Yang Perlu Anda Tahu Seputar Pangan Rekayasa Genetika

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 28 September 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Mungkin Anda pernah mendengar atau menerima pesan berantai yang gencar disebarkan di media sosial soal pangan rekayasa genetika (PRG) atau genetically modified foods. Pangan rekayasa genetika memang akhir-akhir ini menjadi isu yang dikhawatirkan banyak orang. Pasalnya, pangan rekayasa genetika adalah sebuah inovasi dalam bidang pertanian yang keamanan dan manfaatnya belum diakui secara konsensus atau universal. Untuk memahami serba-serbi pangan yang disingkat PRG ini, simak informasi berikut.

Apa itu pangan rekayasa genetika?

Teknik rekayasa genetika pada pangan pertama kali dikembangkan untuk menjawab berbagai permasalahan seperti ketahanan pangan dan perubahan iklim. PRG diciptakan melalui teknik bioteknologi modern. PRG telah mengalami perubahan atau modifikasi gen yang tidak alami (direkayasa oleh manusia) dengan cara melakukan persilangan atau pemindahan gen dari jenis hayati lain. Cara ini juga dikenal dengan istilah transgenik.

Apa saja contoh yang sudah beredar?

Berbagai jenis PRG yang telah tersedia di Indonesia sejak akhir tahun 1990an antara lain kedelai, jagung, dan tebu. Pangan rekayasa genetika tersebut diimpor dari negara-negara yang telah menanam dan memproduksi sendiri pangan rekayasa genetika. Indonesia sendiri belum berhasil mengembangkan tanaman transgenik. Di seluruh dunia, pengembangan PRG sudah lebih maju dan marak dilakukan. Amerika Serikat adalah salah satu negara yang sudah menggunakan bibit-bibit transgenik seperti jagung, tomat, kentang, dan pepaya.

Apa saja keunggulannya?

Berbagai masalah seperti pertumbuhan penduduk dan kondisi cuaca yang tidak stabil karena perubahan iklim menimbulkan tantangan sendiri bagi sumber pangan manusia. Setiap tahunnya, permintaan untuk bahan-bahan pangan pokok seperti jagung dan padi terus meningkat sementara ketersediaannya terus menurun karena kekeringan atau banjir. Maka, PRG dirancang sedemikian rupa untuk memastikan ketersediaan bahan pangan yang unggul. Biasanya PRG memiliki keunggulan sebagai berikut.

  • Tanaman transgenik lebih resistan terhadap hama, virus, dan penyakit
  • Tidak memerlukan banyak pestisida karena sifat tanaman transgenik sudah kebal terhadap serangan virus atau hama
  • Tanaman transgenik lebih tahan kekeringan karena hanya membutuhkan sedikit sumber daya seperti air dan pupuk
  • Pangan transgenik memiliki rasa yang lebih kuat dan enak  
  • Pangan transgenik memiliki zat gizi yang lebih kaya
  • Pertumbuhan tanaman transgenik lebih cepat
  • Daya simpan pangan transgenik lebih lama (tidak cepat busuk) sehingga pasokan makanan meningkat
  • Modifikasi sifat pangan sehingga hasilnya lebih sesuai dengan kebutuhan, misalnya kentang transgenik bisa memproduksi karsinogen yang lebih sedikit ketika digoreng

Apakah pangan rekayasa genetika aman dikonsumsi?

Meskipun pangan yang dihasilkan dari tanaman transgenik memiliki banyak keunggulan, masih banyak orang yang meragukan PRG. Keraguan terhadap pangan rekayasa genetika biasanya berkisar seputar keamanan dan efek sampingnya bagi manusia, antara lain sebagai berikut.

  • Hasil pangan dari tanaman transgenik berpotensi memiliki kandungan yang beracun atau menyebabkan alergi
  • Perubahan gen yang berbahaya, tak terduga, atau tak diinginkan
  • Berkurangnya zat gizi atau kandungan-kandungan lain karena proses persilangan gen
  • Pangan transgenik menyebabkan resistansi terhadap antimikroba alami

Pada kenyataannya, PRG dan bibit-bibit tanaman transgenik yang sudah beredar di dunia saat ini telah diatur dan lulus uji keamanan pangan yang dilakukan oleh masing-masing negara tempat didistribusikannya produk atau hayati tersebut. Di Indonesia sendiri yang bertangung jawab untuk menguji dan mengawasi PRG adalah Balai Kliring Keamanan Hayati dan Badan Pengawas Obat dan Makanan, sesuai dengan mandat yang tercantum dalam undang-undang, peraturan pemerintah, dan surat keputusan bersama lintas kementerian.

Uji keamanan yang dilakukan meliputi uji toksisitas, alergenitas, perubahan nilai gizi terkait perubahan genetika, serta kesepadanan substansial dalam pangan transgenik tersebut. Jika ditemukan zat-zat atau kandungan yang berpotensi membahayakan kesehatan, pangan rekayasa genetika tidak akan diberi izin untuk dijual dan didistribusikan. Ini berarti PRG yang sudah tersedia di Indonesia saat ini aman untuk dikonsumsi.

Bagaimana cara membedakannya dengan pangan biasa?

Peraturan Pemerintah no. 69 tahun 1999 tentang Label dan Iklan Pangan mewajibkan produsen untuk mencantumkan keterangan bagi produk-produk PRG. Karena kebanyakan PRG adalah produk impor, perhatikan label yang menempel pada produk pangan tersebut. Apabila produk tersebut ditempeli stiker atau label dengan nomor seri 5 digit yang dimulai dengan angka 8, maka produk tersebut adalah pangan rekayasa genetika. Untuk produk-produk olahan, perhatikan komposisi yang biasanya dicantumkan di bagian belakang kemasan. Seharusnya ada keterangan jika bahan-bahan tertentu dalam produk tersebut yang berasal dari tanaman transgenik. Jadi, Anda harus benar-benar jeli saat memilih produk pangan.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Pekerjaan Rumah Tangga Ini Dilarang Bagi Ibu Hamil

Meski sedang hamil, ibu tetap direpotkan untuk melakukan pekerjaan rumah. Namun, apakah semua pekerjaan rumah tangga saat hamil aman untuk dilakukan?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Kehamilan & Kandungan, Kehamilan 21 Oktober 2020 . Waktu baca 3 menit

6 Cara Praktis Membuat Kopi Anda Lebih Sehat dan Nikmat

Kenikmatan kopi sudah tidak diragukan. Namun, tahukan Anda ada beberapa cara membuat kopi yang dapat menjadikan manfaatnya lebih baik untuk kesehatan.

Ditulis oleh: Novita Joseph
Hidup Sehat, Tips Sehat 21 Oktober 2020 . Waktu baca 3 menit

Kenapa Ada Orang yang Mengalami Alergi Bawang Putih dan Bisakah Diobati?

Selain alergi susu dan kacang, ada juga alergi bawang putih. Apa penyebabnya dan adakah cara mengatasinya? Simak penjelasan berikut ini.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Alergi, Alergi Makanan 20 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit

4 Penyakit Akibat Makan Daging Ayam Belum Matang (Plus Ciri-cirinya)

Anda suka nekat makan daging ayam belum matang? Awas, akibatnya bisa fatal. Ini dia berbagai bahaya dan ciri-ciri daging ayam yang belum dimasak sempurna.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Tips Sehat 20 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

KDRT konflik rumah tangga

Alasan Psikologis Mengapa Korban KDRT Susah Lepas dari Jeratan Pasangan

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 22 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
tips menghindari perceraian

7 Rahasia Menghindari Perceraian dalam Rumah Tangga

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 22 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit
makanan untuk penderita thalasemia

Panduan Makanan Bergizi untuk Orang dengan Thalassemia

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Rr. Bamandhita Rahma Setiaji
Dipublikasikan tanggal: 22 Oktober 2020 . Waktu baca 7 menit
masalah seks pada pria

5 Masalah Seks yang Paling Mengganggu Pria (Plus Cara Mengatasinya)

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 21 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit