6 Cara Berhenti Muntahkan Makanan Akibat Bulimia

    6 Cara Berhenti Muntahkan Makanan Akibat Bulimia

    Sengaja memuntahkan makanan merupakan perilaku khas dari orang-orang dengan gangguan makan yang disebut bulimia. Jika dibiarkan, perilaku ini bisa berdampak buruk bagi kesehatan. Inilah beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk mengatasi perilaku memuntahkan makanan akibat bulimia.

    Cara berhenti memuntahkan makanan akibat bulimia

    cara agar tidak memuntahkan makanan

    Salah satu perilaku khas dari pengidap bulimia ialah purging, yakni upaya untuk mengeluarkan kembali makanan yang telah dikonsumsi.

    Bentuk purging bisa bermacam-macam, dari memuntahkan makanan dengan sengaja, menggunakan obat pencahar atau diuretik, berpuasa, hingga berolahraga secara berlebihan.

    Tujuan akhirnya ialah untuk “membersihkan” tubuh dari kalori yang dikonsumsi dan mencegah pertambahan berat badan.

    Tentunya, kebiasaan muntah paksa yang dilakukan berulang kali akan berdampak negatif bagi tubuh. Guna mencegah dampak negatif tersebut, berikut sejumlah cara yang dapat membantu Anda berhenti memuntahkan makanan.

    1. Cari teman yang tepat

    Hal pertama yang bisa Anda lakukan untuk berhenti dari perilaku memuntahkan makanan yaitu dengan mencari teman.

    Bersama teman, mintalah ia untuk mendukung dan membantu Anda berhenti dari kebiasaan ini.

    Seorang teman atau sahabat yang mengerti Anda bisa menemani Anda pada momen-momen penting ketika Anda dalam masa pemulihan.

    Bila Anda kesulitan menemukan teman atau sahabat untuk memberi dukungan, Anda pun bisa menghubungi komunitas khusus (support group) bagi orang dengan gangguan mental.

    Dokter atau terapis Anda mungkin bisa memberi tahu komunitas mana yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan Anda.

    Terlepas dari dengan siapa Anda ingin berubah, pastikan Anda tidak melakukannya sendiri. Isolasi diri dapat meningkatkan perasaan kesepian, cemas, dan depresi.

    2. Coba atur jadwal makan

    Jadwal makan yang kacau bisa menyebabkan Anda langsung ingin memuntahkan makanan sesudahnya.

    Oleh karena itu, cobalah untuk makan teratur dengan cara membuat jadwal tiga atau empat kali makan dalam sehari. Anda juga bisa makan dengan porsi yang lebih kecil sebanyak lima kali sehari.

    Makan dengan teratur juga bisa membantu menyeimbangkan asupan gizi dan memberikan energi bagi tubuh secara konsisten.

    3. Buat daftar makanan

    membuat daftar makanan

    Daftar makanan ini bisa mencakup makanan mana yang boleh dimakan dan mana yang tidak.

    Bila makanan yang tidak dianjurkan oleh dokter atau ahli gizi, keinginan untuk muntah setelah makan mungkin timbul karena Anda takut bertambah berat badan.

    Nah, Anda bisa tetap berpegang pada makanan yang boleh dimakan sembari menerapkan pola makan yang teratur dan gizi yang seimbang.

    Setelah Anda mulai terbiasa menerapkan pola makan yang teratur, Anda pun perlahan bisa menambahkan makanan lainnya untuk memulihkan diri dari gangguan makan ini.

    4. Berkonsultasi kepada psikolog

    Cara mengatasi bulimia selanjutnya yaiitu dengan mengunjungi psikolog untuk mendapatkan terapi psikologis (psikoterapi).

    Umumnya, seorang psikolog akan menggunakan beberapa metode terapi yang berbeda, tergantung situasinya.

    Namun, jenis psikoterapi yang menjadi lini pertama dan paling sering digunakan ialah terapi kognitif dan perilaku. Terapi ini berperan penting dalam memutus pola perilaku yang tidak sehat.

    Apabila terapi perilaku kognitif memang tidak efektif dalam mengatasi kondisi ini, psikolog juga bisa melakukan terapi lain, seperti psikoterapi interpersonal.

    5. Coba latihan untuk menahan muntah

    cara meditasi

    Selain memperbaiki asupan dan pola makan, cara lainnya untuk mengatasi bulimia yaitu melatih diri Anda agar tidak lagi memuntahkan makanan.

    Rasanya memang tidak mudah, tapi bisa dilakukan jika Anda berlatih secara perlahan.

    Saat baru mulai berlatih, cobalah untuk menunda keinginan muntah selama tiga menit saja. Lakukan penundaan ini secara bertahap.

    Setelah sukses menahan muntah selama tiga menit (meskipun setelah itu tetap muntah), Anda bisa meningkatkan lagi waktunya selama 5 sampai 10 menit tiap kali keinginan untuk muntah muncul.

    Terus tambah waktunya sampai Anda benar-benar bisa berhenti muntah. Hal ini memerlukan banyak waktu, kesabaran dan keinginan sembuh yang kuat.

    6. Catat perkembangan Anda

    Catatan dalam bentuk jurnal atau diary tentang perubahan Anda dalam menghadapi gangguan makan sangatlah penting.

    Hal ini juga berperan sebagai wadah untuk Anda menuangkan keluh kesah, pikiran, kegelisahan, tujuan, dan keberhasilan yang Anda capai selama masa perbaikan ini.

    Catatan dari jurnal-jurnal ini juga memberi Anda tempat untuk memulihkan pikiran sembari memotivasi diri.

    Untuk informasi lebih lanjut mengenai penanganan bulimia, Anda bisa berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater.

    Cari psikolog atau psikiater terdekat dari lokasi Anda dan booking via Hello Sehat.

    Kesimpulan

    Bulimia bisa diatasi dengan perbaikan gaya hidup dan pola makan, psikoterapi, dan dukungan dari orang-orang terdekat. Catat juga perkembangan Anda untuk meningkatkan motivasi.

    Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Sumber

    Bulimia nervosa. (2020). Retrieved 29 June 2022, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/bulimia/symptoms-causes/syc-20353615

    Bulimia. (2022). Retrieved 29 June 2022, from https://www.mentalhealth.gov/what-to-look-for/eating-disorders/bulimia

    Bulimia nervosa. (2022). Retrieved 29 June 2022, from https://www.nationaleatingdisorders.org/learn/by-eating-disorder/bulimia

    Bulimia nervosa. (2020). Retrieved 29 June 2022, from https://www.helpguide.org/articles/eating-disorders/bulimia-nervosa.htm

    Treatment – bulimia. (2022). Retrieved 29 June 2022, from https://www.nhs.uk/mental-health/conditions/bulimia/treatment/

    What treatments are used for bulimia nervosa?. (2022). Retrieved 29 June 2022, from https://bulimiaguide.org/what-treatments-are-used-for-bulimia-nervosa/

    Foto Penulisbadge
    Ditulis oleh Ocha Tri Rosanti Diperbarui 2 weeks ago
    Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.