis seperti:

  • Membaca buku yang berkaitan tentang organ reproduksi dan fungsinya, hingga seksualitas
  • Belajar untuk rileks dan menghilangkan stres serta gangguan saat berhubungan seksual
  • Mempraktikkan kemampuan komunikasi dengan pasangan menggunakan cara yang positif seperti yang Anda inginkan
  • Latihan teknik menyentuh non-seksual, yaitu latihan yang dirancang untuk membantu menghilangkan tekanan saat berhubungan seks dengan pasangan. Latihan ini biasanya dilakukan secara bertahap, dimulai dengan menyentuh atau membelai bagian tubuh pasangan, kecuali di area-area genitalnya. Tujuannya adalah untuk membantu kedua pasangan memahami bagaimana mengenali dan menyampaikan preferensi seksual mereka dibanding mencoba untuk mencapai orgasme.

Anda dibolehkan membawa pasangan

Pada kebanyakan kasus, masalah seksual justru bersumber dari apa yang terjadi di sekitar Anda, bukan dari penyakit atau kondisi medis tertentu. Entah itu stres harian hingga konflik atau masalah komunikasi dengan pasangan yang akhirnya menurunkan gairah. Karenanya, terapis mungkin akan menyarankan Anda untuk membawa pasangan saat sesi konseling selanjutnya.

Bicaralah yang jujur pada terapis tentang apa yang terjadi di antara Anda dan pasangan. Misalnya, terapi seks mungkin berguna untuk membantu penyembuhan disfungsi ereksi yang disebabkan karena stres akibat masalah pekerjaan, finansial, konflik hubungan, serta komunikasi yang buruk. Terapis tentunya akan senang hati mendengarkan keluh kesah serta membantu memberikan jalan keluar untuk masalah Anda berdua.

Namun Anda juga bisa menyelesaikan masalah pribadi Anda terlebih dahulu bersama konseling sebelum membawa pasangan Anda.

Anda tidak akan diminta untuk buka baju

Satu hal yang pasti, tidak ada konseling mana pun yang menyuruh pasiennya untuk membuka baju di kantor terapis. Apalagi diminta untuk menunjukkan alat kelamin atau melakukan aktivitas/posisi seks apapun.

Yvonne K. Fulbright, PhD, seorang seks edukator dan profesor seksualitas di American University, dikutip dari laman Everyday Health, mengatakan bahwa hal tersebut seharusnya tidak boleh terjadi. Jika Anda diminta untuk melakukannya, segeralah pergi dari tempat itu dan cari bantuan hukum.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Jangan Asal Pilih, Begini Cara Menentukan Terapis Seks yang Cocok untuk Anda

Terapis seks hadir untuk Anda yang membutuhkan saran tentang persoalan hubungan intim yang mungkin sulit dikomunikasikan. Bagaimana memilih terapis seks?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Hidup Sehat, Seks & Asmara 28 April 2020 . Waktu baca 6 menit

Hubungan Seks Secara Rutin Bisa Mencegah Pikun, Benarkah?

Penelitian menemukan bahwa ubungan seks secara rutin tidak hanya bermanfaat bagi kesehatan, tapi juga membantu mencegah pikun. Mengapa demikian?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Hidup Sehat, Seks & Asmara 15 April 2020 . Waktu baca 5 menit

Jenis Pekerjaan Ini Bisa Menurunkan Gairah Seksual

Anda tidak lagi bergairah saat melakukan hubungan seksual? Mungkin pekerjaan jadi faktornya. Berikut ini pekerjaan yang bisa menurunkan gairah seksual.

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Hidup Sehat, Seks & Asmara 10 Maret 2020 . Waktu baca 3 menit

Benarkah Berpikiran Mesum Bisa Bikin Hidung Mimisan?

Dalam film anime Jepang, tokoh yang sedang terangsang akibat berpikiran mesum bisa tiba-tiba mimisan. Namun, bisakah ini terjadi dalam kehidupan nyata?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Hidup Sehat, Seks & Asmara 5 Januari 2020 . Waktu baca 3 menit

Direkomendasikan untuk Anda

waktu bercinta terbaik

Waktu Bercinta Terbaik Bagi Pasangan Usia 20, 30, dan 40-an

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 19 Agustus 2020 . Waktu baca 5 menit
Masturbasi Saat Hamil

Masturbasi Saat Hamil, Boleh Atau Tidak?

Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 12 Agustus 2020 . Waktu baca 3 menit
nafsu seks ibu hamil

Kenali Perubahan Gairah Seks Ibu Hamil di Trimester Ketiga, Plus Tips Seks yang Aman

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Andisa Shabrina
Dipublikasikan tanggal: 15 Juli 2020 . Waktu baca 4 menit
Perubahan gairah seksual pasangan paruh baya

4 Perubahan Gairah Seksual yang Terjadi di Usia Paruh Baya

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Dipublikasikan tanggal: 28 Mei 2020 . Waktu baca 4 menit