Self Diagnosis, Kebiasaan Mendiagnosis Diri Sendiri yang Bisa Berbahaya

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 12/07/2019 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Pernahkah Anda merasa tidak enak badan dan mengeluhkannya ke teman sekitar? Teman Anda yang pernah memiliki gejala sama pun langsung menginformasikan cara mengatasi keluhan yang pernah sukses ia lakukan. Anda langsung percaya dan menuruti sarannya. Hati-hati, ini termasuk ke fenomena self diagnosis.

Teman, keluarga, dan pengalaman sakit di masa lalu kadang kerap dijadikan acuan untuk “mengobati diri sendiri”. Gejala yang mirip membuat kita merasa tahu cara mengobatinya. Belum lagi saat baca-baca artikel kesehatan yang tidak kredibel. Bukan sembuh, mendiagnosis diri sendiri justru bisa memperburuk kesehatan Anda.

Apa itu self diagnosis?

salah diagnosis

Self diagnosis adalah upaya mendiagnosis diri sendiri berdasarkan informasi yang Anda dapatkan secara mandiri, misalnya dari teman atau keluarga, bahkan pengalaman sakit Anda di masa lalu.

Padahal, diagnosis hanya boleh ditetapkan oleh tenaga medis profesional. Pasalnya, proses menuju diagnosis yang tepat sangatlah sulit.

Ketika Anda berkonsultasi, dokter akan menetapkan diagnosis. Diagnosis ditentukan berdasarkan gejala, keluhan, riwayat kesehatan, serta faktor lain yang Anda alami.

Dua orang dokter bahkan bisa memberikan diagnosis berbeda pada pasien yang sama.

Saat mendiagnosis diri, Anda menyimpulkan suatu masalah kesehatan fisik maupun psikologis dengan berbekal informasi yang Anda miliki.

Padahal, tenaga medis profesional saja perlu mengulik seluk-beluk suatu masalah kesehatan sebelum menetapkan diagnosis Anda.

Anda bahkan mungkin perlu menjalani pemeriksaan lanjutan karena dugaan terhadap suatu penyakit tidak bisa disimpulkan begitu saja.

Selain lingkungan sekitar, kemajuan teknologi turut menyumbang fenomena ini. Misalnya, setelah mendengar masukan dari teman, Anda mencarinya di internet. Sayangnya, sumber yang dijadikan rujukan justru bukanlah sumber kredibel yang telah diamini oleh dokter.

Bahkan, sebuah penelitian pada tahun 2013 bahkan menemukan bahwa di antara orang-orang yang mencari informasi terkait kondisi kesehatan mereka, hanya setengahnya saja yang benar-benar berkonsultasi dengan dokter.

Padahal, Anda tetap harus berkunjung ke dokter untuk memastikan apa yang Anda alami. Informasi tadi sebaiknya dijadikan bekal untuk pertanyaan kepada dokter.

Mengapa self diagnosis berbahaya?

sakit kepala tambah parah

Terdapat beberapa bahaya nyata yang dapat timbul terkait perilaku mendiagnosis diri sendiri. Berikut di antaranya:

1. Diagnosis yang salah

Beberapa gangguan kesehatan bisa memiliki gejala yang serupa. Contohnya, Anda sering batuk. Batuk bisa jadi tanda berbagai masalah kesehatan, mulai dari flu, gangguan di saluran napas, bahkan gangguan asam lambung.

Saat Anda tak mengunjungi dokter dan memutuskan untuk mengira-ngira apa yang terjadi pada diri Anda, bisa jadi perkiraan tersebut meleset dari yang sebenarnya. Akibatnya, Anda tak mendapatkan pengobatan yang tepat.

2. Gangguan kesehatan yang lebih serius tidak terdeteksi

Gejala psikologis yang Anda alami bisa jadi merupakan dampak dari masalah kesehatan fisik.

Misalnya, apa yang Anda kira sebagai gangguan panik mungkin diakibatkan oleh detak jantung tidak beraturan atau masalah pada kelenjar tiroid.

Pada kasus lain, tumor otak dapat memengaruhi bagian otak yang mengatur emosi dan kepribadian.

Orang yang melakukan self diagnosis mungkin mengira dirinya sedang mengalami gangguan kepribadian, padahal ada tumor berbahaya yang bersarang di otaknya.

3. Salah minum obat

obat antidepresan tidak manjur

Jika Anda menetapkan diagnosis yang keliru, kemungkinan pengobatannya juga akan salah.

Risiko terhadap kesehatan pun bertambah besar jika Anda mengonsumsi obat secara asal atau menjalani metode pengobatan yang tidak disarankan secara medis.

Sekalipun ada obat yang mungkin tidak berbahaya, minum obat secara keliru tidak akan menyembuhkan keluhan yang Anda alami.

Misalnya, obat antidepresan tidak akan mampu mengatasi gejala depresi jika penyebabnya adalah tumor pada otak.

4. Memicu gangguan kesehatan yang lebih parah

Self diagnosis terkadang dapat memicu timbulnya gangguan kesehatan yang sebenarnya tidak Anda alami.

Sebagai contoh, saat ini Anda mengalami insomnia atau stres berkepanjangan. Masalah sebenarnya bukanlah gangguan psikologis, seperti depresi.

Namun, semua informasi yang Anda terima dari sekitar, selain dokter, menyatakan bahwa insomnia dan stres yang Anda alami menandakan masalah depresi dan gangguan tidur.

Jika Anda terus merasa khawatir, Anda malah berisiko mengalami depresi yang tadinya tidak ada.

Perilaku mendiagnosis diri sendiri tidak hanya menimbulkan kekeliruan, tapi juga berbahaya bagi kesehatan.

Jika tidak disikapi dengan bijak, informasi kesehatan yang seharusnya bermanfaat justru bisa menimbulkan kekhawatiran berlebihan.

Saat mengalami gejala suatu penyakit, yang perlu Anda lakukan adalah berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui penyebab pastinya.  

Hindari self diagnosis dan sampaikan semua kekhawatiran yang Anda rasakan agar dokter dapat menentukan diagnosis dengan tepat.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Alat Canggih Ini Bisa Mendeteksi Penyakit Hanya dari Aroma Napas Anda

Aroma napas seseorang ternyata bisa menandakan kondisi kesehatan tertentu! Tak percaya? Alat pendeteksi penyakit dari Israel inilah buktinya.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Fakta Unik 02/07/2017 . Waktu baca 4 menit

Bau Mulut Parah? Mungkin Diam-Diam Anda Punya Diabetes

Bau mulut bukan hanya disebakan karena malas sikat gigi. Bau mulut juga bisa disebakan karena Anda diam-diam terkena diabetes.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Diabetes, Health Centers 16/12/2016 . Waktu baca 5 menit

5 Gangguan Mulut yang Sering Terjadi Akibat Diabetes

Banyak penderita diabetes belum mengetahui bahwa mereka bisa mengalami berbagai masalah pada mulut, gigi, dan mulut, akibat diabetes. Bisakah dicegah?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Diabetes, Health Centers 25/11/2016 . Waktu baca 5 menit

Suntikan dan Pengecekan Gula Darah untuk Anak Penderita Diabetes

Anda mungkin akan merasa bersalah saat memberikan suntikan untuk memeriksa gula darah anak. Ketahui tips yang mungkin bisa membantu Anda berikut ini.

Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Diabetes, Health Centers 02/11/2016 . Waktu baca 3 menit

Direkomendasikan untuk Anda

self diagnosis kesehatan mental

Dampak Self Diagnosis Kesehatan Mental, Bahaya Tidak, Ya?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Dipublikasikan tanggal: 05/12/2019 . Waktu baca 5 menit
mammografi adalah

Yang Perlu Disiapkan Sebelum Anda Menjalani Tes Payudara Mammografi

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 11/11/2019 . Waktu baca 6 menit
menghadapi tekanan setelah diagnosis penyakit

6 Cara Bijak Menghadapi Campur Tangan Keluarga Keluarga Setelah Didiagnosis Penyakit

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Dipublikasikan tanggal: 11/05/2018 . Waktu baca 5 menit
diagnosis autisme

Bagaimana Gangguan Spektrum Autisme Didiagnosis Pada Anak dan Dewasa?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Dipublikasikan tanggal: 01/09/2017 . Waktu baca 4 menit