Memahami Bedanya Gangguan Stres Akut dan Stres Pasca Trauma (PTSD)

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 4 Februari 2018 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Setiap orang setidaknya pernah satu kali merasa stres dalam hidupnya — entah itu karena masalah rumah tangga, keuangan di akhir bulan, atau karena terjebak di tengah macetnya jalanan. Akan tetapi, tidak semua orang pernah mengalami stres akut. Ya, stres akut sangatlah berbeda dengan stres harian yang biasa Anda alami. Stres akut umumnya terjadi mengikuti sebuah peristiwa traumatik yang Anda alami atau saksikan. Misalnya bencana alam, KDRT, kecelakaan lalu lintas, kekerasan seksual, hingga kembali dari perang.

Dilihat sekilas, pengertian stres akut sangat mirip dengan gangguan stres pasca trauma (PTSD). Lantas kalau keduanya sama-sama dipicu oleh kejadian trauma berat, apa yang membedakan stres akut dan PTSD?

Apa bedanya stres akut dan PTSD?

Dari definisi

Stres akut, atau yang punya nama lengkap accute stress disorder (ASD) adalah syok psikologis yang timbul sebagai respons setelah mengalami atau menyaksikan peristiwa yang mengerikan atau traumatis, yang kemudian menimbulkan reaksi emosional negatif yang kuat. Stres akut juga bisa mewujudkan diri sebagai gangguan kecemasan.

Gangguan stres pasca trauma atau PTSD adalah gangguan mental yang dipicu oleh ingatan kilas balik setelah mengalami atau menyaksikan peristiwa yang mengerikan atau traumatis. Gejala stres akut dan PTSD adalah sama-sama menimbulkan reaksi emosional negatif. Namun PTSD dapat menyebabkan seseorang mengalami serangan panik dan serangan kecemasan begitu mengingat peristiwa traumatis tersebut.

Dari gejala yang dialami

Gejala stres akut dan PTSD pada dasarnya sama, yang dikelompokkan menjadi 3 kelompok gejala:

  • Mengalami kembali: ingatan kilas balik, mimpi buruk, imajinasi-imajinasi mengerikan, mengingat-ingat kembali peristiwa tersebut, respons emosional kuat terhadap pengingat peristiwa traumatik.
  • Penghindaran: menghindari pikiran, percakapan, perasaan, tempat, dan orang-orang yang mengingatkan kita akan kejadian tersebut; kehilangan minat; disosiasi; mati rasa emosional.
  • Hyperarousal: masalah tidur, mudah tersinggung, ledakan kemarahan, sulit berkonsentrasi, serangan panik, serangan kecemasan, mudah kaget, gelisah

Yang membedakan adalah gejala PTSD pada umumnya termasuk perilaku kekerasan/berisiko/merusak. PTSD juga menyebabkan timbulnya pikiran dan asumsi yang terlalu negatif tentang diri sendiri atau dunia sekitar, pesimis terhadap masa depan, menyalahkan diri sendiri atau orang lain karena menyebabkan trauma, penurunan minat untuk beraktivitas, dan merasa terisolasi. Gejala stres akut tidak mencakup hal-hal ini.

Namun, stres akut menyebabkan efek disosiasi yang lebih kuat daripada PTSD. Disosiasi didefinisikan sebagai “lepasnya” kesadaran diri akan pikiran, memori, perasaan, hingga perbuatan yang bisa bersifat sebagian atau penuh. Gejala disosiatif ditandai dengan amnesia sementara (sulit mengingat bagian-bagian tertentu dari peristiwa traumatik tersebut) dan penolakan (merasa tidak terkait/merasa tidak mengalami peristiwa tersebut, atau melihat peristiwa tersebut dari pandangan orang ketiga).

Pada kebanyakan kasus, diagnosis PTSD tidak selalu membutuhkan kehadiran gejala disosiasi.

trauma dan gangguan mental akibat kekerasan seksual

Dari waktu berlangsungnya gejala

Gejala stres akut dan PTSD bisa tumpang tindih. Yang membedakan adalah lama durasi berlangsungnya gejala.

Gejala ASD akan segera terjadi setelah peristiwa traumatik tersebut dan terjadi dalam rentang waktu yang sangat singkat. Berdasarkan buku panduan DSM-5 keluaran tahun 2013, seseorang dikatakan mengalami stres akut jika gejalanya berlangsung dari tiga hari tapi kurang dari 4 minggu setelah terpapar kejadian traumatis. Gejala ASD berlangsung konstan selama jangka waktu ini, namun akan hilang setelah lewat dari 4 minggu.


Sementara itu, diagnosis PTSD baru bisa diresmikan ketika gejala stres akut terus berlanjut lebih dari satu bulan atau bahkan hingga tahunan setelah paparan awal, dan gejalanya bisa kambuhan sewaktu-waktu ketika dipicu.

Dengan kata lain, perbedaan antara stres akut dan PTSD adalah waktu. Jika seseorang mengalami gejala-gejala stres tersebut lebih dari sebulan, maka jelas bahwa itu bukan ASD tapi PTSD. Itulah perbedaan antara stres akut dan PTSD yang terbaik dan paling menonjol.

Banyak kasus stres akut berkembang menjadi PTSD. Namun tidak semua kasus PTSD demikian. Banyak dari kasus PTSD yang tidak memiliki riwayat stres akut sebelumnya.

Dari pengobatannya

Pengobatan untuk stress akut bisa dengan berkonsultasi psikolog dan mengonsumsi obat antidepresan yang diresepkan jangka pendek. Terapi tambahan seperti yoga, akupuntur, meditasi, atau aromaterapi juga bisa dilakukan untuk mengurangi stres. Rutin melakukan konsultasi kepada dokter atau psikolog atau profesional kesehatan mental untuk mengembangkan program perawatan.

Sementara itu, PTSD tidak memiliki obat penyembuh. Namun pengobatan PTSD biasanya meliputi kombinasi psikoterapi CBT dan konseling untuk membantu meminimalisir gejala yang dialami dan mengubah cara berpikir Anda mengenai trauma yang dialami.

Stres akut dan PTSD sama-sama harus cepat ditangani. Orang yang mengalaminya juga sama-sama harus mendapatkan dukungan dari keluarga serta orang-orang di sekitarnya agar lebih cepat pulih. Bila tidak segera mendapatkan perawatan, gangguan stres bisa akan terus berkembang menjadi depresi berat, gangguan makan, penyalahgunaan alkohol dan narkoba, gangguan makan, hingga gangguan kecemasan kronis.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Bagaimana Pandemi Membuat Seseorang Berisiko Mengalami PTSD?

Pandemi COVID-19 memberikan dampak beragam, beberapa orang berisiko mengalami PTSD akibat melewati peristiwa mengguncang ini. Siapa saja yang berisiko?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 22 Juni 2020 . Waktu baca 4 menit

Kenapa Kita Merasa Mual Saat Sedang Gugup?

Saat harus tampil di depan umum atau mau kencan pertama, tiba-tiba perut jadi sangat mual karena gugup. Mengapa bisa begitu dan bagaimana cara mengatasinya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Fakta Unik 21 Juni 2020 . Waktu baca 6 menit

Sering Berpikir Negatif Bisa Tingkatkan Risiko Demensia

Selain itu studi terbaru menunjukkan bahwa berpikir negatif (negative thinking) terus menerus bisa meningkatkan risiko demensia. Apa bisa dicegah?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Hidup Sehat, Fakta Unik 20 Juni 2020 . Waktu baca 4 menit

Keluar dari Lubang Hitam Anda Lewat Psikoterapi

Sedang mengalami masa sulit yang seakan mengisap energi dan pikiran Anda ke dalam lubang hitam? Psikoterapi bisa membantu Anda mencari solusinya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Psikologi 20 Juni 2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

apa itu depresi

Penyakit Mental

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Dipublikasikan tanggal: 17 September 2020 . Waktu baca 9 menit
Konten Bersponsor
tips menjaga kesehatan mental

Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental untuk Melawan Penyakit Kritis

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Maria Amanda
Dipublikasikan tanggal: 13 Juli 2020 . Waktu baca 5 menit
Konten Bersponsor

Pentingnya Menjaga Kesehatan Fisik dan Mental untuk Pebisnis Startup

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Willyson Eveiro
Dipublikasikan tanggal: 7 Juli 2020 . Waktu baca 5 menit
manfaat surfing kesehatan mental

Berselancar di Laut Ternyata Bermanfaat untuk Kesehatan Mental, Lho!

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 23 Juni 2020 . Waktu baca 5 menit