Dampak Self Diagnosis Kesehatan Mental, Bahaya Tidak, Ya?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 09/12/2019 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Saat ini, sudah banyak yang menyadari bahwa kesehatan mental juga perlu diperhatikan. Buktinya, semakin banyak yang menemui psikolog atau ke fasilitas kesehatan ketika merasa stres dan tertekan. Sayangnya, sebagian orang lagi malah melakukan diagnosis kesehatan mentalnya sendiri yang belum tentu akurat. Misalnya saja, ketika stres datang banyak orang yang melakukan self diagnosis sendiri terhadap kesehatan mental.

Self-diagnosis kesehatan mental, sebenarnya baik atau buruk, sih?

Pada dasarnya, self-diagnosis tidak selalu berdampak buruk. Pasalnya, terkadang ada beberapa kondisi kesehatan yang hanya bisa Anda sadari sendiri. Sementara, orang lain terkadang hanya mengetahui permukaannya, tanpa mengetahui lebih dalam tentang apa saja yang terjadi pada diri Anda.

Self-diagnosis kesehatan mental menandakan Anda sudah menyadari ada yang tidak biasa terjadi pada diri Anda. Hal ini memang baik, tetapi, Anda tidak boleh hanya berhenti pada self-diagnosis itu sendiri.

Justru, untuk mengetahui apakah kesehatan mental Anda benar-benar terganggu atau tidak, self-diagnosis hanya digunakan sebagai awal. Ke depan, Anda bisa segera menemui ahli medis profesional yang dapat membantu Anda dengan berbekal self-diagnosis yang Anda lakukan. Misalnya, Anda bisa pergi menemui psikolog atau psikiater.

Sementara, self-diagnosis sering kali disalahartikan sebagai satu-satunya diagnosis yang dibutuhkan. Artinya, setelah melakukannya, Anda mungkin lebih memilih untuk langsung melakukan pengobatan tanpa bantuan dari ahlinya. Padahal, alur tersebut yang justru berpotensi membahayakan diri Anda atau setidaknya memperparah kondisi yang Anda alami.

Dampak buruk menyalahgunakan kemampuan self-diagnosis untuk kesehatan mental

Meski self-diagnosis merupakan suatu awal yang baik untuk memahami lebih jauh mengenai kondisi kesehatan mental Anda, tetapi hal ini juga bisa memberikan dampak yang buruk jika tidak digunakan sebagai mana mestinya. Berikut adalah dua risiko yang mungkin terjadi akibat asal melakukan self-diagnosis.

1. Salah mendiagnosis

Sebuah artikel yang dimuat di Psychology Today menyatakan bahwa gejala yang ditemukan saat self diagnosis bisa saja disalahpahami sebagai tanda dari sebuah gangguan kesehatan mental tertentu. Padahal, gejala tersebut bisa menjadi tanda dari beberapa jenis penyakit mental atau bahkan penyakit fisik lainnya.

Misalnya, Anda merasa suasana hati Anda sering kali berubah. Lalu, Anda melakukan self diagnosis dari kondisi tersebut dan mengira bahwa Anda mengalami gangguan kesehatan mental berupa depresi manik. Padahal, perubahan suasana hati yang terus-menerus terjadi bisa menjadi pertanda dari gangguan mental lain. Contohnya depresi akut atau borderline personality disorder.

Jika Anda hanya berhenti pada self-diagnosis dan tidak segera berkonsultasi pada psikolog atau psikiater, Anda bisa saja melewatkan detil yang lebih penting. Misalnya, dari self diagnosis yang Anda lakukan, Anda memutuskan untuk melakukan pencegahan atau perawatan tertentu. Anda mungkin saja merasa kedua hal tersebut cukup dan sudah sesuai. Padahal, bisa saja solusi yang Anda putuskan sendiri justru salah kaprah.

Maka dari itu, akan lebih baik jika Anda pergi menemui ahli medis profesional untuk diagnosis lebih lanjut. Anda boleh saja menyebutkan hasil dari self diagnosis yang Anda lakukan untuk membantu psikolog atau psikiater lebih cepat menemukan masalah dari kesehatan mental yang sedang Anda alami.

2. Salah melakukan perawatan

Jika Anda salah melakukan self diagnosis terhadap kesehatan mental, hal ini bisa berujung pada kesalahan pengobatan yang Anda lakukan. Pengobatan tidak selalu mengenai penggunaan obat-obatan, namun bisa juga mengenai metode perawatan yang Anda lakukan.

Perawatan yang Anda lakukan mungkin saja tidak memberikan pengaruh apa-apa pada kondisi kesehatan Anda. Namun, bisa jadi pengobatan tersebut membahayakan diri Anda sendiri. Contohnya, dari hasil self diagnosis, Anda menganggap bahwa Anda mengalami binge-eating disorderlalu Anda memutuskan untuk berpuasa, hingga mengurangi porsi makan berlebihan.

Padahal, Anda belum tahu pasti apakah Anda memang mengalami kondisi tersebut atau tidak. Maka dari itu, Anda memang harus menemui ahli medis karena kondisi Anda akan diperiksa secara menyeluruh, bukan hanya dari satu dua gejala yang Anda rasakan. Dengan begitu, jika memang Anda mengalami gangguan mental, kondisi Anda bisa teratasi dengan baik dan tepat.

Langkah yang bisa diambil setelah self diagnosis kesehatan mental

Alih-alih berhenti pada self diagnosis yang Anda lakukan, ada beberapa langkah yang bisa Anda ambil untuk mencari tahu apakah Anda benar-benar mengalami gangguan mental, atau itu hanya rasa takut dan khawatir yang Anda miliki semata.

  • Berkonsultasi ke psikolog atau psikiater. Tentu hal ini menjadi pilihan pertama setelah Anda melakukan self diagnosis. Para ahli akan mencari tahu lebih dalam tentang kesehatan mental Anda.
  • Berkomunikasi dengan teman sebaya. Tidak masalah jika Anda “curhat” kepada teman mengenai gejala-gejala yang Anda curigai sebagai gangguan mental. Mungkin teman Anda juga merasakannya dan ternyata gejala tersebut bukan tanda dari sebuah gangguan mental yang serius.
  • Mencari tahu lebih dalam mengenai gejala yang Anda temukan. Saat melakukan self diagnosis mengenai kesehatan mental Anda, coba gali informasi yang lebih banyak lagi. Jangan hanya membaca satu artikel saja, tetapi cari jurnal-jurnal kesehatan yang bisa mendukung diagnosis Anda.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Beberapa Gangguan Jiwa Bisa Muncul Sekaligus, Ini Sebabnya

Pasien masalah kejiwaan bisa memiliki banyak gangguan jiwa sekaligus bila kondisinya tidak ditangani dengan baik. Mengapa demikian?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Hidup Sehat, Psikologi 03/12/2019 . Waktu baca 3 menit

Cara Mendampingi Pasangan Saat Gangguan Mentalnya Kambuh

Mendampingi pasangan yang menderita gangguan mental tidaklah mudah, terutama ketika kondisinya kambuh. Inilah beberapa langkah yang dapat Anda ambil.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Diah Ayu
Hidup Sehat, Seks & Asmara 11/09/2019 . Waktu baca 4 menit

Kenapa Pria dengan Gangguan Mental Lebih Sulit Mendapatkan Perawatan?

Gangguan mental juga bisa menyerang pria. Namun, kebanyakan pria cenderung sulit mendapatkan perawatan gangguan mental. Apa sebabnya?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Hidup Sehat, Psikologi 22/08/2019 . Waktu baca 4 menit

Self Diagnosis, Kebiasaan Mendiagnosis Diri Sendiri yang Bisa Berbahaya

Majunya teknologi, membuat orang melakukan self diagnosis (diagnosis diri sendiri) untuk menentukan penyakitnya. Hal ini justru bisa membahayakan kesehatan.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Diah Ayu
Hidup Sehat, Psikologi 08/06/2019 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

psikoterapi

Keluar dari Lubang Hitam Anda Lewat Psikoterapi

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 20/06/2020 . Waktu baca 5 menit
perbedaan stres dan depresi, gangguan kecemasan

Cara Membedakan Stres, Depresi, dan Gangguan Kecemasan

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 09/06/2020 . Waktu baca 6 menit
penyebab hoarding

Penyebab Hoarding, ‘Hobi’ Menimbun Barang yang Sudah Tidak Diperlukan

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 07/03/2020 . Waktu baca 4 menit

Ternyata Materialistis Berkaitan dengan Masalah Kesehatan Mental

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 18/01/2020 . Waktu baca 4 menit