Perlukah Pakai Sabun Kewanitaan untuk Membersihkan Vagina?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 9 Juli 2019 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Anggapan bahwa vagina harus beraroma wangi semerbak membuat banyak wanita tertarik untuk menggunakan sabun kewanitaan. Belum lagi banyak pilihan produk sabun dengan ragam wewangian yang menggoda. Namun, apakah benar-benar perlu memakai sabun khusus untuk membersihkan vagina?

Perlukah menggunakan sabun kewanitaan?

sabun sirih untuk vagina

Sabun kewanitaan diklaim dapat membersihkan dan mengharumkan vagina, serta menghilangkan keputihan.

Namun melansir dari laman Mayo Clinic, sabun kewanitaan tidaklah diperlukan untuk membersihkan vagina. Mengapa?

Vagina sebenarnya mampu rutin membersihkan dan melindungi dirinya sendiri tanpa perlu dibantu. Bahkan, keluarnya keputihan sebetulnya merupakan pertanda fungsi pembersihan vagina Anda berjalan normal. Keputihan adalah fase alami dan normal dialami setiap wanita.

Lingkungan dalam vagina bersifat asam yang secara alami sangat ideal untuk memelihara koloni bakteri baik. Keberadaan bakteri baik inilah yang menjadi pelindung terhadap risiko infeksi.

Justru ketika Anda menggunakan sabun kewanitaan yang notabene mengandung banyak bahan kimia, keseimbangan pH dalam vagina akan terganggu. Ini membuat bakteri dan ragi (jamur) jahat bisa tumbuh secara berlebih sampai menyebabkan infeksi.

Sebaiknya hindari juga melakukan douching. Douching adalah teknik membersihkan bagian dalam vagina dengan menyemprotkan larutan air dengan cuka, soda kue, atau yodium.

Douching sangat tidak disarankan karena bisa menganggu keseimbangan vagina normal. Hal ini membuat miss V rentan terhadap infeksi termasuk penyakit kelamin.

Akibat memakai sabun kewanitaan

infeksi bakteri vagina bacterial vaginosis

Keseimbangan pH vagina yang terganggu akibat pemakaian sabun kewanitaan dapat menyebabkan:

1. Infeksi vagina

Vagina memiliki bakteri baik yang berfungsi untuk melindungi tubuh dari infeksi. Produk sabun kewanitaan yang berpewangi atau berwarna bisa mengubah keasaman vagina sehingga kadar bakteri baiknya berkurang.

Ketika pHnya terganggu, Anda akan rentan mengalami infeksi bakteri (bacterial vaginosis) dan infeksi jamur vagina.

Infeksi bakteri dan jamur bisa membuat vagina terasa gatal, mengeluarkan keputihan yang tidak normal, bahkan terasa panas seperti terbakar.

Jika tidak diobati, infeksi pada vagina bisa menyebar dan masuk ke organ reproduksi lainnya. Infeksi yang menyebar berisiko membuat wanita sulit hamil dan rentan terkena penyakit menular seksual.

2. Penyakit radang panggul

Penyakit radang panggul adalah infeksi pada rahim, saluran tuba, dan atau ovarium.

Fakta menyebutkan bahwa wanita yang menggunakan pembersih vagina atau melakukan douching berisiko 73% lebih tinggi terkena penyakit ini.

Kemunculan penyakit radang panggul cukup sulit dikenali. Pasalnya, penyakit ini sering kali tidak menimbulkan gejala di awal terinfeksi.

Ketika mulai menyebar, radang panggul biasanya menyebabkan:

  • Nyeri di perut bagian bawah atau panggul
  • Keputihan tidak normal
  • Mengalami perdarahan setelah berhubungan seks atau di antara siklus haid
  • Rasa sakit saat berhubungan intim
  • Demam terkadang disertai dengan menggigil
  • Sakit saat kencing

Risiko penyakit satu ini sangat bisa dikurangi salah satunya dengan tidak menggunakan sabun kewanitaan.

3. Meningkatkan risiko komplikasi kehamilan

Wanita yang menggunakan sabun kewanitaan lebih dari seminggu sekali dilaporkan berpotensi sulit hamil dibandingkan dengan yang tidak.

Menggunakan pembersih vagina juga dicurigai dapat meningkatkan risiko kehamilan ektopik sebanyak 76 persen. Kehamilan ektopik membuat embrio menempel pada organ di luar rahim.

Semakin sering Anda membersihkan vagina, maka semakin besar risko untuk mengalami kehamilan ektopik atau hamil anggur.

4. Vagina kering

Vagina yang kering memang tidak selalu tanda bahaya, tetapi bisa membuat tidak nyaman. Selain itu, vagina yang kering akibat bahan kimia dalam sabun kewanitaan juga bisa membuat seks terasa sakit.

5. Risiko penyakit kelamin

Banyak yang bilang bahwa pakai sabun kewanitaan sebelum dan setelah seks dapat mencegah penularan penyakit kelamin. Namun, jangan mudah percaya kabar yang beredar.

Menggunakan sabun kewanitaan dapat merusak keseimbangan bakteri baik pelindung vagina dari infeksi. Itu kenapa sabun pembersih vagina justru bisa meningkatkan risiko Anda tertular penyakit kelamin dari aktivitas seksual yang tidak aman.

Namun, tetap penting hukumnya untuk membersihkan vagina dengan air hangat setelah seks agar bakteri yang menempel bisa hilang. Bersihkan vagina hanya dengan air bersih yang mengalir. Usap dari arah depan ke belakang, jangan sebaliknya. Hal ini dilakukan untuk mencegah bakteri yang ada di anus berpindah masuk dan menginfeksi vagina.

Selain itu, jangan lupa juga untuk mencuci tangan terlebih dahulu sebelum dan sesudah membersihkan vagina.

Bagaimana cara membersihkan vagina tanpa sabun kewanitaan?

sabun mandi

Menurut Dr. Suzy Elneil, konsultan urogynaecology di University College Hospital, London, caranya cukup dengan menjaga kesehatan dan kebersihan diri.

Cukup bilas vagina hanya dengan air hangat bersih mengalir, dengan mengusapnya dari depan ke belakang. Bilas bersih dan keringkan dengan baik agar vagina tidak terus-terusan lembap. Selain itu, rutinlah ganti celana dalam beberapa sekali dengan yang berbahan katun.

Produk sabun kewanitaan tidaklah diperlukan untuk membersihkan vagina. Jika ingin menggunakan sabun, dr, Sangeeta Agnihotri selaku konsultan ginekologi dan obstetri di Inggris, merekomendasikan memakai sabun dengan syarat:

  • Tanpa parfum
  • Tanpa pewarna
  • Tanpa pengawet
  • Tanpa bahan kimia yang terlalu keras

Jika Anda bingung menentukan sabun yang tepat, mintalah rekomendasi dokter. Jangan tergiur dengan harga murah dan iming-iming iklan yang menggoda.

Membiasakan pola makan sehat dan rajin olahraga juga membantu menjaga vagina tetap sehat.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Uretritis Gonore

Uretritis Gonore adalah penyakit di salurah kemih uretra yang disebabkan bakteri gonorea. Cari tahu gejala dan pengobatannya berikut.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Urologi, Urologi Lainnya 8 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit

Ini Posisi Bercinta yang Tepat Agar Cepat Hamil

Banyak pasangan yang menganggap bahwa posisi bercinta mempengaruhi peluang kehamilan. Sebenarnya adakah posisi bercinta agar cepat hamil?

Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Hidup Sehat, Seks & Asmara 30 September 2020 . Waktu baca 4 menit

6 Alasan Seks Lebih Menyenangkan dengan Lampu Menyala

Bercinta dengan lampu yang redup sudah biasa. Pernahkah Anda membayangkan seks dengan lampu menyala? Sebelumnya, coba simak artikel berikut.

Ditulis oleh: Novita Joseph
Hidup Sehat, Seks & Asmara 29 September 2020 . Waktu baca 4 menit

6 Tips Membantu Pasangan yang Malu Berhubungan Intim

Mau coba hal-hal baru di ranjang, tapi pasangan Anda malu berhubungan intim? Tenang, Anda bisa membangkitkan kehidupan seks Anda dengan beragam cara ini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Seks & Asmara 28 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

masalah seks pada pria

5 Masalah Seks yang Paling Mengganggu Pria (Plus Cara Mengatasinya)

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 21 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
cara mencapai multiorgasme

7 Cara Mencapai Multiorgasme Saat Seks (untuk Wanita)

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Dipublikasikan tanggal: 20 Oktober 2020 . Waktu baca 6 menit
menghadapi anak masturbasi

Yang Perlu Ortu Lakukan Saat Memergoki Anak Masturbasi

Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 8 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
uretritis non gonore

Uretritis Non-Gonore

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 8 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit