Peran Masyarakat dalam Memicu Anoreksia dan Bulimia

Oleh

Anoreksia dan bulimia adalah salah dua dari gangguan pola makan yang dapat terjadi pada semua orang. Namun sayangnya, tidak banyak orang di Indonesia yang cukup melek dengan dua gangguan pola makan ini. Tidak hanya itu, penelitian dan berita mengenai gangguan pola makan ini juga minim beredar di masyarakat.

Namun, bukan berarti anoreksia dan bulimia adalah abnormalitas yang nihil di Indonesia, ada satu penelitian yang melibatkan remaja di ibu kota. Ternyata, sebanyak 34,8% remaja di Jakarta mengalami penyimpangan pola makan dengan komposisi 11,6% mengalami anoreksia dan 27% mengalami bulimia (Tantiani, 2007).

Walaupun masih terbatas terhadap remaja di Jakarta, seperti yang dilansir dari The Jakarta Post, ada seorang perempuan yang ternyata mengalami bulimia dan tidak memahami apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Ia mengaku jika merasa tidak enak hati, ia akan memakan makanan manis. Setelah dirasa kenyang, ia akan memuntahkan atau menggunakan obat pencahar untuk mengosongkan kembali isi perutnya; semua dilakukan karena tidak ingin naik berat badannya.

Sebelum mengaji mengenai pandangan masyarakat terhadap anoreksia dan bulimia, ada baiknya untuk memahami sedikit mengenai dua gangguan pola makan ini.

Apa itu anoreksia nervosa?

Anoreksia adalah gangguan pola makan dengan ciri turunnya berat badan sekitar 15% dari berat badan ideal seseorang (Nolen-Hoeksema, Fredrickson, Loftus & Wagenaar, 2009). Orang yang mengidap anoreksia akan tetap makan seperti biasanya, namun, mereka mengurangi asupan makanan mereka. Jadi, jika ada seseorang yang mengidap anoreksia, biasanya mereka akan tetap sarapan, makan siang, dan makan malam, tapi ada pengurangan ekstrem dalam jatah makannya. Bisa jadi mereka mengonsumsi satu potong apel untuk setiap sarapan, makan siang, dan makan malam. Orang yang mengidap anoreksia juga cenderung untuk melakukan olahraga ekstrem agar berat badannya bisa turun (Logue, 1991). Anoreksia biasanya diidap oleh remaja hingga dewasa berusia 30 tahunan, dan perempuan cenderung untuk mengalami anoreksia dibandingkan laki-laki.

Apa itu bulimia nervosa?

Seperti anoreksia, bulimia adalah gangguan pola makan dengan ciri pengidap akan makan makanan yang cepat dan banyak, lalu memuntahkan semua makanan yang telah dimakannya. Orang yang mengidap bulimia akan cenderung memiliki berat badan yang stabil, hal ini membuat bulimia dapat tersembunyi dengan baik. Namun, tidak mungkin perilaku abnormal ini tidak memiliki efek samping. Penggunaan pencahar, obat yang digunakan untuk mengosongkan isi perut, dapat menyebabkan dehidrasi, infeksi kantung kemih, dll. Seperti anoreksia, bulimia biasa dialami oleh perempuan.

Pandangan sinis masyarakat membuat kondisi ini makan buruk

Teori objektifikasi menyatakan bahwa lingkungan dan budaya tempat seorang perempuan dibesarkan dapat mengubah cara pandang dan kesejahteraan perempuan tersebut (Fredrickso & Roberts, 1997). Teori ini juga menyatakan bahwa lingkungan melihat perempuan sebagai satu objek yang hanya berguna dalam kepentingannya untuk memuaskan nafsu seksual bagi orang lain.

Mungkin, hal ini terlalu ekstrem untuk menghubungkannya dengan budaya yang ada di Indonesia, tapi pelaksanaan dari teori ini dalam kehidupan sehari-hari adalah bagaimana perempuan melihat segala sesuatu yang terjadi pada penampilannya untuk menyenangkan orang lain (“Menurut dia, aku cantik ngga, ya, pakai baju ini?”) dibandingkan membuat dirinya nyaman (“Ih, baju ini nyaman banget, deh, rasanya.”). Self-objectification—perasaan menyibukkan diri mengenai penampilan terhadap keinginan orang lain, ternyata memengaruhi perempuan dari berbagai latar belakang etnis (Hebl, King, & Lin, 2004).

Hubungannya dengan anoreksia dan bulimia?

Ada satu penelitian yang pernah dilakukan mengenai hubungan self-objectification dan gangguan pola makan. Penelitian ini terdiri dari mahasiswa dan mahasiswi sebagai responden. Peneliti mengisyaratkan responden untuk mengganti baju mereka dengan menggunakan antara baju renang atau sweater. Baik pada laki-laki maupun perempuan, penggunaan baju renang ternyata dinilai dalam keadaan mawas diri yang berlebihan sehingga dapat dikategorikan sebagai self-objectification.

Pada salah satu tes, responden diminta untuk memakan kue. Laki-laki, baik menggunakan baju renang maupun sweater, menghabiskan semua kue yang diberikan kepadanya. Namun, pada perempuan, ada hal aneh yang terjadi, perempuan dengan baju renang tidak menghabiskan kue yang diberikan kepada mereka. Hal ini terjadi karena perempuan dengan baju renang merasa terlalu sadar diri dan merasa malu terhadap tubuh mereka. Reaksi emosional yang muncul ini menyebabkan mereka untuk menahan makan sebagai bentuk untuk “memperbaiki” keadaan tubuh mereka agar sama dengan budaya perempuan kurus yang ideal (Fredrickson, Roberts, Noll, Quinn, & Twenge, 1998). Hal ini yang dapat menjadi cikal bakal anoreksia dan bulimia yang terjadi pada setiap perempuan.

Penelitian dan data yang telah diungkapkan di atas mungkin didapatkan dari penelitian yang dilakukan di luar Indonesia dengan berbagai banyak perbedaan dari anatomi tubuh, iklim, budaya, dan banyak hal lainnya. Namun, tidak memungkiri bahwa pandangan masyarakat juga mampu mengubah konsep cantik dari perempuan Indonesia. Kulit putih, badan kurus bak model, dan banyak hal yang ditanamkan dari iklan yang dikonsumsi masyarakat.

Apa yang bisa kita lakukan?

Perempuan adalah manusia yang perlu dihormati, tidak hanya tubuh namun harga dirinya. Tidak ada yang pantas untuk mendikte bagaimana perempuan harus berpenampilan. Di sinilah peran laki-laki atau perempuan lainnya untuk terus bertoleransi dalam kecantikan yang dipancarkan dari seorang perempuan.

BACA JUGA:

Share now :

Direview tanggal: Oktober 10, 2016 | Terakhir Diedit: September 6, 2017

Sumber
Yang juga perlu Anda baca