Protein Nabati dan Protein Hewani, Manakah yang Lebih Baik?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 22 September 2020 . Waktu baca 7 menit
Bagikan sekarang

Protein adalah salah satu zat gizi makro yang sangat dibutuhkan oleh tubuh. Protein berfungsi untuk membangun sel serta jaringan, berperan dalam sistem imun, memperbaiki sel yang rusak, serta terdapat di berbagai bagian tubuh seperti kulit, tulang, otot, rambut dan sebagainya. Selain itu, protein juga bertanggung jawab atas pembentukan enzim serta hormon yang dipakai untuk menjaga fungsi tubuh.

Berapa banyak protein yang kita butuhkan?

Setidaknya terdapat 10 ribu jenis protein yang berbeda dan dibutuhkan oleh tubuh untuk menjaga kesehatan. Sesuai dengan pengelompokkan umurnya, Kementerian Kesehatan membagi kebutuhan protein per hari menjadi beberapa kelompok umur yaitu:

  • 0 – 6 bulan: 12 gram
  • 7 – 11 bulan: 18 gram
  • 1 – 3 tahun: 26 gram
  • 4 – 6 tahun: 35 gram
  • 7 – 9 tahun: 49 gram
  • 10 – 12 tahun: 56 gram (laki-laki), 60 gram (perempuan)
  • 13 – 15 tahun: 72 gram (laki-laki), 69 gram (perempuan)
  • 16 – 80 tahun: 62 hingga 65 gram (laki-laki), 56 hingga 59 gram (perempuan)

Sekitar 20% dari tubuh manusia terbentuk dari protein. Karena protein tidak disimpan di dalam tubuh karena itu dibutuhkan asupan protein yang cukup sesuai dengan kebutuhan agar tidak menimbulkan berbagai penyakit. Protein menurut sumbernya terbagi menjadi dua yaitu protein sumber hewani dan protein sumber nabati. Dari keduanya, mana yang lebih baik? Apakah benar protein hewani lebih baik? Atau malah sebaliknya?

Protein hewani adalah sumber asam amino yang lebih baik

Walaupun sama-sama protein, namun kandungan asam amino serta struktur yang dimiliki protein hewani dengan protein nabati berbeda. Ketika protein dikonsumsi dan masuk ke dalam tubuh, protein tersebut akan langsung dipecah menjadi asam amino yaitu bentuk protein yang lebih sederhana. Tubuh sebenarnya bisa menghasilkan asam amino sendiri, namun yang dihasilkan adalah asam amino non-esensial, sementara asam amino esensial dibutuhkan tubuh dari sumber makanan protein.

Asam amino yang ada di dalam protein hewani merupakan asam amino esensial yang lengkap, dan strukturnya hampir mirip dengan asam amino yang ada di tubuh. Oleh karena itu sumber protein hewani merupakan sumber asam amino yang baik untuk tubuh.

Sementara makanan protein nabati, tidak memiliki asam amino esensial yang lengkap seperti protein hewani. Asam amino yang kurang di dalam sumber protein hewani adalah jenis asam amino metionin, triptofan, isoleusin, dan lisin. Sehingga nilai penyerapan asam amino yang lebih baik adalah protein hewani.

Vitamin dan mineral lain yang ada pada protein hewani

Sumber makanan yang mengandung protein tidak hanya mengandung protein saja di dalamnya. Beberapa makanan yang merupakan sumber protein hewani memiliki kandungan vitamin dan mineral yang tidak dimiliki oleh protein nabati. Berikut adalah beberapa jenis vitamin dan mineral yang cukup banyak terdapat di makanan protein hewani namun rendah pada protein nabati:

Vitamin B12, biasanya banyak terkandung di dalam ikan, daging sapi, daging ayam, dan berbagai produk susu. Orang yang menghindari atau tidak makan protein hewani rentan mengalami kekurangan vitamin B12.

Vitamin D, walaupun sumber terbesar vitamin D adalah matahari, tetapi vitamin ini juga ditemukan di berbagai sumber makanan protein hewani seperti minyak ikan, telur, dan susu.

DHA atau docosahexaenoic acid merupakan jenis dari asam lemak omega 3 yang terkandung di dalam lemak ikan DHA baik untuk perkembangan otak anak dan tidak ditemukan pada tumbuhan.

Zat besi jenis heme, merupakan zat besi yang rata-rata terkandung di dalam sumber protein hewani, terutama pada daging sapi. Zat besi heme ini lebih mudah diserap di dalam tubuh dibandingkan dengan zat besi yang berasal dari tanaman.

Seng atau zinc adalah zat mineral yang berperan penting dalam sistem kekebalan tubuh, pertumbuhan, serta memperbaiki jaringan. Seng banyak ditemukan di daging sapi, hati sapi, dan daging kambing. Seng juga terkandung di beberapa jenis sayuran berdaun hijau tua, namun penyerapannya tidak sebaik sumber protein hewani.

Namun, beberapa sumber protein hewani dapat menyebabkan penyakit jantung

Daging merah, seperti daging sapi merupakan sumber protein yang baik untuk tubuh. Namun telah banyak penelitian yang menyebutkan bahwa mengonsumsi daging merah dapat meningkatkan risiko terkena penyakit jantung koroner, stroke, bahkan kematian muda.

Penelitian yang terbaru menyatakan bahwa masalahnya bukan pada daging merah, lebih tepatnya daging merah yang sudah melalui proses olahan atau produk makanan olahan. Penelitian yang melibatkan sebanyak 448.568 partisipan menunjukkan bahwa daging olahan telah terbukti berhubungan dengan peningkatan risiko kematian dini.

Sedangkan penelitian lain yang diikuti oleh 34 ribu perempuan membuktikan jika konsumsi daging merah yang terlalu banyak berpeluang lebih tinggi untuk terkena gagal jantung.

Walaupun begitu, sumber protein lain seperti daging ayam tanpa kulit dapat menurunkan risiko terkena berbagai penyakit jantung hingga 27%. Oleh karena itu, lebih baik memilih sumber protein hewani yang segar dan tanpa lemak, seperti daging sapi tanpa gajih atau lemak, ikan, dan daging ayam tanpa kulit.

Manfaat mengonsumsi protein hewani dan nabati

Pemilihan protein hewani yang baik akan menimbulkan dampak baik pula untuk kesehatan. Seperti pada penelitian yang dilakukan oleh The Nurses’ Health Study yang menyatakan bahwa mengonsumsi daging ayam, ikan, dan susu yang rendah lemak sangat berkaitan dengan penurunan risiko penyakit jantung.

Tidak hanya itu, penelitian yang melibatkan 4 ribu laki-laki juga menemukan bahwa orang yang mengonsumsi ikan secara rutin setidaknya satu porsi dalam seminggu memiliki 15% risiko lebih rendah untuk terkena berbagai penyakit jantung.

Sama seperti protein hewani, protein nabati juga memiliki banyak manfaat dan dampak baik bagi kesehatan. Seperti yang ditunjukkan dalam beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa orang yang sering mengonsumsi sayur-sayuran memiliki kadar kolesterol yang lebih rendah dibandingkan dengan orang yang jarang mengonsumsi sayur.

Tidak hanya itu, berbagai sumber protein nabati seperti kacang kedelai, kacang merah, dan berbagai kacang-kacangan lainnya juga dianggap mampu untuk menurunkan risiko terkena penyakit diabetes mellitus tipe 2, menjaga berat badan, dan menurunkan risiko penyakit jantung.

Jadi, lebih baik protein hewani atau protein nabati?

Kedua jenis protein ini sama-sama baik dan diperlukan untuk tubuh. Namun yang perlu diperhatikan adalah beberapa sumber protein hewani memiliki jumlah lemak yang juga tinggi sehingga hal tersebutlah yang meningkatkan peluang terkena penyakit jantung dan penyakit degeneratif lainnya. Pemilihan sumber protein yang tepat serta jumlah yang seimbang dapat membuat tubuh menjadi lebih sehat dan fungsi tubuh bisa berjalan normal.

BACA JUGA:

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Panduan Diet Tinggi Serat, Cara Sehat untuk Turunkan Berat Badan

Salah satu diet yang dipercaya mampu menurunkan berat badan dengan aman dan sehat adalah diet tinggi serat. Seperti apa aturannya? Cari tahu di sini.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Nutrisi, Hidup Sehat 11 September 2020 . Waktu baca 5 menit

Antara Dada dan Paha Ayam, Mana yang Lebih Banyak Gizinya?

Paha ayam lebih murah dan lebih mudah untuk diolah. Di sisi lain, dada ayam lebih ekonomis karena dagingnya lebih banyak. Bagaimana dari sisi kesehatannya?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Nutrisi, Hidup Sehat 1 September 2020 . Waktu baca 5 menit

Kaki Kram Terus? Mungkin Anda Kekurangan 6 Nutrisi Ini

Bangun tidur tiba-tiba kaki kram? Duh, pasti mengganggu sekali! Pastikan kram tak kambuh lagi dengan meningkatkan asupan beragam nutrisi penting ini, ya.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Tips Sehat 26 Agustus 2020 . Waktu baca 4 menit

Cara Menghitung Porsi Makan Ideal untuk Anda

Apakah selama ini Anda asal menyendokkan makanan ke piring? Jangan salah. Begini cara tepat untuk menghitung porsi makan ideal untuk orang dewasa.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Nutrisi, Hidup Sehat, Tips Sehat 20 Agustus 2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

10 Makanan Lezat yang Mengandung Protein Tinggi

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 28 September 2020 . Waktu baca 3 menit
beras merah lebih sehat

Ini Alasannya Kenapa Nasi Merah Jauh Lebih Sehat dari Nasi Putih

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Dipublikasikan tanggal: 22 September 2020 . Waktu baca 4 menit
Konten Bersponsor
lansia bermain di pantai berkat kesehatan yang baik, seperti menjaga keseimbangan mikrobiota usus dengan probiotik

Begini Peran Penting Probiotik untuk Kesehatan Lansia

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Willyson Eveiro
Dipublikasikan tanggal: 18 September 2020 . Waktu baca 4 menit
multivitamin gummy dewasa

Multivitamin Gummy untuk Dewasa, Benarkah Lebih Sehat?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 18 September 2020 . Waktu baca 4 menit