home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Gejala dan Penyebab Kanker Darah Myelofibrosis

Gejala dan Penyebab Kanker Darah Myelofibrosis

Tubuh memiliki beberapa cara untuk memproduksi sel darah salah satunya dengan menggunakan jaringan sumsum tulang. Jaringan yang terdapat di beberapa tulang ini adalah tempat memproduksi sel darah terbesar di samping beberapa organ lain. Masalah kesehatan yang serius akan terjadi jika jaringan sumsum tulang mengalami gangguan, salah satunya myelofibrosis.

Apa itu myelofibrosis?

Myelofibrosis merupakan kelainan, atau juga dapat dikategorikan sebagai kanker darah, yang disebabkan adanya inflamasi dan pembentukan fibrosis (jaringan parut) pada jaringan sumsum tulang, menyebabkan sel darah yang dihasilkan menjadi abnormal. Saat seseorang mengalami gangguan ini, maka kondisi tersebut tidak dapat disembuhkan, dan penderita myelofibrosis akan membutuhkan penanganan khusus.

Kelainan sumsum tulang ini menyebabkan sebagian besar jaringan sumsum tulang tergantikan dengan jaringan parut akibat adanya inflamasi. Dalam waktu yang lama akan menyebabkan sumsum tulang mengalami kegagalan fungsi karena tidak dapat menghasilkan berbagai sel darah yang dibutuhkan.

Dampak utama yang disebabkan dari myelofibrosis adalah penurunan sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit) dan keping darah (trombosit) dalam tubuh. Hal ini menyebabkan organ lain pembentuk darah seperti limfa dan liver bekerja sangat keras untuk menyeimbangkannya.

Perbedaan myelofibrosis dengan gangguan pembentukan sel darah lainnya

Selain myelofibrosis terdapat beberapa gangguan pembentukan sel darah yang melibatkan fungsi sumsum tulang, di antaranya leukemia dan polisitemia vera.

Berbeda dengan myelofibrosis, leukemia adalah penyakit kanker darah yang menyebabkan kerusakan sumsum tulang. Leukemia diawali dengan adanya sel darah dengan kelainan yang dihasilkan sumsum tulang belakang bersamaan dengan sel darah normal. Seiring berjalannya waktu, sel darah leukemia akan merusak sumsum tulang dan akibatnya menekan pembentukan sel darah normal. Baik myelofibrosis dan leukemia menyebabkan gejala akibat kekurangan sel darah dan penanganan yang hampir sama.

Di saat myelofibrosis menyebabkan tubuh kekurangan sel darah, gangguan polisitemia vera menyebabkan sumsum tulang belakang memproduksi sel darah yang sangat banyak. Kondisi ini menyebabkan tubuh kelebihan sel darah merah, namun terdapat kemungkinan menyebabkan kelebihan sel darah putih dan trombosit sehingga memicu gangguan aliran darah. Meskipun terdapat perbedaan yang cukup signifikan, namun keduanya disebabkan adanya faktor genetik pada sumsum tulang.

Gejala yang dialami oleh penderita myelofibrosis

Masing-masing sel darah memiliki fungsi spesifik sehingga kekurangan salah satu dari ketiganya menyebabkan gejala tersendiri:

  • Akibat kekurangan sel darah merah – menyebabkan penurunan transport oksigen pada aliran darah sehingga memicu anemia, rasa lemas, kesulitan bernapas, lelah dan pusing. Penderita juga mungkin merasakan nyeri pada tulang.
  • Akibat kekurangan sel darah putih – penurunan imunitas adalah hal utama yang mungkin dialami sehingga tubuh lebih rentan terserang penyakit.
  • Akibat kekurangan trombosit – kurangnya trombosit menyebabkan darah sulit membeku sehingga tubuh akan lebih sulit mengalami penyembuhan luka terbuka.

Karena sumsum tulang mengalami masalah organ penghasil darah tambahan seperti liver, limfa, dan paru-paru serta kelenjar getah bening mengalami kerja lebih untuk menghasilkan darah. Kondisi ini tentu saja akan berbahaya bagi tubuh karena dapat menyebabkan pembesaran organ terutama organ limfa. Jika hal ini terjadi, akan menyebabkan rasa nyeri dari bagian dalam terutama pada bagian perut.

Meskipun banyak gejala yang dapat dialami penderita, hal tersebut dapat tersamarkan seperti tidak ada gangguan yang dialami penderita myelofibrosis. Diagnosis sering ditemukan saat dilakukan pemeriksaan darah rutin. Namun, penderita myelofibrosis sangat mungkin mengalami anemia dan rasa lelah atau lemas yang tidak diketahui penyebabnya. Gejala lainnya juga dapat berupa demam, penurunan berat badan, rasa gatal, dan berkeringat sangat banyak saat malam hari.

Apa penyebab myelofibrosis?

Kelainan genetik adalah hal utama yang memicu gangguan inflamasi dan pertumbuhan jaringan parut abnormal pada sumsum tulang. Terdapat tiga mutasi gen yang dapat menyebabkan kondisi ini diantaranya JAK2, CALR dan MI. Ketiga kode genetik ini dapat berubah atau mengalami mutasi seiring dengan pertambahan usia. Oleh karena itu, hal ini tidak diturunkan dari orangtua dan penderita tidak akan menurunkan kondisi tersebut kepada anaknya.

Siapa saja yang berisiko terkena myelofibrosis?

Pada dasarnya semua orang baik dapat mengalami hal ini, kelainan dapat dimulai dan terjadi pada usia berapa saja, namun sering ditemukan pada usia lanjut. Myelofibrosis dapat terjadi untuk pertama kalinya (primer) karena mutasi genetik atau dipicu dari kondisi kanker darah lainnya seperti leukemia akan meningkatkan risiko seseorang mengalami gangguan ini. Paparan bahan radioaktif yang kuat dan racun kimia seperi benzene dan toluene juga dapat menyebabkan mutasi genetik penyebab myelofibrosis.

BACA JUGA:

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Black, F., 2016. Myelofibrosis Causes and Risk Factors. [Online] Available at: http://www.healthline.com/health/myelofibrosis/causes-and-risk-factors [Accessed 16 Aug 2016].

Leukaemia Foundation, 2016. Primary Myelofibrosis. [Online] Available at: http://www.leukaemia.org.au/blood-cancers/myeloproliferative-neoplasms-mpn/primary-myelofibrosis [Accessed 16 Aug 2016].

Nanda, R., 2015. Polycythemia vera. [Online] Available at: https://medlineplus.gov/ency/article/000589.htm [Accessed 16 Aug 2016].

The Leukemia & Lymphoma Society (LLS), n.d. LEUKEMIA. [Online] Available at: https://www.lls.org/leukemia?src1=27336&src2= [Accessed 16 Aug 2016].

WebMD, 2016. What Is Myelofibrosis? [Online] Available at: http://www.webmd.com/cancer/myelofibrosis-causes-risk-factors [Accessed 16 Aug 2016].


Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Kemal Al Fajar Diperbarui 02/11/2020
Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan