Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Disosiasi Psikologi

Disosiasi Psikologi

Sebagian orang mungkin pernah merasa seakan “terputus” dari diri sendiri dan lingkungan di sekitarnya. Kondisi yang disebut disosiasi ini memang menjadi gejala umum dari gangguan mental. Simak penyebab dan cara mengatasi disosiasi psikologi berikut ini.

Apa itu disosiasi psikologi?

Apa beda depresi dan bipolar disorder

Disosiasi psikologi adalah mekanisme pertahanan alam bawah sadar yang akan membantu melindungi kondisi emosional seseorang dari peristiwa yang memicu trauma psikologis.

Seseorang yang mengalami disosiasi mungkin melupakan maupun menjauhkan diri terhadap hal-hal yang biasanya terkait satu sama lain.

Sebuah studi dalam jurnal Culture, Medicine and Psychiatry (2008) menyebutkan disosiasi akan mengganggu identitas, memori, kesadaran diri, dan lingkungan pengidapnya.

Pengidap disosiasi psikologi mungkin merasa seakan terlepas dari tubuh atau seolah-olah dunia di sekitarnya tidak nyata. Meski begitu, hal ini dapat berbeda pada masing-masing orang.

Pengalaman tersebut bisa berlangsung dalam waktu relatif singkat, misal dalam hitungan jam, atau bahkan lebih lama hingga berminggu-minggu dan berbulan-bulan.

Jika Anda terdisosiasi dalam waktu lama, kondisi ini mungkin menjadi gejala dari gangguan disosiatif (dissociative disorder) atau gangguan mental lainnya yang perlu perawatan dari tenaga ahli.

Jenis-jenis gangguan disosiatif

Disosiai terkait dengan gangguan disosiatif. Buku Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition (DSM-5) menjelaskan tiga jenis gangguan disosiatif sebagai berikut.

  • Gangguan disosiatif amnesia (dissociative amnesia). Kondisi ini ditandai dengan lupanya seseorang akan informasi tentang diri sendiri maupun suatu peristiwa, terutama yang berkaitan dengan pengalaman traumatis.
  • Gangguan identitas disosiatif (dissociative identity disorder). Kondisi ini ditandai dengan terbentuknya satu atau lebih kepribadian yang diketahui secara sadar maupun tidak oleh pengidapnya.
  • Gangguan depersonalisasi/derealisasi (depersonalization/derealizatuon disorder). Kondisi ini melibatkan perasaan terlepas dari tubuh dan pikiran sendiri (depersonalisasi) dan merasa lingkungan di sekitar tampak tidak nyata (derealisasi).

Tanda dan gejala disosiasi psikologi

dua kepribadian

Peneliti dari Lawson Health Research Institute, Inggris, menyebutkan pengidap disosiasi dapat mengalami depersonalisasi dan derealisasi akibat respons terhadap peristiwa traumatis.

Depersonalisasi membuat pengidapnya seolah melihat dirinya sendiri dari luar tubuh, sedangkan derealisasi membuat pengidapnya merasa seakan dunia di sekitarnya tidak nyata.

Gejala disosiasi tergantung tingkat keparahan yang dialami pengidapnya. Beberapa yang paling umum yakni sebagai berikut.

  • Mengalami kilas balik ke peristiwa traumatis.
  • Merasakan diri Anda kehilangan kontak sebentar dengan peristiwa yang terjadi di sekitar, mirip dengan melamun.
  • Pikiran kosong maupun ketidakmampuan untuk mengingat peristiwa, orang, atau informasi pada jangka waktu tertentu.
  • Perubahan suasana hati yang tiba-tiba dan tidak terduga, seperti merasa sangat sedih mendadak dan tanpa alasan.
  • Kesulitan untuk mendefinisikan seperti apa diri Anda atau merasa seolah-olah ada orang lain yang berbeda dalam diri Anda.

Kapan harus periksa ke dokter?


Jika Anda mengalami gejala yang disebutkan di atas atau memiliki pertanyaan terkait kondisi ini, silakan untuk konsultasi pada dokter. Setiap orang bisa merasakan pengalaman yang berbeda, jadi penting untuk diskusikan keadaan ini dengan dokter Anda.

Penyebab disosiasi

kekerasan masa kecil pemicu disosiasi psikologi

Gejala disosiasi biasanya berkembang sebagai cara seseorang untuk mengatasi suatu peristiwa traumatis. Akan tetapi, kondisi ini juga dapat terjadi akibat beberapa faktor lain berikut.

1. Trauma

Para ahli memercayai bahwa disosiasi psikologi merupakan teknik yang “dilakukan” oleh pikiran manusia untuk melindungi diri dari dampak pengalaman traumatis yang pernah terjadi.

Disosiasi bisa terjadi setelah seseorang mengalami trauma kekerasan seksual atau fisik, pelecehan pada masa kecil, peperangan, kecelakaan kendaraan bermotor, atau bencana alam.

2. Penggunaan obat-obatan

Seseorang mungkin merasa terputus dari diri sendiri dan lingkungan di sekitarnya akibat dari penggunaan alkohol dan obat-obatan terlarang.

Pengguna obat psikedelik atau halusinogen, seperti LSD (lysergic acid diethylamid), dilaporkan mengalami kehilangan kontak dengan diri mereka secara singkat.

3. Gangguan mental lainnya

Selain dissociative disorder, gejala disosiasi juga berkaitan dengan kondisi mental lainnya, antara lain:

Diagnosis disosiasi

Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik sekaligus menanyakan perihal masalah kesehatan fisik maupun psikis yang Anda alami sebelumnya.

Selain itu, dokter juga akan menanyakan tentang alkohol, obat-obatan terlarang, maupun obat lainnya yang mungkin sedang Anda gunakan.

Dokter juga akan merekomendasikan pemeriksaan medis tertentu untuk menyingkirkan penyakit atau kondisi lain yang bisa menyebabkan disosiasi.

Lalu, dokter dapat merujuk Anda ke spesialis kesehatan mental, baik itu psikiater atau psikolog.

Untuk mendiagnosis kondisi ini, psikiater atau psikolog akan mengacu pada kriteria dalam buku DSM-5.

Hal ini guna membedakan masalah kesehatan mental satu dengan lainnya yang umumnya memiliki gejala yang hampir sama.

Pengobatan disosiasi

konsultasi psikologi

Dokter atau spesialis kesehatan mental mungkin akan menganjurkan kombinasi psikoterapi dan obat-obatan untuk membantu Anda mengelola gejala yang dialami.

1. Psikoterapi

Psikoterapi atau terapi psikologis merupakan metode yang paling umum digunakan untuk menangani berbagai masalah kesehatan mental.

Adapun, beberapa jenis terapi psikologis untuk menangani gejala disosiatif seperti berikut ini.

  • Terapi perilaku kognitif (cognitive behaviour therapy/CBT): melihat hubungan antara pikiran, perasaan dan tindakan seseorang yang negatif, lalu mengubahnya agar jadi lebih baik dan normal kembali.
  • Terapi perilaku dialektika (dialectical behaviour therapy/DBT): membantu mengajarkan keterampilan perilaku positif dalam mengelola stres, emosi, dan menghentikan perilaku berbahaya.
  • Eye movement desensitization and reprocessing (EMDR): kombinasi terapi perilaku kognitif dan latihan visual untuk membantu mengatasi ingatan, mimpi buruk, maupun kilas balik tentang peristiwa traumatis.

2. Obat-obatan

Pada dasarnya, tidak ada obat yang secara khusus digunakan untuk mengobati gejala disosiasi psikologi.

Meski begitu, dokter mungkin meresepkan obat antidepresan, antikecemasan, atau antipsikotik untuk membantu mengendalikan kondisi yang Anda alami.

Pencegahan disosiasi

Berikut beberapa tindakan pencegahan bisa Anda lakukan untuk membantu mengurangi stres dan kecemasan yang meningkatkan risiko munculnya disosiasi psikologi.

  • Mempraktikkan pola hidup sehat, termasuk makan makanan yang sehat, olahraga rutin, dan tidur yang cukup setiap malam.
  • Menggunakan teknik relaksasi sederhana untuk membantu Anda mengatasi stres dan kecemasan yang mungkin terjadi.
  • Mengenali pemicu sehingga Anda mampu menghindari atau mengelolanya.
  • Membuka diri untuk membicarakan peristiwa traumatis yang pernah Anda alami dengan orang terdekat untuk mendapatkan dukungan.

Disosiasi mungkin berisiko bila tidak segera ditangani. Kondisi ini bisa membuat Anda memisahkan diri dengan orang-orang terdekat, baik itu teman, pasangan, hingga keluarga.

Pastikan Anda berkonsultasi dengan dokter bila mengalami gejala disosiasi seperti di atas untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

What Are Dissociative Disorders?. American Psychiatric Association. (2018). Retrieved 13 July 2022, from https://psychiatry.org/patients-families/dissociative-disorders/what-are-dissociative-disorders

Dissociative Disorders. National Alliance on Mental Illness. (2022). Retrieved 13 July 2022, from https://www.nami.org/About-Mental-Illness/Mental-Health-Conditions/Dissociative-Disorders

Dissociation FAQs. International Society for the Study of Trauma and Dissociation. (2022). Retrieved 13 July 2022, from https://www.isst-d.org/resources/dissociation-faqs/

Dissociation and dissociative disorders. Mind UK. (2022). Retrieved 13 July 2022, from https://www.mind.org.uk/information-support/types-of-mental-health-problems/dissociation-and-dissociative-disorders/about-dissociation/

Dissociation and dissociative disorders. Better Health Channel. (2012). Retrieved 13 July 2022, from https://www.betterhealth.vic.gov.au/health/conditionsandtreatments/dissociation-and-dissociative-disorders

Psychotherapy. Healthdirect Australia. (2022). Retrieved 13 July 2022, from https://www.healthdirect.gov.au/psychotherapy 

American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders DSM-5. American Psychiatric Association Publishing.

Lanius, R. (2015). Trauma-related dissociation and altered states of consciousness: a call for clinical, treatment, and neuroscience research. European Journal Of Psychotraumatology, 6(1), 27905. https://doi.org/10.3402/ejpt.v6.27905

Seligman, R., & Kirmayer, L. (2008). Dissociative Experience and Cultural Neuroscience: Narrative, Metaphor and Mechanism. Culture, Medicine And Psychiatry, 32(1), 31-64. https://doi.org/10.1007/s11013-007-9077-8

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Satria Aji Purwoko Diperbarui 2 weeks ago
Ditinjau secara medis oleh dr. Nurul Fajriah Afiatunnisa