Mau Operasi LASIK untuk Menyembuhkan Minus Mata? Baca Ini Dulu

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 30 September 2020 . Waktu baca 9 menit
Bagikan sekarang

LASIK adalah prosedur bedah mata dengan teknologi laser untuk memperbaiki gangguan penglihatan seperti rabun jauh, rabun dekat, atau mata silinder. Operasi LASIK mata dapat menjadi pilihan bagi Anda yang kurang nyaman menggunakan kacamata atau lensa kontak. Prosedur ini efektif meningkatkan penglihatan pada penderita mata minus tinggi. Namun selayaknya operasi mata lainnta, LASIK pun memiliki efek samping yang penting diketahui bagi Anda yang ingin melakukannya.

Apa itu operasi LASIK?

LASIK (laser-assisted in situ keratomileusis) adalah salah satu jenis bedah refraktif yaitu operasi mata yang bertujuan memperbaiki gangguan refraksi (pembiasan) mata. Operasi LASIK mata dapat mengobati rabun jauh (miopi), rabun dekat (hipermetropi), dan mata silinder (astigmatisme).

Seperti dilansir dari American Academy of Ophthalmology, prosedur LASIK mengandalkan teknologi laser yang digunakan untuk memperbaiki bentuk kelengkungan kornea sehingga mata bisa memfokuskan cahaya ke retina dengan tepat.

Kornea terletak di bagian depan mata yang berfungsi menangkap cahaya untuk diteruskan pada retina yang berada di belakang mata. Retina nantinya akan mengantarkan sinyal cahaya untuk diproses menjadi gambar di otak.

Dalam prosedur ini, dokter bedah mata membuat flap yaitu lapisan atau lipatan tipis di kornea. Dokter bedah kemudian melipat kembali flap tersebut, lalu dengan menggunakan laser jaringan kornea yang terletak di bawah flap akan dikikis sampai kornea membentuk kelengkungan yang normal.

Bahi orang dengan rabun jauh, operasi LASIK digunakan untuk meratakan kornea yang melengkung terlalu tajam. Namun, bagi orang yang memiliki rabun dekat, bedah refraktif dilakukan untuk menambahkan kelengkungan kornea yang terlalu datar. LASIK mata juga dapat membenarkan kornea yang tidak teratur menjadi normal untuk penderita astigmatisme.

Bagaimana prosedur LASIK mata dilakukan?

smile dan LASIK

LASIK mata dilakukan saat pasien berbaring di bawah perangkat bedah yang disebut dengan excimer laser pada ruang bedah rawat jalan. Pertama, mata akan diberi beberapa tetes anestesi topikal agar mati rasa.

Penahan kelopak mata ditempatkan di antara kelopak mata agar mata terus terbuka dan mencegah pasien untuk berkedip. Sebuah cincin hisap diletakkan pada mata yang terbuka untuk meratakan kornea dan mencegah mata bergerak.

Pasien mungkin akan merasakan tekanan dari penahan kelopak mata dan cincin hisap, hal ini mirip dengan jari yang ditekan tegas pada kelopak mata. Ketika cincin hisap dipasang di mata, pandangan akan meredup atau menjadi gelap.

Setelah kornea diratakan, flap pada jaringan kornea diciptakan dengan menggunakan  perangkat microsurgical seperti laser atau pisau bedah. Kemudian flap kornea ini diangkat dan dilipat kembali. Lalu, excimer laser akan mengukur mata sebelum diprogram.

Dokter akan memeriksa bahwa laser tersebut sudah berada pada posisi yang tepat. Setelah laser memotong jaringan kornea, dokter kemudian menempatkan flap kembali dan menghaluskan sisinya.

Flap akan menempel pada jaringan kornea dalam 2-5 menit tanpa memerlukan jahitan. Setelah operasi selesai, dokter akan memberikan obat tetes mata dan pelindung mata agar mata terlindungi dari gesekan. Pemulihan penglihatan setelah operasi lasik akan memakan waktu 3-6 bulan setelah operasi.

Apa yang harus dipersiapkan sebelum operasi LASIK?

Sebelum melakukan operasi LASIK mata, sebaiknya Anda melakukan hal-hal sebagai berikut:

  • Tidak memakai soft contact lenses selama 2 minggu sebelum evaluasi awal.
  • Tidak memakai toric soft contact lenses atau rigid gas permeable (RGP) lenses selama 3 minggu sebelum evaluasi pertama.
  • Tidak memakai hard lenses selama 4 minggu sebelum evaluasi pertama.
  • Tidak menggunakan berbagai krim, losion, make up, dan parfum sehari sebelum operasi.

Apa yang harus dilakukan pasca operasi LASIK?

Setelah melakukan operasi LASIK, kondisi Anda belum pulih sepenuhnya. Anda membutuhkan waktu 3-6 bulan hingga mata dapat melihat dengan baik.

Selama masa pemulihan, pasien biasanya akan mengalami efek samping  seperti mata kering, pandangan kabur, dan lebih sensitif terhadap cahaya terang. Untuk mengatasi efek sampin ini, dokter biasanya akan meresepkan obat antibiotik dan obat tetes mata steroid.

Selain itu, Anda juga harus melakukan perawatan mata pasca operasi LASIK mata seperti:

  • Tidak melakukan olahraga apapun selama 3 hari.
  • Tidak menggunakan make up mata apapun selama 2 minggu.
  • Tidak menggosok mata terlalu keras selama masa pemulihan berlangsung
  • Tidak mengenakan sampo dan sabun muka selama masa pemulihan.
  • Menggunakan kacamata hitam saat keluar dan terpapar matahari.
  • Hindari mengemudi jarak jauh atau dalam waktu lama.
  • Tidak melakukan kegiatan atau olahraga yang berat selama 1 bulan, terutama berenang dan kegiatan di air lainnya seperti sauna dan berendam.
  • Menggunakan pelindung mata di malam hari selama 1 bulan.
  • Tidak naik pesawat karena berada dalam permukaan yang lebih tinggi dapat meningkatkan tekanan pada bola mata dan memperlambat pemulihan.

Jangan lupa untuk menaati segala peraturan yang diberikan oleh dokter agar mata dapat pulih secara sempurna. Anda akan menjalani kontrol rutin pasca operasi dengan dokter untuk mengevaluasi hasil operasi.

Fakta-fakta lainnya seputar operasi LASIK mata

mata perih

Banyak mitos yang beredar seputar operasi LASIK. Untuk mengetahui bahwa mitos tersebut tidak benar, perhatikan berbagai fakta berikut ini:

1. LASIK tidak membuat kebutaan

Hingga saat ini belum ada kasus kebutaan akibat komplikasi operasi LASIK mata. Risiko kebutaan dari operasi ini sama dengan risiko kebutaan dari pemakaian lensa kontak yang artinya risiko tersebut sangatlah kecil.

2. Tidak semua metode LASIK aman dilakukan

Sstiap prosedur LASIK sama-sama melibatkan pembuatan flap di permukaan kornea. Prosedur LASIK IntraLase memanfaatkan laser untuk membuat flap, sedangkan prosedur LASIK mata biasa menggunakan pisau untuk membuat flap.

IntraLase memiliki risiko tersendiri, seperti sensitivitas terhadap cahaya, meskipun jarang terjadi. Dokter bedah mata Anda akan membantu Anda untuk menentukan prosedur yang tepat untuk dilakukan.

3. Tidak semua orang dapat mengikuti operasi LASIK

Meskipun banyak orang telah melakukan melakukan operasi LASIK mata, banyak juga orang yang tidak dapat melakukannya. Bedah refraktif memang lebih dipioritaskan bagi orang yang memiliki kondisi mata rabun yang parah, seperti memiliki mata minus di atas -4 dioptri atau penurunan penglihatan ini terus bertambah setiap tahunnya.

Sekitar 30% pasien yang dievaluasi oleh dokter mata secara rutin, ditolak untuk melakukan operasi LASIK. Penyebabnya adalah usia di bawah 18 tahun, sedang hamil atau menyusui, memiliki penyakit atau kondisi kesehatan tertentu atau kondisi mata yang kurang stabil.

Namun, wanita hamil dan ibu menyusui sebenarnya boleh melakukan operasi ini. Setelah melakukan LASIK, wanita hamil tetap boleh melahirkan normal. Pasalnya, melahirkan secara normal maupun lewat operasi caesar tidak memengaruhi kondisi penglihatan dan retina ibu bersalin.

Untuk kepastian serta kesesuaian dengan kondisi kesehatan Anda, konsultasikan pada dokter apakah operasi LASIK mata boleh dilakukan

4. Operasi LASIK bebas dari rasa sakit

LASIK adalah prosedur efektif paling populer saat ini yang sebagian besar disebabkan oleh kemudahan operasi itu sendiri. Tetes mata digunakan untuk membius mata, dan menjaga mereka nyaman selama operasi dilakukan yang memakan waktu hanya 15 menit untuk kedua mata.

Anda akan merasakan tekanan sebentar, namun proses laser pada mata bebas dari rasa sakit. Jika Anda merasa gugup sebelum prosedur dimulai, maka dokter bedah akan memberikan obat penenang berdosis ringan untuk membuat Anda santai.

Komplikasi LASIK yang mungkin terjadi setelah operasi

operasi lasik

Meskipun pengobatan LASIK  mata cukup aman, tapo Anda tetap perlu mengetahui kemungkinan komplikasi dari prosedur bedah refraksi mata ini:

1. Komplikasi flap

Jika flap tidak dibuat dengan benar, flap tidak dapat menempel dengan benar pada kornea dan striae (jaringan halus), dan kerutan mikroskopik dapat muncul pada flap. Ini menyebabkan berkurangnya kualitas penglihatan. Memilih dokter mata yang berpengalaman dapat mengurangi risiko komplikasi LASIK mata ini.

2. Silinder tidak teratur

Dapat terjadi jika laser tidak terpusatkan dengan benar pada mata, membuat permukaan yang tidak rata pada bagian depan mata. Ini dapat menyebabkan penglihatan ganda. Dalam kasus ini, pasien membutuhkan pengobatan LASIK mata ulang.

3. Keratektasia

Ini adalah komplikasi bedah refraktif yang sangat langka tetapi serius. Ini adalah kondisi di mana kornea secara abnormal menonjol ke depan. Ini terjadi jika kornea sebelum operasi terlalu lemah atau jika terlalu banyak jaringan diangkat dari kornea.

4. Undercorrection, overcorrection, penurunan penglihatan

Undercorrection/overcorrection terjadi saat laser mengangkat terlalu sedikit/terlalu banyak jaringan kornea. Dalam kasus ini, pasien tidak akan mendapatkan penglihatan sejelas yang mereka harapkan dan masih harus menggunakan kacamata atau lensa kontak untuk beberapa atau semua aktivitas.

LASIK mata memang efektif memperbaiki gangguan penglihatan, tapi gangguan mata yang disebabkan oleh bertambahnya usia seperti presbiopi dan katarak tidak dapat ditangani melalui operasi. Prosedur perbaikan penglihatan yang lainnya mungkin bisa menjadi solusi seperti implan kornea, dan operasi penggantian lensa mata.

Jangan lupa agar manfaat operasi LASIK bertahan lebih lama, Anda juga tetap menjaga kesehatan  mata dengan sering mengistirahatkan mata saat bekerja dan makan makanan bernutrisi yang mengandung omega dan vitamin A.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Cara Mengatasi Mata Minus, dari Kacamata Hingga Kebiasaan Sehat

Penggunaan kacamata minus dapat menjadi cara mengobati rabun jauh (miopi) yang utama. Namun, ada juga cara lain mengatasi mata minus tanpa bantuan kacamata.

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Kesehatan Mata, Hidup Sehat 9 Juli 2018 . Waktu baca 7 menit

Mengenal 3 Generasi Bedah Refraktif Dengan Laser untuk Mata

Ingin mengatasi berbagai masalah penglihatan? Bedah refraktif bisa jadi solusi yang tepat. Tapi di antara tiga jenis yang ada, mana yang terbaik?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Thendy Foraldy
Tips Sehat 30 Desember 2017 . Waktu baca 5 menit

Bedah SMILE, Prosedur Baru untuk Mengatasi Mata Minus yang Lebih Ampuh Daripada LASIK

Selain LASIK, saat ini sudah ada bedah ReLEx SMILE yang bisa menyembuhkan mata minus. Namun, apa bedanya SMILE dan LASIK dan mana yang lebih baik?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Thendy Foraldy
Hidup Sehat, Fakta Unik 28 November 2017 . Waktu baca 4 menit

Setelah LASIK Tidak Boleh Melahirkan Normal, Mitos Atau Fakta?

Banyak yang percaya bahwa setelah operasi LASIK, wanita sudah tidak boleh melahirkan normal. Apakah isu ini benar? Begini penjelasannya.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. Gladys Riany
Hidup Sehat, Fakta Unik 26 Oktober 2017 . Waktu baca 3 menit

Direkomendasikan untuk Anda

setelah lasik minus lagi

Apakah Mata Bisa Minus Lagi Setelah LASIK?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Dipublikasikan tanggal: 1 Februari 2020 . Waktu baca 5 menit
Kelainan refraksi mata

Kelainan Refraksi

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Dipublikasikan tanggal: 17 Desember 2018 . Waktu baca 7 menit
ciri-ciri mata silinder

4 Ciri Utama yang Menunjukkan Anda Memiliki Mata Silinder

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 28 Agustus 2018 . Waktu baca 5 menit
perawatan mata setelah lasik

Panduan Perawatan Mata Setelah Operasi LASIK

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. Edwin Tan
Dipublikasikan tanggal: 14 Juli 2018 . Waktu baca 3 menit