Cara Membedakan Stres, Depresi, dan Gangguan Kecemasan

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 09/06/2020 . 6 mins read
Bagikan sekarang

Hampir setiap orang pernah mengalami stres. Entah itu karena kerjaan kantor yang mepet deadline, konflik keluarga atau pasangan, hingga hal yang sepele seperti stres menghadapi macetnya jalanan ibukota. Rasa takut, waswas, dan kecemasan yang mencekik akibat stres ini bisa menyengsarakan dan terasa seperti takkan ada habisnya. Namun, pernahkah bertanya-tanya apa bedanya stres dan depresi?

Di sinilah Anda harus mulai berhati-hati. Stres berat yang makin menjadi dan tidak segera ditangani dapat berujung pada sejumlah gangguan kejiwaan kronis, seperti depresi dan gangguan kecemasan. Dan jika gangguan kronis ini tidak ditangani dengan baik, keduanya bisa sangat merusak kualitas hidup Anda. Penting bagi Anda untuk dapat mengenali perbedaan antara stres, gangguan kecemasan, dan depresi agar bisa mendapatkan bantuan yang tepat sebelum terlambat.

Apa itu stres?

Stres adalah bentuk reaksi pertahanan diri ketika Anda berada dalam situasi yang penuh tekanan. Meski tidak disukai, stres sebenarnya merupakan bagian dari insting primitif manusia untuk menjaga kita tetap aman dan hidup.

Begitu Anda dihadapkan dengan situasi pemicu stres. Misalnya saja presentasi proyek kerjaan minggu depan, tubuh merasakan hal tersebut sebagai bahaya atau ancaman. Untuk melindungi Anda, otak akan mulai memproduksi sejumlah hormon dan senyawa kimia seperti adrenalin, kortisol, dan norepinefrin yang memicu reaksi “fight or flight” dalam tubuh.

Kadangkala, stres dapat memberikan dorongan energi dan peningkatan konsentrasi supaya Anda bisa merespon sumber tekanan secara efektif. Namun lebih seringnya, stres justru membuat otak membanjiri tubuh dengan ketiga hormon tersebut sehingga Anda jadi terus-menerus merasa kalut, cemas, dan gelisah. Pada saat yang sama, darah akan difokuskan mengalir ke bagian-bagian tubuh yang berguna untuk merespon secara fisik seperti kaki dan tangan sehingga fungsi otak menurun. Ini sebabnya banyak orang yang sulit berpikir jernih saat dihantui stres.

Apa itu gangguan kecemasan?

Setiap orang pasti pernah mengalami stres dan cemas paling tidak sekali seumur hidup. Bedanya, stres adalah respon tubuh terhadap ancaman dalam situasi acak yang bisa membahayakan Anda. Kecemasan adalah reaksi Anda terhadap stres.

Familiar dengan sensasi perut mulas, kepala pening, jantung deg-degan, napas terburu-buru, dan keringat dingin saat Anda diliputi kekhawatiran sebelum berbicara di depan umum? Atau saat menunggu dipanggil wawancara kerja? Ini adalah beberapa pertanda bahwa Anda sedang stres dan/atau cemas. Biasanya rentetan gejala ini akan segera reda begitu Anda merasa lega atau menyelesaikan tugas Anda. Artinya tingkat tekanan psikologis yang Anda terima masih cukup “sehat”sehingga Anda masih mampu menangani situasi tersebut dengan tepat.

Cemas menjadi gangguan psikologis kronis ketika Anda terus-terusan dilanda ketakutan tidak masuk akal atau ketakutan dari segala macam hal yang Anda anggap sebagai ancaman besar, padahal tidak menimbulkan bahaya nyata. Kecemasan adalah gangguan kejiwaan yang diakui oleh dunia medis. Gangguan kecemasan adalah kondisi yang dapat didiagnosis oleh dokter berdasarkan kumpulan gejala yang Anda rasakan secara berkelanjutan.

Hidup dengan gangguan kecemasan membuat Anda tetap terus mengalami stres bahkan setelah peristiwa mengancam itu sudah lama Anda lewati. Dan bahkan ketika Anda tidak dipertemukan dengan pemicu stres apapun, kecemasan itu tetap akan selalu ada di bawah alam sadar — menghantui Anda dengan kegelisahan tanpa henti sepanjang hari. Gangguan kecemasan bisa Anda alami setiap hari dengan penampakan gejala yang amat jelas, seperti fobia sosial, atau datang tiba-tiba tanpa alasan seperti serangan panik atau serangan kecemasan. Ini artinya, gangguan kecemasan tidak harus muncul ke permukaan sebagai tanggapan dari pengalaman/situasi tertentu.

Apa itu depresi?

Depresi adalah sebuah penyakit mental yang ditandai dengan memburuknya suasana hati, perasaan, stamina, selera makan, pola tidur, dan tingkat konsentrasi penderitanya. Depresi bukan tanda kelemahan atau cacat karakter. Depresi juga tidak bisa disamakan dengan perasaan sedih atau berduka, yang biasanya akan membaik seiring waktu — walau pada beberapa kasus, depresi bisa dipicu oleh rasa berduka atau stres berat yang berkelanjutan.

Stres dan depresi memengaruhi Anda dengan cara yang sama, tetapi gejala depresi jauh lebih intens dan mewalahkan, dan setidaknya berlangsung selama dua minggu atau lebih. Depresi menyebabkan perubahan drastis dari suasana hati hebat sehingga menimbulkan rasa keputusasaan, nelangsa, dan bahkan ketidakinginan untuk melanjutkan hidup. Depresi adalah salah satu penyakit mental yang paling umum terjadi di masyarakat saat ini. Diperkirakan bahwa satu dari lima orang di dunia dapat mengalami depresi pada tahap tertentu dalam hidup mereka.

Lantas, apa yang membedakan stress, depresi, dan gangguan kecemasan?

Meskipun ada beberapa karakteristik yang tumpang tindih antara stres, depresi, dan gangguan kecemasan, namun ketiga gejolak emosi ini datang dari tempat yang sangat berbeda. Stres yang kita alami dalam kehidupan sehari-hari berhubungan dengan rasa frustrasi dan kewalahan. Sementara itu, gangguan kecemasan dan depresi bisa berakar dari kekhawatiran, ketakutan, dan keputusasaan yang tidak memiliki penyebab pasti. Meski kesemuanya mungkin dipicu oleh banyak faktor, termasuk genetika, biologi dan kimia otak, trauma hidup, hingga stres kronis yang berkelanjutan. Perbedaan utama antara ketiganya adalah rasa tak berdaya.

Ketika dilanda stres dan cemas, Anda tahu pasti apa yang sedang Anda hadapi. Itu adalah tantangan yang Anda temui sehari-hari (walau terjadi secara acak) seperti deadline kerjaan, tagihan keuangan, atau urusan rumah tangga. Namun kadang, apa yang membuat Anda stres juga bisa berasal dari dalam diri, dipicu oleh imajinasi yang terlalu aktif atau sedang tidak berpikir jernih. Stres dan cemas akan hilang ketika Anda membuat prioritas dan menanganinya satu per satu. Pada akhirnya, Anda bisa menemukan jalan keluar dari setiap masalah dan kembali bangkit menjalani hari.

Sementara itu, hidup dengan gangguan kecemasan atau depresi membuat Anda tidak berdaya untuk mengetahui apa yang menjadi kekhawatiran Anda. Reaksinyalah yang jadi masalah. Kedua gangguan psikologis ini terjadi terus menerus tanpa harus menanggapi pengalaman atau situasi tertentu. Keduanya juga cenderung bertahan lama (seringnya hingga bulanan bahkan tahunan). Keduanya dapat sangat membatasi fungsi Anda sebagai manusia. Anda mungkin merasa lelah terus-menerus dan kehilangan motivasi/semangat untuk beraktivitas seperti bekerja, bersosialisasi, atau berkendara layaknya orang lain.

Ketiganya merupakan gangguan psikologis yang perlu ditangani. Tidak hanya memengaruhi kesehatan mental, tapi juga bisa memengaruhi kesehatan fisik Anda dalam jangka panjang. Namun, depresi dan gangguan kecemasan bukanlah sesuatu yang bisa Anda sembuhkan sendiri. Jadi, penting untuk mendapatkan bantuan medis sesegera mungkin. Untungnya, ada beragam pilihan pengobatan yang tersedia untuk mengelola gejala masing-masing.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Pro dan Kontra Mengonsumsi Obat Antidepresan

Antidepresan bisa membantu penderita depresi agar pulih, tapi ada efek samping yang perlu diwaspadai. Pahami pro dan kontra antidepresan berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Psikologi 18/06/2020 . 5 mins read

Ternyata Ayah Juga Bisa Kena Depresi Pasca Melahirkan

Postpartum depression tak cuma menyerang wanita yang baru melahirkan. Depresi pasca melahirkan juga bisa dialami para ayah. Inilah tanda-tandanya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Parenting, Tips Parenting 14/06/2020 . 5 mins read

Mengenal Racial Trauma, Stres Berat Akibat Menjadi Korban Rasisme

Racial trauma adalah dampak jangka panjang dari perilaku rasisme. Kondisi ini bisa memicu berbagai gangguan psikologis, dari stres berat hingga depresi.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Hidup Sehat, Psikologi 11/06/2020 . 4 mins read

Stres Berkepanjangan Ternyata Bisa Mengubah Bentuk dan Fungsi Otak

Stres adalah hal yang wajar. Namun, stres yang dibiarkan berlarut-larut bisa mengubah bentuk dan fungsi otak. Ini sederet cara mencegahnya.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Hidup Sehat, Fakta Unik 07/06/2020 . 5 mins read

Direkomendasikan untuk Anda

mual karena gugup

Kenapa Kita Merasa Mual Saat Sedang Gugup?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 21/06/2020 . 6 mins read
psikoterapi

Keluar dari Lubang Hitam Anda Lewat Psikoterapi

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 20/06/2020 . 5 mins read
sumber stres dalam pernikahan

6 Sumber Stres Utama dalam Pernikahan

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 19/06/2020 . 5 mins read
hipnoterapi

Memanfaatkan Hipnoterapi untuk Menyembuhkan Trauma Psikologis

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 18/06/2020 . 5 mins read