7 Masalah Mental yang Rawan Menyerang Mahasiswa

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum

Dunia perkuliahan adalah masa transisi yang menuntut seseorang untuk mulai hidup mandiri dan dapat mengatur segala sesuatunya sendiri, terlebih jika harus tinggal jauh dari orangtua. Stres berat yang diterima selama masa ini, baik dari segi tuntutan akademik maupun sosial, dapat memengaruhi kesejahteraan mental seorang mahasiswa. Dikutip dari Everyday Health, penelitian menunjukkan bahwa 27 persen anak kuliahan memiliki masalah mental. Apa saja masalah mental anak kuliah yang paling umum?

Berbagai masalah mental anak kuliah yang paling umum

1. Depresi

depresi di malam hari

Menurut American Psychological Association, kasus depresi di tengah anak-anak kuliah meningkat sebanyak 10 persen selama 10 tahun terakhir. Depresi yang dibiarkan dan tidak diobati bisa berujung pada risiko bunuh diri. Di Amerika bahkan bunuh diri adalah penyebab kematian kedua bagi mahasiswa. Ada lebih dari seribu kasus bunuh diri yang dilakukan mahasiswa setiap tahunnya.

Tak hanya di Amerika, bahkan kasus bunuh diri yang dilakukan oleh mahasiswa Indonesia juga cukup banyak. Salah satunya yang dilakukan oleh seorang mahasiswa asal Bandung yang mengakhiri hidupnya karena tertekan oleh tugas kuliah.

Oleh karena itu, cara mencegah depresi yang bisa dilakukan yaitu selalu membicarakan berbagai masalah pribadi maupun kuliah dengan sahabat yang Anda percaya. Hal ini dilakukan agar Anda tidak merasa sendirian dan bisa bertukar pikiran saat masalah datang.

2. Gangguan kecemasan

cemas berlebihan

Gangguan kecemasan adalah kecemasan berlebih yang dialami seseorang dengan intensitas yang cukup sering sehingga tak jarang menganggu aktivitas sehari-hari. Gangguan kecemasan terdiri dari beberapa jenis seperti gangguan kecemasan sosial, gangguan panik, fobia terhadap hal tertentu, dan gangguan kecemasan umum. Salah satu gejala gangguan kecemasan yang cukup serius ialah stres yang cukup ekstrem dan rasa khawatir yang berlebih sehingga menganggu kemampuan Anda untuk dapat berfungsi secara normal.

Penelitian membuktikan sekitar 75 persen orang yang memiliki gangguan kecemasan umumnya menunjukkan berbagai gejalanya sebelum memasuki usia 22 tahun. Bahkan penelitian terbaru yang dilakukan pada mahasiswa di Amerika menyatakan bahwa 80 persen mahasiswa menyatakan sering stres dan 13 persen lainnya sudah didiagnosis dengan penyakit mental seperti depresi dan gangguan kecemasan.

Jika Anda mengalami berbagai gejala gangguan kecemasan seperti gelisah, detak jantung meningkat, gemetar, serta kesulitan mengendalikan ketakutan dan kecemasan maka segeralah pergi ke pusat kesehatan kampus. Anda juga bisa segera mengonsultasikannya pada orangtua untuk dapat pergi ke terapis jika diperlukan.

3. Gangguan makan

risiko makan tengah malam

Berbagai gangguan makan seperti anoreksia, bulimia, dan binge eating (makan tak terkendali) adalah penyakit mental yang umum terjadi pada anak kuliah. Umumnya, stres karena berada serangkaian tugas yang menumpuk dan tinggal jauh dari orangtua dapat memicu gejala gangguan makan.

Sebuah survey yang dilakukan oleh National Eating Disorders Screening Program menyatakan bawah sekitar 62 persen wanita di perguruan tinggi memiliki pola makan yang tidak normal yang bisa menjadi pemicu penyakit gangguan makan.

Untuk itu, jika Anda merasa memiliki pola makan yang tidak normal seperti makan banyak tetapi dimuntahkan kembali atau tidak ingin makan karena merasa bersalah jika makan banyak atau justru makan banyak dan tidak terkendali maka mintalah bantuan orang-orang terdekat untuk dapat memantau dan mengendalikan Anda.

4. Menyakiti diri sendiri

melukai diri sendiri

Perilaku menyakiti dan melukai diri sendiri di beberapa bagian tubuh yang tidak terlihat umumnya perilaku yang dilakukan sebagai respon terhadap stres dan tekanan yang luar biasa besarnya. Menyayat lengan menggunakan silet, membenturkan kepala, hingga sengaja tidak makan adalah cara untuk mengalihkan pikiran dari hal-hal yang membuat stres dan juga trauma.

Meskipun beberapa orang sadar bahwa tindakannya ini membahayakan diri dan salah, tetapi banyak juga yang tidak menyadari bahwa melukai diri sendiri bukan cara terbaik untuk mengelola emosi yang sedang dirasakannya.

Sebuah survei yang dilakukan oleh para peneliti Cornell dan Universitas Princeton menemukan bahwa sekitar 20 persen mahasiswi dan 14 persen mahasiswa telah melakukan berbagai hal yang bertujuan menyakiti dirinya sendiri.  Sayangnya, hanya kurang dari 7 persen saja yang meminta bantuan pada orang terdekatnya.

Oleh sebab itu, jika Anda mulai terpikir untuk melukai diri sendiri maka usahakan untuk mencari bantuan teman terdekat dan orangtua. Jangan biarkan pikiran negatif ini mengendalikan Anda hingga berujung pada menyakiti diri sendiri.

5. Penyalahgunaan alkohol dan narkoba

risiko terkena diabetes

Alkohol termasuk ke dalam zat yang paling sering disalahgunakan oleh mahasiswa. Penyalahgunaan alkohol, obat-obatan terlarang, dan obat-obatan yang diresepkan (obat penenang) menjadi masalah utama yang pada akhirnya berkontribusi pada kecelakaan dan pelecehan seksual di kalangan mahasiswa.

Tekanan berlebih pada dunia perkuliahan bisa membuat mahasiswa melampiaskan dirinya pada hal-hal yag membuatnya tenang sementara seperti alkohol dan obat-obatan terlarang.

6. Insomnia

penyebab jadwal tidur terganggu

Meskipun bukan tergolong penyakit mental, insomnia bisa menjadi salah satu gejala dari berbagai masalah mental seperti depresi dan gangguan kecemasan. Insomnia juga bisa menjadi masalah fisik yang serius jika dilakukan terus-menerus.

Belajar dan mengerjakan tugas hingga tengah malam, bangun pagi untuk menghadiri kelas, dan segudang kegiatan di organisasi bisa membuat mahasiswa mengalami insomnia dan kekurangan tidur. Untuk mengatasinya, Anda perlu memiliki aturan tidur yang cukup ketat dan menghindari berbagai stimulan seperti kafein dan juga nikotin.

7. ADHD

tubuh manusia

Attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) adalah angguan yang terjadi pada otak, ini ditandai dengan kurangnya perhatian dan/atau hiperaktif serta impulsif yang mengganggu fungsi dan perkembangan otak. Umumnya, kondisi ini akan muncul sebelum masa perkuliahan.

Akan tetapi, banyak orang yang bisa menyembunyikan atau mengendalikan gejala mereka di sekolah-sekolah menengah. Nah, saat kuliah tuntutan dan tekanan akan meningkat, sehingga gejala ADHD akan semakin sulit dikendalikan. Oleh karena itu, penelitian membuktikan sekitar 4 sampai 5 persen mahasiswa diperkirakan mengalami gangguan belajar.

Berbagai penyakit mental ini perlu segera ditangani di awal kemunculannya. Pasalnya, keparahan kondisi tak hanya akan mengganggu prestasi akademik tetapi juga berakibat buruk pada kesehatan mental secara berkepanjangan.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca