Mengenal Narkolepsi, Penyakit yang Bikin Anda Sering Ketiduran

Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 20 April 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Narkolepsi adalah suatu gangguan tidur kronis, di mana terjadi kelainan pada saraf yang menyebabkan seseorang dapat tiba-tiba tertidur dalam waktu dan tempat yang mungkin tidak sesuai untuk tidur. Kelainan ini menyerang kemampuan seseorang untuk mengontrol waktu tidurnya. Orang yang menderita narkolepsi mengalami kesulitan dalam mengendalikan rasa kantuk terutama di siang hari serta sulit untuk tetap bangun dalam waktu yang lama sehingga bisa tertidur kapan saja meskipun sedang beraktivitas.

Narkolepsi biasanya diderita oleh mereka yang berusia antara 15 hingga 25 tahun, meskipun sebenarnya siapapun dari segala usia dapat menderita kelainan ini. Dalam banyak kasus, biasanya narkolepsi tidak terdeteksi dan terdiagnosis sehingga tidak tertangani.

Apa saja gejala narkolepsi?

  • Rasa kantuk berlebihan saat siang hari: mereka yang menderita narkolepsi biasanya mengalami kesulitan untuk bangun dan tetap berkonsentrasi saat siang hari, waktu di mana biasanya seseorang beraktivitas.
  • Sleep attacks: jatuh tertidur tiba-tiba tanpa ada peringatan atau tanda-tanda sebelumnya. Penderita narkolepsi dapat tertidur saat sedang bekerja bahkan berkendara, dan ketika terbangun mereka tidak akan mengingat apa yang sudah terjadi.
  • Katapleksi: merupakan keadaan di mana seseorang kehilangan kontrol atas kekuatan otot-ototnya sehingga menyebabkan rasa lemas. Tidak hanya bisa tiba-tiba terjatuh, cataplexy juga bisa menyebabkan seseorang sulit untuk berbicara. KatapleksiĀ tidak dapat dikontrol dan biasanya cenderung dipicu oleh emosi, baik emosi positif (tertawa atau terlalu bersemangat) maupun emosi negatif (takut, marah, terkejut). Keadaan ini dapat berlangsung selama beberapa detik hingga beberapa menit. Tidak semua penderita narkolepsi mengalami katapleksi, beberapa hanya akan mengalami katapleksi satu sampai dua kali per tahun sementara ada yang dapat mengalami katapleksiĀ setiap hari.
  • Sleep paralysis: atau sering dikenal dengan sebutan ‘ketindihan‘. Keadaan ini menyebabkan seseorang merasa lumpuh baik saat tidur ataupun saat hendak bangun. Kehilangan kemampuan untuk bergerak dan berbicara merupakan contoh terjadinya sleep paralysis. Kejadian ini dapat berlangsung selama beberapa detik hingga beberapa menit. Kelumpuhan saat tidur biasanya terjadi saat seseorang memasuki fase REM (Rapid Eye Movement) ketika tidur, di sini merupakan fase di mana mimpi biasanya terjadi sehingga kelumpuhan sementara muncul untuk mencegah kita bergerak karena mimpi.
  • Halusinasi: halusinasi yang dimaksud adalah halusinasi hypnagogic (terjadi ketika kita sedang tertidur) dan halusinasi hypnopompic (terjadi ketika sadar). Halusinasi ini dapat terjadi ketika Anda setengah sadar.
  • Ciri lain yang menjadi karakteristik narkolepsi yaitu gangguan tidur, seperti sleep apnea (keadaan di mana napas tiba-tiba berhenti berkali-kali saat tidur), restless leg syndrome, hingga insomnia. Penderita narkolepsi juga mungkin bergerak-gerak saat tidur dan bermimpi, seperti menendang, meninju, hingga berteriak.

Apa yang menyebabkan narkolepsi?

Penyebab narkolepsi masih belum diketahui hingga saat ini. Tetapi beberapa kasus narkolepsi disebabkan oleh kurangnya senyawa hypocretin (atau disebut juga orexin) dalam otak. Senyawa ini mengatur kesadaran ketika Anda terjaga serta keadaan REM saat Anda tertidur. Kadar hypocretin yang rendah ditemukan pada mereka yang menderita katapleksi. Meskipun belum ada penjelasan mengapa produksi hypocretin pada otak bisa berkurang, tetapi para peneliti mencurigai adanya hubungan antara hal tersebut dengan masalah autoimun.

Beberapa penelitian mengindikasikan adanya hubungan antara narkolepsi dengan terpaparnya seseorang terhadap virus H1N1 (flu babi) serta vaksin H1N1. Tetapi belum ada penjelasan lebih lanjut apakah virus tersebut secara langsung memicu terjadinya narkolepsi atau keterpaparan terhadap H1N1 meningkatkan risiko seseorang menderita narkolepsi di kemudian hari. Dalam beberapa kasus, genetik juga berperan dalam terjadinya narkolepsi.

Apa perbedaan antara pola tidur normal dan narkolepsi?

Pola tidur yang normal biasanya akan melalui dua fase yaitu Non-Rapid Eye Movement (NREM) dan Rapid Eye Movement (REM). Pada fase NREM, gelombang sinyal di otak perlahan-lahan menurun. Setelah beberapa jam, fase REM akan dimulai. Pada tahap inilah biasanya kita mulai bermimpi. Namun, penderita narkolepsi akan langsung masuk ke fase tidur REM tanpa melalui fase NREM. Beberapa karakteristik fase REM seperti katapleksi, sleep paralysis, dan halusinasi dapat terjadi dalam keadaan sadar pada penderita narkolepsi.

Bagaimana cara menyembuhkan narkolepsi?

Sampai saat ini belum ada metode yang dapat menyembuhkan narkolepsi sepenuhnya. Tetapi beberapa gejala narkolepsi dapat ditangani dengan perubahan gaya hidup dan obat-obatan. Dokter akan meresepkan obat yang bisa mengontrol rasa kantuk di siang hari, mencegah serangan katapleksi, hingga meningkatkan kualitas tidur di malam hari. Tipe obat yang diberikan biasanya berupa stimulan yang dapat bekerja menstimulasi sistem saraf pusat untuk membantu penderita narkolepsi tetap terjaga di siang hari.

Memiliki jadwal tidur dapat membantu penderita narkolepsi mengatasi rasa kantuk yang berlebihan. Tidur siang selama 20 menit dapat membantu untuk mengembalikan konsentrasi. Usahakan juga untuk pergi tidur di malam hari serta bangun tidur di waktu yang sama setiap harinya. Menghindari alkohol dan nikotin serta rajin melakukan aktivitas fisik dapat membantu mencegah bertambah parahnya gejala-gejala narkolepsi.

BACA JUGA:

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

    Apakah artikel ini membantu Anda?
    happy unhappy"
    Sumber

    Yang juga perlu Anda baca

    Kenapa Cuaca Dingin Bikin Rematik Kumat dan Bagaimana Mengatasinya?

    Istilah 'dingin sampai menusuk tulang' bisa terjadi pada penderita rematik Nyeri sendi akibat rematik kambuh bisa disebabkan oleh cuaca, bagaimana bisa?

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
    Hidup Sehat, Tips Sehat 24 September 2020 . Waktu baca 3 menit

    Terapi Urine dengan Minum Air Kencing, Benarkah Efektif?

    Terapi urine dengan minum air kencing yang terdengar menjijikkan telah dipercaya sejak berabad-abad lalu. Apakah manfaatnya?

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Urologi, Kandung Kemih 23 September 2020 . Waktu baca 8 menit

    Benarkah Terlalu Sering Minum Paracetamol Sebabkan Gangguan Pendengaran?

    Hati-hati jika Anda sering minum obat penghilang nyeri, seperti paracetamol. Efek samping paracetamol berlebihan dapat menimbulkan gangguan pendengaran.

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
    Hidup Sehat, Tips Sehat 23 September 2020 . Waktu baca 3 menit

    Mengapa Mendengarkan Suara Hujan Bikin Mengantuk?

    Saat hujan, paling enak memang tidur di balik selimut. Apalagi sambil mendengarkan suara hujan. Tapi kenapa, sih, suara hujan itu enak didengar?

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Gladys Mangkuliguna
    Hidup Sehat, Fakta Unik 22 September 2020 . Waktu baca 3 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    ensefalopati uremikum

    Ensefalopati Uremikum, Komplikasi Gangguan Ginjal yang Menyerang Otak

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Nabila Azmi
    Dipublikasikan tanggal: 25 September 2020 . Waktu baca 4 menit
    hubungan suami istri terasa hambar

    3 Hal yang Membuat Seks Tidak Lagi Terasa Memuaskan, dan Cara Mengatasinya

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Dipublikasikan tanggal: 24 September 2020 . Waktu baca 4 menit
    melihat bullying

    5 Hal yang Harus Anda Lakukan Ketika Menyaksikan Bullying

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
    Dipublikasikan tanggal: 24 September 2020 . Waktu baca 5 menit
    kencing berdiri

    Apakah Posisi Kencing Berdiri Berbahaya untuk Kesehatan?

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Dipublikasikan tanggal: 24 September 2020 . Waktu baca 5 menit