Apa Artinya Jika Jantung Berdebar Disertai Cemas dan Sesak Napas?

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 19/10/2018
Bagikan sekarang

Perasaan cemas normal terjadi bila Anda sedang berada dalam bahaya. Namun, bila rasa cemas muncul disertai gejala sesak napas dan jantung berdebar, sebaiknya segera periksa ke dokter. Sebab ada beberapa penyakit yang menjadi penyebab sesak napas, cemas, dan jantung berdebar. Apa saja penyakit yang mendasarinya? Simak ulasannya berikut ini.

Jantung berdebar diikuti sesak napas dan cemas, pertanda apa?

1. Gangguan kecemasan (anxiety disorder)

Cemas adalah perasaan gugup atau khawatir yang muncul saat seseorang mengalami ancaman atau bahaya. Perasaan ini biasanya muncul secara alami sebagai reaksi tubuh terhadap stres. Ini bisa membantu seseorang untuk lebih waspada dan mengambil tindak cepat untuk beraksi.

Namun, bila rasa cemas muncul secara tiba-tiba (misalnya tidak dalam situasi yang menegangkan) dan sulit dikendalikan sehingga mengganggu kehidupan sehari-hari, maka kondisi ini menandakan adanya gangguan kecemasan. 

Ada berbagai gejala saat gangguan kecemasan terjadi, seperti munculnya rasa panik, takut, gelisah, disertai dengan keluarnya keringat dingin dan kesemutan pada tangan atau kaki. Kondisi ini bisa menyebabkan pasiennya mengalami sesak napas dan palpitasi jantung atau sensasi yang dirasakan saat jantung berdebar sangat kuat atau tidak beraturan. Palpitasi jantung kadang bisa menimbulkan rasa sakit di dada dan bisa terjadi selama beberapa detik atau beberapa menit.

Dilansir dari WebMD, penyebab gangguan kecemasan ini tidak diketahui secara persis. Namun, kondisi ini terjadi seperti bentuk penyakit jiwa lainnya, yaitu terjadinya perubahan pada otak dan tekanan di lingkungan. Kondisi ini bisa dikurangi gejalanya dengan obat antidepresan dan terapi dengan psikiater atau psikolog.

2. Serangan jantung

Otot jantung membutuhkan darah kaya oksigen dan arteri koroner yang menyuplainya. Namun, apabila arteri tersumbat oleh plak yang terbentuk akibat lemak, protein, sel radang atau penggumpalan darah, ini menyebabkan arteri menjadi sempit dan darah tidak mengalir secara normal.

Bila plak tersebut benar-benar menghalangi sirkulasi darah, otot jantung menjadi kekurangan oksigen sehingga menyebabkan kematian sel otot jantung. Kondisi ini menyebabkan kerusakan permanen dan disebut sebagai serangan jantung.

Gejala serangan jantung sangat bervariasi dan setiap orang bisa merasakan gejala yang berbeda. Ini meliputi ketidaknyamanan di dada (terasa sakit di bagian kiri), sesak napas, cemas, pusing, berkeringat, dan jantung berdebar hebat. Gejala-gejala tersebut bisa terjadi selama 30 menit atau lebih. Pasien harus segera mendapatkan pengobatan untuk mengurangi jumlah kerusakan pada otot jantung dan meningkatkan kesempatan bertahan hidup.

3. Serangan panik (panic attack)

Kondisi ini muncul ketika perasaan teror tiba-tiba menyerang pasien tanpa peringatan. Ini bisa terjadi kapan aja, bahkan saat tidur. Seseorang yang memiliki kondisi ini mengalami rasa panik dan takut yang lebih parah dari situasi yang sebenarnya.

Beberapa gejala yang meliputinya adalah merasa lemah, pusing, kesemutan, berkeringat, atau bahkan menggigil. Nyeri dada, jantung berdebar, kesulitan bernapas, dan kehilangan kontrol diri juga sering menjadi ciri-cirinya. Biasanya gejala ini terjadi sekitar kurang lebih dari 10 menit, walaupun gejala lainnya mungkin bisa terjadi lebih lama.

Penyebab serangan panik ini tidak diketahui secara pasti, tapi kebanyakan rentan terjadi akibat adanya perubahan tekanan gaya hidup. Orang menderita gangguan panik lebih mungkin memiliki depresi, pernah melakukan percobaan bunuh diri, penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan terlarang. Untungnya, kondisi ini bisa diobati dengan obat-obatan antikonvulsan yang bersifat menenangkan dan terapi psikologis.

Ketiga penyakit tersebut memiliki gejala yang hampir serupa dan seringkali dianggap sebagai serangan jantung pada beberapa orang yang merasakannya. Untuk itu, bila gejala-gejala yang telah disebutkan terjadi, Anda membutuhkan beberapa tes kesehatan.  Ini dilakukan agar dokter bisa memberi diagnosis yang tepat atas penyebab sesak napas, cemas, dan jantung berdebar. Tentunya Anda juga akan mendapatkan pengobatan yang sesuai.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Apakah Merokok Menyebabkan Gangguan Kecemasan (Anxiety Disorder)?

Masyarakat secara umum merokok untuk membantu meredakan rasa cemas atau stres. Padahal, ternyata merokok menyebabkan gangguan kecemasan.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki

Mengenal Istilah ‘Demam Panggung’ dan Cara Menghadapinya

Pernahkah Anda merasa cemas sampai 'lupa' saat tampil di depan orang banyak? Jika iya, bisa jadi Anda mengalami demam panggung. Apa itu?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi

Ashraf Sinclair dan Fenomena Serangan Jantung di Usia Muda

Kabar meninggalnya Ashraf Sinclair akibat serangan jantung di usia 40 tahun membuat masyarakat semakin waspada. Mengapa fenomena ini dapat terjadi?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi

Bantu Anak Mengatasi Rasa Cemas dengan 4 Tips Ini

Tidak semua anak mampu mengatasi rasa cemas dengan baik. Jangan khawatir, bantu si kecil menghadapi hal ini dengan tips-tips berikut.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji

Direkomendasikan untuk Anda

penyakit jantung boleh puasa

Amankah Jika Penderita Penyakit Jantung Ikut Berpuasa?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 18/05/2020
cemas tidak selera makan

Alasan Perasaan Cemas Bikin Seseorang Tidak Selera Makan

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 09/05/2020
postnatal anxiety

Postnatal Anxiety, Ketakutan Berlebih Ibu Baru Saat Merawat Bayi

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Dipublikasikan tanggal: 06/04/2020
overthinking

Ini yang Terjadi pada Tubuh Anda Ketika Overthinking

Ditinjau secara medis oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Maria Amanda
Dipublikasikan tanggal: 01/04/2020