5 Risiko Menjalani Operasi Skoliosis yang Perlu Anda Tahu

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum

Salah satu cara mengobati kondisi skoliosis adalah dengan operasi tulang belakang (fusi spinal). Biasanya, operasi ini dilakukan untuk mengurangi derajat lengkungan tulang. Bila Anda dianjurkan untuk melakukan operasi skoliosis, pahami dulu beragam risiko dan efek sampingnya.

Tujuan dari prosedur operasi skoliosis

Sebelum mempelajari risiko dari operasi skoliosis, ada baiknya jika Anda mengetahui tujuan dari operasi itu sendiri. Salah satu prosedur operasi skoliosis adalah spinal fusion atau fusi spinal. Operasi ini dilakukan dengan cara menggabungkan dua atau lebih tulang belakang agar menyatu dan menjadi tulang yang kuat.

Biasanya, pasien skoliosis dengan kasus yang cukup serius akan disarankan untuk melakukan operasi tersebut. Tujuan dari operasi itu termasuk beberapa hal berikut.

  • Menghentikan progres dari kelengkungan tulang. Pasalnya, pada kasus tertentu, kelainan tulang ini akan semakin parah jika tidak dihentikan. Oleh karena itu, setidaknya operasi skoliosis harus dilakukan untuk mencegah kelengkungan tulangnya semakin parah.
  • Mengurangi derajat kelengkungan tulang. Tergantung pada kelenturan tulang belakang pasien, operasi ini biasanya dapat mengurangi kelengkungan tulang dari 50-70%. Dengan begitu, pasien dapat berdiri lebih tegak.
  • Menjaga keseimbangan tubuh. Dokter akan membantu memperkirakan posisi tulang belakang yang diubah tidak akan mempengaruhi keseimbangan pasien. Atau, jika memang posisi tulang belakang diubah menjadi posisi yang lebih baik, dokter juga akan mempertimbangkan bagaimana pasien dapat tetap menjaga keseimbangan tubuhnya.

Sayangnya, meski dengan operasi pasien memiliki harapan agar kondisinya lebih baik, operasi ini juga disertai dengan risiko yang tidak bisa disepelekan oleh pasien skoliosis.

Risiko menjalani operasi fusi spinal untuk pasien skoliosis

Sebenarnya, operasi untuk skoliosis saat ini sudah cukup aman dibandingkan sebelumnya. Namun, sama halnya dengan prosedur operasi lain, operasi untuk penderita skoliosis juga memiliki risiko yang harus diketahui terlebih dahulu. Simak penjelasan berikut.

1. Paraplegia

Salah satu risiko dari operasi skoliosis ini ditandai dengan kehilangan kemampuan untuk menggerakkan atau merasakan tubuh bagian bawah hingga kaki atau dalam medis disebut dengan paraplegia. Hal ini tidak jauh berbeda dengan lumpuh.

Meski jarang terjadi,  pasien mungkin saja mengalami hal ini setelah operasi skoliosis. Untuk mengurangi kemungkinan dari risiko ini, kondisi tulang belakang pasien skoliosis bisa dimonitor selama operasi.

Beberapa metode yang dapat dilakukan untuk mengurangi kemungkinan dari risiko ini adalah:

  • Somatosensory evoked potential (SSEP), di mana dokter akan meletakkan alat elektrik kecil pada kaki pasien yang sinyalnya dapat diterima oleh otak. Sinyal dari alat ini harus terus konsisten selama operasi. Namun, jika sinyal melemah pada satu titik, itu bisa jadi tanda bahwa ada masalah pada tulang belakang pasien.
  • Motor evoked potential (MEP). Metode ini  tidak jauh berbeda dengan alat sebelumnya, hanya saja MEP memonitor sinyal yang berkaitan dengan otot pasien.
  • Stagnara wake-up test, di mana  pasien akan dibangunkan dan diminta untuk menggerakkan kakinya di tengah operasi.

Dengan ketiga metode yang telah disebutkan, dokter dan tim operasi dapat mengembalikan kondisi tulang belakang secepat mungkin jika terjadi masalah. Dengan begitu, risiko mengalami paraplegia atau kelumpuhan setelah menjalani operasi skoliosis dapat dihindari.

2. Kehilangan darah dalam jumlah banyak

Risiko lain yang mungkin terjadi pada pasien skoliosis setelah menjalani operasi adalah kehilangan banyak darah. Pasalnya, saat melakukan operasi pada tulang belakang yang tergolong susah, mungkin otot di area tulang belakang akan robek dan bermunculan keluar. Hal ini dapat menyebabkan perdarahan.

Tetapi, risiko dari operasi skoliosis ini juga bisa dihindari dengan teknik operasi yang benar. Artinya, jumlah darah yang keluar dapat ditahan dalam jumlah yang tidak terlalu banyak, bahkan pasien juga tidak membutuhkan transfusi darah.

Untuk berjaga-jaga, pasien juga bisa mendonorkan darahnya terlebih dahulu sebelum operasi, yang nantinya bisa diberikan kembali pada tubuh pasien jika dibutuhkan saat operasi. Alternatif lainnya, di tengah-tengah operasi, darah pasien juga bisa diambil dan dikembalikan lagi pada pasien jika memang dibutuhkan.

3. Kerusakan saraf pasien

Setelah menjalani operasi, risiko lain yang mungkin dialami oleh pasien skoliosis adalah kerusakan saraf tulang belakang.

Kerusakan saraf ini dapat memicu gejala-gejala seperti mati rasa pada satu atau kedua kaki pasien. Namun, dalam kasus yang sudah cukup parah, pasien dapat mengalami paraplegia, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.

4. Pseudoarthrosis

Risiko lain dari operasi skoliosis adalah kegagalan tulang belakang untuk menyatu, atau bisa juga disebut dengan pseudoarthrosis. Biasanya, kondisi ini terjadi karena salah satu tulang yang digunakan untuk menyatu dengan tulang belakang tidak menempel dengan benar.

Jika pasien mengalami kondisi ini, pasien akan merasakan gejala-gejala seperti rasa tidak nyaman, hingga tulang belakang tidak mengalami perubahan sama sekali. Biasanya, akan dibutuhkan operasi lanjutan untuk membenarkan kondisi ini.

5. Batang titanium yang dipasang di tulang belakang bergeser

Saat operasi, biasanya tulang belakang akan dipasangi batang titanium untuk membantu membetulkan posisi tulang belakang pasien skoliosis. Tetapi, batang titanium ini bisa saja berubah posisi setelah operasi.

Jika dibiarkan begitu saja dan tidak segera ditindak lanjuti, kondisi justru akan membuat kondisi tulang belakang pasien semakin buruk. Oleh karena itu, jika batang titanium ini bergeser, pasien akan membutuhkan operasi lanjutan untuk mengembalikan posisi dari batang tulang belakang.

Oleh sebab itu, jika pasien skoliosis ingin menjalani operasi tulang belakang untuk mengatasi kondisinya, pasien juga harus tetap mengetahui setiap risiko yang mungkin terjadi. Dengan begitu, pasien dapat mempertimbangkan manfaat dan risiko dari prosedur operasi dan memutuskan apakah pasien memang membutuhkan operasi tersebut.

Baca Juga:

Sumber