5 Ciri Kejang Otot Berbahaya yang Harus Diwaspadai

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum

Kejang otot biasanya terjadi ketika Anda baru bangun tidur dan merasakan salah satu bagian tubuh terasa kram dan tidak bisa digerakkan, umumnya pada jari kaki atau otot betis. Faktanya, American Academy of Family Physicians menemukan bahwa 60 persen orang dewasa menderita kejang otot di malam hari, yang mana juga bisa berdampak pada insomnia.

Meskipun kejang otot biasanya tidak terlalu menyebabkan dampak serius, Anda perlu waspada jika mengalami kram otot dengan tanda-tanda seperti ini. 

Ciri kejang otot yang harus segera diperiksakan

1. Otot kaki yang kejang pada jarak olahraga yang selalu sama

Untuk atlet pelari, atau bahkan Anda yang hobi lari jarak jauh, biasanya Anda tidak asing dengan otot betis yang terasa kaku. Tetapi, jika Anda selalu merasakan kram saat berada di jarak tempuh lari yang sama terus, bisa jadi Anda mengalami sindrom kompartemen.

Houman Danesh, MD, direktur di Mount Sinai’s Integrative Pain Management mengatakan, kondisi ini biasanya disebabkan oleh bagian otot kaki yang melebar. Nah, untuk beberapa pelari atau orang yang pernah punya cedera di otot, otot bisa lebih melebar memenuhi ruang pada bagian kaki Anda.

Pasalnya, saat Anda berlari dalam kondisi normal, otot memerlukan ruang dan aliran darah yang cukup untuk mengembang. Sedangkan pada beberapa tubuh orang, terkadang otot tidak punya cukup ruang untuk mengembangkan dirinya. Dengan demikian, jumlah tekanan yang berlebihan terbentuk di daerah otot tertentu, dalam hal ini betis, dapat mencegah aliran darah dan menyebabkan kerusakan jaringan yang parah.

Meski sindrom ini jarang terjadi, ini bukan sesuatu yang bisa Anda sepelekan. Bila Anda sering mengalami kejang otot di jarak atau waktu lari yang selalu sama, ada baiknya berkonsultasi ke dokter.

2. Kejang otot disertai bengkak, kemerahan, dan perubahan warna

Selanjutnya, ada tanda kejang otot yang disertai kemerahan. Selain kemerahan, otot yang mengejang jika disertai dengan adanya pembengkakkan dan perubahan warna pada kulit bisa menandakan adanya penggumpalan darah dalam tubuh Anda.

Meskipun gumpalan tidak terlalu berbahaya, namun seiiring waktu bisa pecah dan menimbulkan kondisi seperti serangan jantung atau stroke. Dr. Danesh juga mengingatkan bahwa penggumpalan darah cenderung meningkat ketika wanita mengonsumsi pil KB atau Anda yang sedang berpergian dengan pesawat terbang dan duduk di waktu yang lama.

3. Kejang otot yang berlangsung dalam waktu lama

Kram atau otot mengencang yang berlangsung sebentar saja sudah sangat tidak nyaman rasanya, apalagi dirasakan dalam waktu yang lama. Bila Anda mengalami kondisi otot kejang dalam waktu yang lama sampai memengaruhi aktivitas sehari-hari Anda, jangan diabaikan.

Dr. Danesh mengatakan, bahwa kram dalam waktu yang lama bisa menjadi tanda adanya sesuatu yang buruk dalam tubuh Anda. Contohnya seperti suplai darah yang tidak memadai ke anggota tubuh Anda, yang biasanya disebabkan oleh kolesterol tinggi. Bisa juga akibat saraf terjepit di punggung atau arteri terjepit, yang  mana bisa ditandai dengan adanya kram atau kejang pada otot kaki.

4. Muncul rasa mual, demam, dan disertai muntah

Kejang otot yang disertai dengan rasa mual, demam, dan berakhir muntah bisa menandakan adanya sesuatu yang salah dalam tubuh. Kondisi ini biasanya disebabkan oleh dehidrasi.

5. Disertai panas dan kesemutan

Terakhir, jika Anda mengalami kejang otot disertai dengan rasa panas dan kesemutan, hal ini merupakan salah satu gejala hernia disk. Hernia disk adalah kondisi di mana terdapat piringan yang terselip sepanjang tali tulang belakang, keadaan tersebut terjadi ketika seluruh atau sebagian pusat piringan tulang belakang yang lunak ditekan sepanjang bagian atau piringan yang lemah.

Kondisi ini juga bisa terjadi dengan munculnya rasa panas terbakar di bagian bawah tubuh, terutama kaki. Salah satu penanganan utamanya bisa dilakukan dengan cara mengoleskan krim hangat guna melemaskan otot-otot. Bila sering berlangsung lama dan terjadi secara terus menerus, ada baiknya menghubungi dokter untuk pengobatan lebih lanjut.  

Baca Juga: