Tenang, Tes Penyakit Kelamin Itu Tak Menakutkan, Kok. Begini Prosedurnya.

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 15 Desember 2017 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Ada banyak penyakit kelamin (penyakit menular seksual) yang ada di sekitar dan mengintai Anda. Ya, terdapat lebih dari 20 jenis penyakit kelamin dan rata-rata tidak akan menimbulkan gejala yang khusus ketika seseorang terserang penyakit ini pertama kali. Hal ini membuat penyakit kelamin luput dari perhatian dan membahayakan kesehatan banyak orang. Tidak sedikit orang sadar bahwa dirinya telah mengalami penyakit seks ini. Maka dari itu, setiap orang butuh melakukan tes penyakit kelamin.

Cemas akan prosedur tes penyakit kelamin di dokter? Tidak perlu khawatir, ketahui bagaimana prosedur ini dilakukan dalam ulasan berikut ini.

Siapa saja yang dicurigai kena penyakit kelamin dan harus melakukan pemeriksaan khusus?

Anjuran pemeriksaan penyakit kelamin telah dinyatakan oleh badan pencegahan dan penanggulangan penyakit, Amerika Serikat (CDC), yang mengungkapkan bahwa:

  • Orang yang berusia 13-64 tahun, harus melakukan tes HIV setidaknya satu kali.
  • Melakukan pemeriksaan untuk mendeteksi klamidia dan gonore secara rutin, yang harus dilakukan oleh wanita yang sudah aktif secara seksual dan di bawah usia 25 tahun.
  • Pemerikasaan klamidia dan gonore juga berlaku pada wanita yang berusia lebih dari 25 tahun dan pernah melakukan hubungan seks (apalagi berganti-ganti pasangan).
  • Sipilis, HIV, dan hepatitis B adalah pemeriksaan yang wajib dilakukan pada wanita hamil. Sementara, klamidia dan gonore sebaiknya dilakukan pada wanita yang berencana untuk hamil.
  • Pemeriksaan kesehatan untuk sipilis, klamidia, dan gonore sebaiknya dilakukan setidaknya satu tahun sekali oleh orang yang melakukan hubungan seks dengan sesama jenis. Pemeriksaan dilakukan dalam rentang waktu 3-6 bulan.

Prosedur tes penyakit kelamin

Penyakit kelamin memang ada banyak dan beberapa di antaranya membutuhkan pemeriksaan khusus untuk tahu apakah seseorang memang positif mengalami penyakit kelamin atau tidak.

Klamidia dan gonore

Sebagian besar kasus klamidia dan gonore tidak menimbulkan gejala, maka dari itu pemeriksaan kesehatan wajib dilakukan secara rutin untuk mengetahui apakah Anda aman dari penyakit ini atau tidak. Pada wanita, biasanya pemeriksaan akan dilakukan dengan cara mengambil cairan dari vagina untuk kemudian diproses ke laboratorium.

Sementara, untuk pria, pemeriksaan ini akan dilakukan langsung dengan melihat dan meneliti jaringan penis. Dalam beberapa kasus, urine juga bisa dijadikan bahan untuk diteliti apakah terdapat klamidia atau tidak.

HIV, sipilis, dan hepatitis

Hepatitis yang dapat ditularkan melalui hubungan seks adalah hepatitis B dan hepatitis C. Keduanya merupakan penyakit kronis yang dapat menyebabkan kanker hati. Sementara itu, HIV diketahui sebagai penyakit kelamin yang mematikan. Maka dari itu, sangat penting untuk mendeteksi penyakit sejak awal dengan melakukan pemeriksaan yang dilakukan setidaknya sekali seumur hidup. Anda harus melakukan pemeriksaan HIV, sipilis, dan hepatitis jika Anda:

  • Memiliki riwayat penyakit seks menular sebelumnya
  • Memiliki lebih dari satu pasangan seksual
  • Pernah mengunakan obat-obatan terlarang
  • Berencana hamil dalam waktu dekat

Untuk pemeriksaan HIV serta hepatitis akan dilakukan dengan cara mengambil sampel darah, sementara pemeriksaan sipilis menggunakan sampel cairan genital yang akan diteliti lebih lanjut di laboratorium.

Herpes genital

Sejauh ini, tak ada tes penyakit kelamin khusus dapat mendeteksi herpes genital. Pasalnya, orang yang kena penyakit kelamin ini, pada awalnya tidak akan mengalami gejala apa pun. Namun, ketika Anda merasakan ada luka di area genital, maka mungkin saja hal itu disebabkan oleh herpes.

Untuk mendiagnosis herpes genital, dokter akan mengambil jaringan genital terluka dan kemudian diperiksa di dalam laboratorium. Terkadang pemeriksan untuk herpes juga mengambil sampel darah untuk menguatkan hasil.

HPV

Penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus human papillomavirus ini dapat menyebabkan penyakit kelamin maupun kanker leher rahim pada wanita. Pemeriksaan rutin HPV baru tersedia untuk kaum wanita, karena dalam hal ini populasi wanita yang diserang.

Pemeriksaan HPV dilakukan dengan pap smear dan tes HPV. Tes pap smear sudah dianjurkan untuk dilakukan secara berkala selama satu kali tiga tahun,  ketika wanita berusia 21-29 tahun.

Pada saat pemeriksaan, Anda mungkin akan diminta untuk melepas baju Anda dari pinggang ke bawah. Kemudian Anda diminta untuk berbaring di meja khusus dengan lutut ditekuk. Dokter akan memasukkan alat yang disebut dengan spekulum ke dalam vagina Anda. Alat ini berfungsi untuk melebarkan vagina Anda, sehingga dokter bisa melihat leher rahim Anda dan mengambil sampel sel-sel serviks Anda dengan alat yang disebut spatula.

Sampel sel-sel serviks Anda ini kemudian ditempatkan dalam wadah yang berisi cairan khusus (tes pap dengan cairan) atau disebarkan dalam slide kaca khusus (tes pap smear konvensional). Dan, selanjutnya dibawa ke laboratorium untuk diperiksa. Tunggu hasilnya satu sampai dua minggu kemudian.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Cara Mudah Ukur Kebugaran Jantung dan Paru, Tak Perlu Periksa ke Rumah Sakit

Cepat lelah dan kehabisan napas bisa jadi tanda kebugaran jantung dan paru-paru Anda kurang baik. Tapi bagaimana cara mengukurnya? Simak di sini!

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fauzan Budi Prasetya
Kebugaran, Hidup Sehat 29 September 2020 . Waktu baca 4 menit

6 Tips Membantu Pasangan yang Malu Berhubungan Intim

Mau coba hal-hal baru di ranjang, tapi pasangan Anda malu berhubungan intim? Tenang, Anda bisa membangkitkan kehidupan seks Anda dengan beragam cara ini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Seks & Asmara 28 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Begini Cara Menggunakan Tongkat Kruk yang Benar Saat Sedang Cedera Kaki

Ketika Ada mengalami cedera kaki, mungkin Anda akan diminta untuk menggunakan tongkat penyangga (kruk) untuk berjalan. Lalu bagaimana cara menggunakannya?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Hidup Sehat, Tips Sehat 28 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasi Psoriasis pada Kuku

Semua bagian tubuh bisa saja terserang psoriasis, termasuk kuku Anda. Simak ulasan lengkap tentang gejala dan perawatan psoriasis kuku dalam artikel ini.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Penyakit Kulit, Psoriasis 28 September 2020 . Waktu baca 7 menit

Direkomendasikan untuk Anda

risiko kesehatan akibat terlalu lama menatap layar komputer

Risiko Kesehatan Setelah Menatap Layar Komputer Terlalu Lama

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. Elita Mulyadi
Dipublikasikan tanggal: 1 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit
kepribadian introvert ekstrovert kesehatan

Apakah Kepribadian Anda Introvert atau Ekstrovert? Ini Pengaruhnya untuk Kesehatan

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Dipublikasikan tanggal: 30 September 2020 . Waktu baca 4 menit
gangguan pencernaan anak

Gangguan Pencernaan yang Sering Dialami Bayi dan Anak-Anak

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Dipublikasikan tanggal: 30 September 2020 . Waktu baca 10 menit
Seks dengan Lampu Menyala

6 Alasan Seks Lebih Menyenangkan dengan Lampu Menyala

Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 29 September 2020 . Waktu baca 4 menit