Alih-alih Menyembuhkan, Terapi Hormon Mungkin Membuat Kanker Prostat Kebal

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum

Terapi hormon adalah salah satu jenis pengobatan kanker prostat. Namun, penelitian menemukan bukti bahwa dalam beberapa kasus, terapi yang satu ini ternyata tidak selalu membuahkan hasil yang positif. Bahkan, ada bukti yang menyatakan bahwa pasien yang diberikan terapi hormon justru mengalami pertumbuhan sel kanker yang lebih cepat dan malah menyebar ke bagian tubuh lainnya. Mengapa bisa begitu?

Terapi hormon bukan satu-satunya pengobatan kanker prostat

obat cacing untuk obat kanker usus dan kanker prostata

Terapi hormon atau yang disebut juga dengan terapi deprivasi androgen adalah jenis pengobatan kanker prostat yang bertujuan untuk mengurangi kadar androgen (hormon laki-laki) di dalam tubuh. Pasalnya, androgen merangsang sel kanker prostat untuk tumbuh dan berkembang. Androgen utama di dalam tubuh yaitu testosteron dan dihidrotestosteron (DHT).

Dengan menurunkan kadar androgen melalui terapi hormon, kemungkinan besar kanker prostat yang dimiliki menyusut atau tumbuh lebih lambat untuk sementara waktu. Namun biasanya, terapi ini bukanlah perawatan satu-satunya melainkan perlu dibarengi dengan pengobatan lainnya untuk mendapatkan hasil yang efektif.

Kenapa terapi hormon untuk kanker prostat tidak selalu berhasil?

hormon testosteron penyebab kanker prostat

Terapi hormon adalah salah satu pengobatan kanker prostat yang cukup diandalkan sampai saat ini. Sayangnya, penelitian membuktikan bahwa terapi hormon untuk kanker prostat tidak selalu berhasil. Bahkan, para ahli menyatakan terapi hormon bisa membuat tumor menjadi kebal, agresif, dan menyebar lebih cepat ke bagian tubuh yang lain.

Para ahli di Cedars-Sinai Medical Center, Los Angeles, menyatakan pada sebagian pasien, sel kanker bisa menjadi kebal terhadap terapi hormon yang menargetkan androgen. Bukannya hilang, sel kanker justru menjadi resisten dan menyebar ke bagian tubuh lainnya.

Berdasarkan hasil penelitian, pada beberapa kasus terapi hormon ini bisa menyebabkan sel adenokarsinoma (kanker prostat tahap awal) berubah menjadi sel kanker tipe neuroendokrin. Sel kanker tipe neuroendokrin yaitu sel kanker prostat jenis langka yang biasanya muncul kurang dari satu persen kasus.

Neil Bhowmick, PhD., wakil ketua Cancer Biology Program di Cedars-Sinai menyatakan bahwa perubahan sel kanker inilah yang pada akhirnya menjadi permasalahan utama. Pasalnya, sel kanker yang berubah menjadi neuroendokrin menjadi sangat agresif, lebih mudah menyebar, dan lebih tahan terhadap pengobatan termasuk terapi hormon yang menargetkan androgen dan juga kemoterapi.

Berdasarkan hasil penelitian, Bhowmick menyatakan sekitar seperempat pasien pengguna terapi hormon ini justru mengalami kekambuhan setelah dinyatakan sembuh. Artinya, sel kanker prostat muncul kembali dan justru mengalami perubahan sel kanker dari yang tidak terlalu berbahaya menjadi langka dan cukup berbahaya.

Kadar glutamin meningkat saat sel kanker mulai resisten

komponen darah tes darah

Para ahli juga mengamati bahwa adanya perubahan sel kanker dari adenokarsinoma menjadi neuroendokrin disertai dengan peningkatan glutamin. Glutamin yaitu asam amino yang dikenal untuk mempercepat pertumbuhan kanker.

Glutamin adalah senyawa yang diproduksi di dalam sel stroma yang kemudian diubah secara genetik dan menjadi “sumber energi” untuk sel kanker terus berkembang. Penelitian juga membuktikan glutamin ini menjadi salah satu senyawa yang mengubah sel adenokarsinoma menjadi sel neuroendokrin.

Sehingga dari bukti yang ditemukan, para peneliti juga menyimpulkan bahwa pria yang memiliki kanker prostat dan sel kankernya telah resisten terhadap pengobatan memiliki kadar glutamin yang lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang sel kankernya masih merespon pengobatan.

Oleh karena itu, penelitian ini juga menjadi dasar bagi para ahli untuk mengembangkan metode tes darah sederhana pada pasien kanker prostat. Gunanya untuk mengukur kadar glutamin di dalam darah. Tes kadar glutamin ini nantinya diharapkan dapat melihat kapan terapi hormon yang menargetkan androgen ini gagal dan memprediksi kapan resistensi terapi hormon akan terjadi.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca