Self Diagnosis, Kebiasaan Mendiagnosis Diri Sendiri yang Bisa Berbahaya

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum

Pernahkah Anda merasa tidak enak badan dan mengeluhkannya ke teman sekitar? Teman Anda yang pernah memiliki gejala sama pun langsung menginformasikan cara mengatasi keluhan yang pernah sukses ia lakukan. Anda langsung percaya dan menuruti sarannya. Hati-hati, ini termasuk ke fenomena self diagnosis.

Teman, keluarga, dan pengalaman sakit di masa lalu kadang kerap dijadikan acuan untuk “mengobati diri sendiri”. Gejala yang mirip membuat kita merasa tahu cara mengobatinya. Belum lagi saat baca-baca artikel kesehatan yang tidak kredibel. Bukan sembuh, mendiagnosis diri sendiri justru bisa memperburuk kesehatan Anda.

Apa itu self diagnosis?

salah diagnosis

Self diagnosis adalah upaya mendiagnosis diri sendiri berdasarkan informasi yang Anda dapatkan secara mandiri, misalnya dari teman atau keluarga, bahkan pengalaman sakit Anda di masa lalu.

Padahal, diagnosis hanya boleh ditetapkan oleh tenaga medis profesional. Pasalnya, proses menuju diagnosis yang tepat sangatlah sulit.

Ketika Anda berkonsultasi, dokter akan menetapkan diagnosis. Diagnosis ditentukan berdasarkan gejala, keluhan, riwayat kesehatan, serta faktor lain yang Anda alami.

Dua orang dokter bahkan bisa memberikan diagnosis berbeda pada pasien yang sama.

Saat mendiagnosis diri, Anda menyimpulkan suatu masalah kesehatan fisik maupun psikologis dengan berbekal informasi yang Anda miliki.

Padahal, tenaga medis profesional saja perlu mengulik seluk-beluk suatu masalah kesehatan sebelum menetapkan diagnosis Anda.

Anda bahkan mungkin perlu menjalani pemeriksaan lanjutan karena dugaan terhadap suatu penyakit tidak bisa disimpulkan begitu saja.

Selain lingkungan sekitar, kemajuan teknologi turut menyumbang fenomena ini. Misalnya, setelah mendengar masukan dari teman, Anda mencarinya di internet. Sayangnya, sumber yang dijadikan rujukan justru bukanlah sumber kredibel yang telah diamini oleh dokter.

Bahkan, sebuah penelitian pada tahun 2013 bahkan menemukan bahwa di antara orang-orang yang mencari informasi terkait kondisi kesehatan mereka, hanya setengahnya saja yang benar-benar berkonsultasi dengan dokter.

Padahal, Anda tetap harus berkunjung ke dokter untuk memastikan apa yang Anda alami. Informasi tadi sebaiknya dijadikan bekal untuk pertanyaan kepada dokter.

Mengapa self diagnosis berbahaya?

sakit kepala tambah parah

Terdapat beberapa bahaya nyata yang dapat timbul terkait perilaku mendiagnosis diri sendiri. Berikut di antaranya:

1. Diagnosis yang salah

Beberapa gangguan kesehatan bisa memiliki gejala yang serupa. Contohnya, Anda sering batuk. Batuk bisa jadi tanda berbagai masalah kesehatan, mulai dari flu, gangguan di saluran napas, bahkan gangguan asam lambung.

Saat Anda tak mengunjungi dokter dan memutuskan untuk mengira-ngira apa yang terjadi pada diri Anda, bisa jadi perkiraan tersebut meleset dari yang sebenarnya. Akibatnya, Anda tak mendapatkan pengobatan yang tepat.

2. Gangguan kesehatan yang lebih serius tidak terdeteksi

Gejala psikologis yang Anda alami bisa jadi merupakan dampak dari masalah kesehatan fisik.

Misalnya, apa yang Anda kira sebagai gangguan panik mungkin diakibatkan oleh detak jantung tidak beraturan atau masalah pada kelenjar tiroid.

Pada kasus lain, tumor otak dapat memengaruhi bagian otak yang mengatur emosi dan kepribadian.

Orang yang melakukan self diagnosis mungkin mengira dirinya sedang mengalami gangguan kepribadian, padahal ada tumor berbahaya yang bersarang di otaknya.

3. Salah minum obat

obat antidepresan tidak manjur

Jika Anda menetapkan diagnosis yang keliru, kemungkinan pengobatannya juga akan salah.

Risiko terhadap kesehatan pun bertambah besar jika Anda mengonsumsi obat secara asal atau menjalani metode pengobatan yang tidak disarankan secara medis.

Sekalipun ada obat yang mungkin tidak berbahaya, minum obat secara keliru tidak akan menyembuhkan keluhan yang Anda alami.

Misalnya, obat antidepresan tidak akan mampu mengatasi gejala depresi jika penyebabnya adalah tumor pada otak.

4. Memicu gangguan kesehatan yang lebih parah

Self diagnosis terkadang dapat memicu timbulnya gangguan kesehatan yang sebenarnya tidak Anda alami.

Sebagai contoh, saat ini Anda mengalami insomnia atau stres berkepanjangan. Masalah sebenarnya bukanlah gangguan psikologis, seperti depresi.

Namun, semua informasi yang Anda terima dari sekitar, selain dokter, menyatakan bahwa insomnia dan stres yang Anda alami menandakan masalah depresi dan gangguan tidur.

Jika Anda terus merasa khawatir, Anda malah berisiko mengalami depresi yang tadinya tidak ada.

Perilaku mendiagnosis diri sendiri tidak hanya menimbulkan kekeliruan, tapi juga berbahaya bagi kesehatan.

Jika tidak disikapi dengan bijak, informasi kesehatan yang seharusnya bermanfaat justru bisa menimbulkan kekhawatiran berlebihan.

Saat mengalami gejala suatu penyakit, yang perlu Anda lakukan adalah berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui penyebab pastinya.  

Hindari self diagnosis dan sampaikan semua kekhawatiran yang Anda rasakan agar dokter dapat menentukan diagnosis dengan tepat.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca