home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Tak Disadari, Bahaya Infeksi Luka Operasi Mengintai Pasien di Indonesia

Tak Disadari, Bahaya Infeksi Luka Operasi Mengintai Pasien di Indonesia

Saat Anda melakukan operasi atau pembedahan, tentu tujuan utamanya adalah untuk memperbaiki fungsi tubuh yang bermasalah dan mengoptimalkan kembali kerja organ tubuh tersebut. Sayangnya, operasi yang seharusnya berjalan dengan lancar disertai dengan hasil yang optimal, terkadang dapat berujung pada infeksi luka operasi (ILO).

Infeksi luka operasi, yang dalam bahasa medis disebut dengan Surgical Site Infections (SSI), adalah infeksi yang terjadi di daerah bekas operasi. Tak bisa diremehkan, menurut dr. Adianto Nugroho, Sp.B-KBD, selaku ahli bedah dan konsultan bedah digestif, dalam simposium pencegahan SSI di RS Siloam Karawaci yang diadakan oleh PT. Johnson & Johnson Indonesia, pada 20 Agustus 2018, memaparkan bahwa jumlah kasus SSI di Indonesia bisa mencapai 5-8 persen.

Jumlah ini terbilang cukup tinggi mengingat infeksi luka operasi bisa menimbulkan bahaya yang tidak main-main bagi kesehatan tubuh.

Apa yang dimaksud dengan infeksi luka operasi?

Infeksi luka operasi atau SSI, bisa dibilang sebagai masalah kesehatan yang masih mengintai para tenaga medis maupun pasien di seluruh dunia. Dalam beberapa kasus, SSI mungkin hanya akan melibatkan infeksi pada kulit saja. Namun dalam kasus yang lebih parah, SSI bahkan dapat menyerang organ dan jaringan di bawah kulit.

SSI bisa terjadi di beberapa prosedur operasi, misalnya colorectal, gastrointestinal, jantung dan pembuluh darah, saraf, kulit, ortopedi, serta kandungan. Jika dikerucutkan lebih seksama, kasus SSI paling tinggi dilaporkan pada prosedur operasi colorectal, ortopedi, dan kandungan.

Apa penyebab infeksi luka operasi?

Ketika ditemui di Cikini, Menteng, Jakarta Pusat (21/8), Prof Charles E. Edmiston, Jr., PhD., CIC, seorang ahli bedah dari Departemen Ilmu Bedah, Medical College of Wisconsin Milwaukee, Wisconsin, Amerika Serikat, menjelaskan bahwa SSI disebabkan oleh adanya bakteri yang menyerang area sayatan bekas operasi.

Bakteri tersebut bisa datang kapan saja, baik itu selama proses operasi ataupun setelah operasi berlangsung. Umumnya, bakteri akan berkembang menjadi luka di bagian sayatan operasi dalam jangka waktu 30 hari usai proses operasi. Jenis bakteri apapun sebenarnya bisa dengan mudah hinggap dan menetap di bekas luka sayatan operasi ini.

Namun, Prof. Edmiston lanjut menuturkan bahwa bakteri Pseudomonas adalah bakteri yang paling sering mengakibatkan SSI. Ruangan atau tempat yang lembab merupakan tempat tinggal favorit bakteri Pseudomonas. Itulah mengapa bakteri ini diduga mampu mengontaminasi udara di ruangan operasi, yang akhirnya dapat menginfeksi luka operasi.

Ternyata, ada faktor risiko yang memperbesar peluang SSI

Risiko seorang pasien yang telah menjalani operasi untuk mengalami SSI pun akan semakin meningkat bila disertai dengan beberapa faktor risiko pendukung.

“Merokok, diabetes, dan berat badan berlebih adalah tiga faktor risiko yang paling sering terjadi, dan sama-sama terjadi Indonesia maupun di Amerika Serikat.” ulas Prof. Edmiston lebih lanjut

Selain itu, dr. Siusanto Hadi, SpB-KBD, selaku dokter spesialis bedah (digestif) di RS Siloam Surabaya, yang juga ditemui di Cikini, Menteng, Jakarta Pusat (21/8), menambahkan bahwa di Indonesia sendiri masih ada faktor risiko lain yang tak kalah berperan mengakibatkan SSI pada pasien operasi.

Menurutnya, kontaminasi udara yang terjadi di ruangan operasi, kebersihan diri pasien, serta kecukupan nutrisi tubuh pasien menjelang operasi adalah beberapa hal yang turut andil dalam kasus SSI di Indonesia.

Seberapa berbahayanya infeksi luka operasi?

operasi jantung di siang hari

Bagi Anda yang baru mendengar mengenai infeksi luka operasi atau SSI, mungkin akan mengira kalau kondisi ini tidak terlalu berbahaya dan bisa segera ditangani dengan pemberian obat-obatan khusus. Sebenarnya untuk kasus SSI yang masih tergolong ringan, memang bisa segera diobati guna mencegah infeksi bertambah parah.

Pengobatan dengan antibiotik merupakan pilihan yang biasanya dilakukan pada pasien pasca operasi yang mengalami SSI. Meski begitu, Prof. Edmiston kemudian menambahkan kalau pemberian antibiotik tidak selamanya dapat menyembuhkan luka di bekas sayatan operasi. Ini dikarenakan ada bakteri yang ternyata sudah resisten terhadap antibiotik, sehingga menimbulkan infeksi yang lebih parah.

Seperti yang telah dijelaskan di awal, infeksi tidak hanya dapat terjadi di kulit saja, tapi juga bisa membahayakan organ dan jaringan di dalamnya. Jika ini terjadi, antibiotik saja mungkin tidak mampu untuk memulihkan kondisi infeksi. Pilihan lainnya jatuh pada operasi lanjutan, dilansir dari laman CDC sebagai pusat pengendalian penyakit di Amerika Serikat.

Kemungkinan terburuk untuk kasus infeksi luka operasi yang telah berkembang lebih parah, yakni dapat berujung pada kematian.

Masalah ini juga menimbulkan kerugian materi yang besar

Lagi-lagi, infeksi luka operasi bukan masalah yang ringan karena tidak hanya merugikan kesehatan pasien saja, tapi juga biaya perawatan, waktu pemulihan pasien, hingga pelayanan kesehatan yang menangani proses operasi. Kenapa?

“Secara keseluruhan, biaya yang dibebankan untuk operasi pada pasien normal dan pasien dengan SSI akan sangat jauh berbeda. Pasien yang mengalami luka operasi tentunya harus membayar biaya operasi beberapa kali lipat lebih mahal dibandingkan pasien dengan kondisi kesehatan normal”, ungkap Prof. Edmiston.

Pernyataan ini turut dibuktikan oleh sebuah penelitian yang diterbitkan dalam International Journal of Public Health Science tahun 2016, yang membandingkan biaya operasi caesar pada pasien normal dan pasien dengan SSI. Mirisnya, perbedaan total biaya operasi kedua pasien ini bisa mencapai angka 1.300 USD alias 18,3 juta rupiah!

Angka yang cukup mencengangkan, bukan? Tidak hanya itu, kerugian SSI juga akan diterima pihak pelayanan kesehatan karena dinilai kurang kompeten hingga bisa menimbulkan luka di bekas sayatan operasi.

Itu sebabnya, dibanding harus menghabiskan banyak waktu, tenaga, dan biaya bila sudah terlanjur mengalami infeksi di bekas sayatan operasi, tidak ada salahnya untuk mencegah sebelum kondisi ini benar-benar terjadi.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Surgical Site Infection (SSI). https://www.cdc.gov/hai/ssi/ssi.html Diakses pada 21 Agustus 2018.

Frequently Asked Questions About Surgical Site Infections. https://www.cdc.gov/hai/ssi/faq_ssi.html Diakses pada 21 Agustus 2018.

Marwati, Triani dkk. The Impact of Surgical Site Infection to the Health Care Cost. http://iaescore.com/journals/index.php/IJPHS/article/viewFile/4775/3820 Diakses pada 21 Agustus 2018.

Interview Eksklusif Prof Charles E. Edmiston, Jr., PhD., CIC, ahli bedah Departemen Ilmu Bedah, Medical College of Wisconsin Milwaukee, Wisconsin, Amerika Serikat di Cikini, Menteng, Jakarta Selatan, Selasa (21/8).

Interview eksklusif dr. Siusanto Hadi, SpB-KBD, dokter spesialis bedah (digestif) RS Siloam Surabaya di Cikini, Menteng, Jakarta Selatan, Selasa (21/8).

Foto Penulis
Ditulis oleh Karinta Ariani Setiaputri Diperbarui 24/06/2021
Ditinjau oleh dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
x