Antara Splenda dan Stevia, Mana Pemanis Buatan yang Lebih Sehat?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 23/10/2017 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Batasi konsumsi gula jika Anda ingin terbebas dari diabetes. Diabetes membuat Anda harus makan lebih hati-hati. Salah makan bisa membuat gula darah Anda meningkat dan diabetes Anda bertambah parah. Kadang, menggunakan pemanis buatan, seperti splenda dan stevia, dapat membantu mengontrol gula darah bagi para pasien diabetes. Namun, di antara splenda dan stevia, mana yang lebih baik?

Apa itu splenda?

Splenda atau sukralosa merupakan salah satu pemanis buatan yang mempunyai tingkat kemanisan 600 kali lebih manis dibandingkan dengan gula biasa. Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat mencatat bahwa splenda bisa menjadi pengganti gula untuk pembakaran panas yang tinggi, karena sifat panasnya stabil.

Jadi tidak masalah jika splenda digunakan untuk memasak makanan yang dipanggang, ditambahkan dalam minuman panas, dan lainnya.

Splenda juga merupakan pemanis buatan yang bebas kalori. Hal ini karena sebagian besar splenda hanya lewat saja di tubuh Anda, tanpa dicerna. Sehingga, splenda tidak berpengaruh pada gula darah dan asupan kalori Anda. Ini membuat Anda terbebas dari kenaikan berat badan akibat konsumsi gula berlebih, sekaligus mencegah gula darah naik.

Apa itu stevia?

Stevia merupakan pemanis buatan yang terbuat dari daun tanaman Stevia rebaudiana. Berbeda dengan splenda, stevia mempunyai tingkat kemanisan yang lebih rendah, yaitu hanya sebesar 200-400 kali lebih manis dibandingkan gula biasa.

Namun, tenyata tidak semua jenis pemanis stevia aman digunakan. Menurut FDA, pemanis stevia dengan kemurnian tinggi, seperti Rebaudioside A, umumnya aman digunakan. Namun, ekstrak daun stevia mentah tidak termasuk produk stevia yang aman dikonsumsi.

Sama seperti splenda, stevia juga termasuk pemanis buatan yang bebas kalori sehingga dapat menurunkan risiko Anda mengalami kenaikan berat badan. Namun sayangnya, stevia bisa memberi sedikit rasa pahit pada makanan.

pemanis buatan saat hamil

Mana pemanis buatan yang lebih baik antara splenda dan stevia?

Splenda dan stevia, keduanya termasuk pemanis buatan yang mempunyai kemanisan beratus-ratus kali lipat dibandingkan dengan gula meja. Walaupun memberi rasa manis, namun baik splenda maupun stevia tidak memengaruhi kadar gula darah Anda. Sehingga, pemanis buatan ini banyak dimanfaatkan sebagai pengganti gula bagi para diabetesi. 

Jika dibandingkan, splenda mungkin bisa menjadi pilihan yang lebih baik daripada stevia untuk memberi rasa manis pada makanan dengan suhu tinggi, seperti ditambahkan saat membuat adonan kue. Namun, stevia juga tak kalah memberikan rasa manis.

Walaupun sangat bermanfaat dan umumnya aman dikonsumsi, jangan mengonsumsi splenda maupun stevia dalam jumlah berlebihan. Bagaimanapun, splenda dan stevia adalah produk buatan yang bisa menimbulkan risiko dalam jangka panjang (walaupun risiko ini belum diketahui dengan pasti).

Sebuah penelitian dalam Journal of Pharmacology and Pharmacotherapeutics tahun 2011 pernah melaporkan bahwa sukralosa atau splenda dapat menjadi racun dalam kondisi tertentu dan meningkatkan risiko kanker karena termasuk klorida organik. Namun, teori lain mengatakan bahwa proses pencernaan splenda dalam tubuh tidak menyediakan kondisi yang tepat bagi splenda untuk melepas klorida, sehingga risiko splenda menjadi racun dan meningkatkan risiko kanker sangat kecil terjadi.

Yang terpenting dan harus Anda ingat, sebaiknya gunakan splenda atau stevia jika diperlukan saja dan jangan sampai berlebihan. Selain itu, Anda juga masih perlu membatasi konsumsi makanan atau minuman manis dan konsumsi gula tambahan agar gula darah tetap terjaga.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Tunda Dulu ke Rumah Sakit Selama Wabah, Ini Tips untuk Diabetesi Selama di Rumah

Diabetesi termasuk golongan yang rentan terjangkit virus COVID-19. Selain lakukan upaya pencegahan, jaga juga kadar gula darah di rumah dengan tips berikut.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Konten Bersponsor
diabetesi
Coronavirus, COVID-19 30/04/2020 . Waktu baca 4 menit

6 Manfaat Jalan Kaki untuk Penderita Diabetes

Penderita diabetes perlu mengontrol diabetesnya. Salah satu yang bisa dilakukan, yaitu jalan kaki. Apa manfaat jalan kaki bagi penderita diabetes?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Diabetes, Health Centers 26/04/2020 . Waktu baca 4 menit

Apa Saja Camilan yang Boleh Dimakan Penderita Diabetes dalam Sehari?

Memilih camilan untuk penderita diabetes tidak boleh sembarangan. Selain perlu memperhatikan kandungan nutrisinya, jumlahnya pun tidak kalah penting.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Konten Bersponsor
camilan untuk penderita diabetes
Diabetes, Health Centers 24/04/2020 . Waktu baca 3 menit

Panduan Makan untuk Orang yang Punya Riwayat Diabetes

Risiko diabetes pada orang dengan riwayat keluarga akan meningkat sehingga perlu upaya untuk mencegah diabetes dengan menjaga dan memilih makanan sehat.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Konten Bersponsor
makanan untuk mencegah diabetes
Diabetes, Health Centers 23/04/2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

diabetes insipidus adalah

Diabetes Insipidus

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 06/08/2020 . Waktu baca 12 menit
sering buang air kecil

8 Kondisi yang Menjadi Penyebab Sering Buang Air Kecil

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Fauzan Budi Prasetya
Dipublikasikan tanggal: 06/08/2020 . Waktu baca 6 menit
prostatitis

Prostatitis

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Dipublikasikan tanggal: 05/08/2020 . Waktu baca 10 menit
penyakit kulit diabetes

5 Penyakit Kulit yang Umum Menyerang Pasien Diabetes

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Dipublikasikan tanggal: 13/06/2020 . Waktu baca 4 menit