7 Jenis Masalah Seksual yang Paling Umum Dikeluhkan Pria (Tidak Cuma Impotensi)

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 31/10/2017 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Kebanyakan orang mungkin berpikir jika masalah seksual pria hanya sekedar disfungsi ereksi aja. Padahal, tidak demikian. Sama seperti wanita, pria pun juga memiliki berbagai jenis masalah seksual yang bisa menghambat kepuasan fisik dan batin saat bercinta. Apa saja? Cari tahu selengkapnya dalam artikel ini.

Berbagai jenis masalah seksual pria

1. Disfungsi ereksi

Disfungsi ereksi atau umumnya disebut dengan impotensi adalah kondisi ketika penis tidak bisa ereksi secara optimal untuk berhubungan seks. Masalah ereksi itu sendiri pun bisa terjadi dalam beberapa bentuk, seperti:

  • Kesulitan mencapai ereksi (sulit ereksi/tidak bisa ereksi)
  • Kesulitan mempertahankan ereksi
  • Bisa ereksi tapi penis kurang keras sehingga kesulitan untuk penetrasi.
  • Gagal ereksi.

Disfungsi ereksi merupakan masalah seksual pria yang paling umum seiring dengan bertambahnya usia. Meski begitu, disfungsi ereksi juga bisa disebabkan oleh banyak hal, seperti gangguan hormon, kondisi psikologis, perawatan medis tertentu, kelebihan berat badan, kerusakan saraf penis, obat-obatan tertentu, efek samping alkohol dan merokok, stroke, diabetes, dan lain sebagainya.

2. Ejakulasi dini

Ejakulasi dini secara klinis didefinisikan sebagai kondisi di mana pria berejakulasi lebih cepat dari yang diinginkan saat berhubungan seksual. Tidak ada batas patokan waktu tertentu mengenai durasi yang ideal untuk ejakulasi, namun sebagian besar pakar mengartikan ejakulasi dini sebagai pencapaian orgasme yang berlangsung setelah kurang dari dua menit sejak penetrasi dimulai.

Ejakulasi dini adalah keluhan seks yang paling umum dilaporkan oleh hampir sebagian besar pria — setidaknya 1 dari 3 pria pernah mengalaminya sekali dalam seumur hidup. Kondisi ini pun umum terjadi saat pria masturbasi.

Kebanyakan para ahli percaya jika penyebab terbesar masalah seksual pria ini terkait dengan faktor psikologis seperti rasa cemas berlebihan akan kemampuan seksual, stres, perasaan bersalah, dan lain sebagainya. Namun, pria yang mengalami disfungsi ereksi lebih mungkin mengalami ejakulasi dini.

3. Ejakulasi tertunda

Ejakulasi tertunda adalah gangguan ejakulasi di mana seorang pria membutuhkan rangsangan seksual yang lebih lama untuk mencapai klimaks seksual dan ejakulasi. Sebagian pria yang mengalami ejakulasi tertunda membutuhkan rangsangan seksual selama 30 menit atau lebih untuk mencapai orgasme dan berejakulasi. Bahkan, mereka bisa justru tidak berejakulasi sama sekali (anejakulasi).

Ejakulasi tertunda bisa disebabkan karena kondisi kesehatan tertentu, efek samping operasi dan obat-obatan tertentu, penggunaan obat-obatan tertentu, serta masalah kesehatan mental, seperti depresi, kecemasan atau stres. Dalam banyak kasus, ejakulasi tertunda disebabkan oleh kombinasi dari masalah fisik dan psikologis.

4. Ejakulasi retrograd

Sekilas, mungkin Anda tidak familiar dengan jenis ejakulasi ini. Ejakulasi retrograd adalah kondisi di mana sperma tidak keluar melainkan masuk ke kandung kemih saat orgasme. Kondisi ini disebabkan karena adanya gangguan pada saraf di dalam kandung kemih dan leher kandung kemih yang menyebabkan ejakulasi justru mengalir ke kandung kemih. Orang dengan diabetes atau yang pernah menjalani operasi prostat atau kandung kemih lebih rentan mengalami ejakulasi retrograd.

Walaupun Anda tetap dapat mencapai klimaks seksual, mungkin Anda mengeluarkan hanya sedikit sperma atau tidak sama sekali. Terkadang ini disebut orgasme kering. Jenis ejakulasi yang satu ini tidak berbahaya namun dapat menyebabkan kemandulan pada pria.

5. Sulit orgasme

Kebanyakan orang sering salah mengartikan orgasme dan ejakulasi. Padahal keduanya merupakan tahapan yang berbeda dalam berhubungan seksual, meski dalam banyak situasi keduanya bisa terjadi secara bersamaan. Orgasme sebenarnya adalah kondisi yang memicu ejakulasi.

Beda dengan orang yang mengalami ejakulasi dini, pria yang kesulitan mencapai orgasme justru tidak bisa klimaks meskipun penis sudah ereksi dan merasa cukup terangsang.

Ada beberapa alasan mengapa pria kesulitan mencapai orgasme meski penis sudah ereksi. Tiga faktor utama yang membuat pria susah orgasme adalah kerusakan saraf, gangguan hormon, dan kondisi psikologis seseorang.

6. Rasa sakit saat berhubungan seks

Sakit saat berhubungan seksual tidak melulu dialami wanita. Pria pun juga merasakan hal yang sama. Kerusakan akibat robek, gesekan, peradangan, atau struktur abnormal pada kulup penis (misalnya kulit kulup yang terlalu ketat atau kulit kulup tersangkut di belakang kepala penis dan tak bisa ditarik ke depan) dapat membuat penetrasi jadi menyakitkan.

Tidak hanya itu, kondisi seperti peyronie, prostatitis, penyakit kelamin menular, hipospadia, infeksi saluran kencing, priapismus, hingga hipersensitivitas penis bisa menimbulkan rasa sakit saat berhubungan seksual.

7. Gairah seksual rendah

Sama halnya dengan wanita, penyebab gairah seks pria yang rendah juga bisa disebabkan dari banyak faktor mulai dari pengaruh hormon, faktor seksual, kondisi medis tertentu, penggunaan obat-obatan dan masalah dalam hubungan. Gairah seks rendah pada pria menggambarkan penurunan minat mereka terhadap aktivitas seksual. Secara umum, kehilangan minat seksual memang bisa terjadi dari waktu ke waktu, dan tingkat gairah seksual ini pun bisa bervariasi sepanjang hidup.

Jika kekurangan gairah seksual rendah ini terjadi cukup parah, bisa didiagnosis sebagai gangguan hasrat seksual hipoaktif. Kondisi tersebut disebabkan karena ketidakseimbangan tingkat hormon di otak yang mengakibatkan dopamin dan norepinefrin (senyawa pada otak) mengalami penurunan.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Bolehkah Berhubungan Seks Saat Kena Infeksi Saluran Kemih?

Saat Anda atau pasangan memiliki infeksi saluran kemih, apakah artinya Anda berdua harus stop berhubungan seks? Cari tahu selengkapnya pada artikel ini

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Urologi, Urologi Lainnya 07/08/2020 . Waktu baca 5 menit

5 Cara Sederhana untuk Relaksasi Sehabis Olahraga

Setelah olahraga, otot di dalam tubuh Anda bekerja keras untuk menghasilkan energi. Untuk itu, Anda perlu melakukan relaksasi tubuh. Simak caranya berikut.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Hidup Sehat, Tips Sehat 07/08/2020 . Waktu baca 4 menit

Risiko Penularan COVID-19 di Kereta dan Pencegahannya

Risiko penularan COVID-19 di kereta dan transportasi umum lain sangat tergantung pada kedekatan posisi penumpang dengan orang yang terinfeksi.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 07/08/2020 . Waktu baca 4 menit

Inilah Pantangan Makanan dan Minuman Penyakit Infeksi Saluran Kemih

Ternyata, ada beberapa makanan yang bisa memicu gejala infeksi saluran kemih yang Anda derita, makanan ini juga menjadi pantangan. Apa saja?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Urologi, Urologi Lainnya 07/08/2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Konten Bersponsor
gaya hidup sehat lansia

Menjalani Gaya Hidup Sehat, Kunci Lansia Bahagia di Hari Tua

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Dipublikasikan tanggal: 10/08/2020 . Waktu baca 5 menit
Konten Bersponsor
kesehatan dan kebahagiaan anak

Begini Pengaruh Kesehatan terhadap Kebahagiaan Anak

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Willyson Eveiro
Dipublikasikan tanggal: 10/08/2020 . Waktu baca 5 menit
Konten Bersponsor
penyebab penyakit batuk

5 Kondisi Medis yang Bisa Menyebabkan Batuk

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Dipublikasikan tanggal: 10/08/2020 . Waktu baca 5 menit
ibu terinfeksi covid-19 bisa menyusui

Ibu Positif COVID-19 Bisa Menyusui Tanpa Menularkan ke Bayi

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 08/08/2020 . Waktu baca 4 menit