Azoospermia, Ketika Air Mani Pria Tidak Mengandung Sperma

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Azoospermia adalah sebuah kondisi ketika jumlah sperma yang terkandung dalam air mani pria sangat sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali. Kondisi ini bisa terjadi sekitar 1% dari semua pria di dunia dan 15% pada pria yang tidak subur. Jika Anda belum hamil juga setelah tahunan terus berusaha, bisa jadi kondisi ini penyebabnya.

Sebelum mengetahui penyebab azoospermia, ketahui dulu bagaimana sperma diproduksi oleh tubuh.

Sekilas tentang proses pembentukan sperma

Secara umum, sistem reproduksi pria terdiri dari testis, prostat, penis, skortum (buah zakar), epididimis, vas deferens, dan uretra (saluran kencing).

Sebelum menjadi sel sperma yang siap membuahi sel telur, sperma membutuhkan banyak tahapan dan waktu yang lama. Sperma sendiri diproduksi di bagian tubulus seminiferus di dalam testis pria. Proses pembentukan sel sperma di dalam testis dinamakan spermatogenesis. Sel sperma yang sudah matang sempurna kemudian akan dikeluarkan dari epipidimis melalui selang pengangkut vas deferens menuju saluran uretra.

Selama perjalanannya, sperma yang matang ini akan melewati beberapa organ penting, seperti veskulas seminalis dan prostat. Kedua organ tersebut masing-masing akan mengeluarkan cairan khusus untuk mengencerkan sperma dan menciptakan cairan lengket putih susu yang kita kenal sebagai air mani.

Nah, untuk mengeluarkan air mani atau mencapai ejakulasi, pria membutuhkan sebuah rangsangan dengan melihat atau merasakan sesuatu yang membangkitkan gairah seksualnya.

Jenis-jenis azoospermia

Berdasarkan penyebabnya, kondisi ini terbagi menjadi tiga jenis, yaitu:

1. Azoospermia pretesticuler

Kondisi ini terjadi ketika sesorang pria mengalami gangguan hormon seks yang memengaruhi produksi sperma di testis. Ada beberapa hal yang bisa menyebab kondisi ini. Beberapa di antaranya seperti:

  • Kallman sindrom. Kallman sindrom adalah kelainan genetik bawaan pada kromosom X. Kondisi ini ditandai dengan rendahnya kadar hormon gonadotropin (GnRH) dan menurunnya fungsi indra penciuman. GnRH sendiri bertugas untuk merangsang kelejar hipofisis untuk mengeluarkan hormon yang merangsang pembuatan sperma.  
  • Gangguan hipotalamus atau kelenjar pituitari di otak. Kondisi ini disebabkan akibat paparan radiasi atau obat-obatan tertentu, terutama yang digunakan dalam pengobatan kemoterapi. Tak hanya itu, pengaruh alkohol, rokok, dan narkotika juga bisa memicu terjadinya gangguan hipotalamus di otak.

2. Azoospermia testiculer

Kondisi ini disebabkan karena seorang pria mengalami kerusakan pada struktur atau fungsi testinya. Ada beberapa hal yang bisa menyebabkan kondisi ini. Beberapa di antaranya seperti:

  • Infeksi di saluran reproduksi. Seorang pria yang memiliki riwayat penyakit epididimitis dan uretritis lebih mungkin untuk mengalami kondisi ini.
  • Orchitis.Orchitis adalah peradangan yang terjadi pada salah satu satu atau kedua testis dalam skrotum. Penyakit ini bisa membuat testis atau buah zakar membengkak karena testis terinfeksi virus gondok.
  • Cedera. Mengalami cedera di bagian selangkangan atau bahkan alat kemaluan karena kecelakaan atau benturan keras bisa juga menyebabkan kondisi ini.
  • Anorchia. Anorchia dikenal juga dengan sebutan ‘sindrom testis hilang’. Kondisi ini terjadi ketika testis tidak muncul atau hilang setelah tahap kritis pembentukan organ seks, yaitu antar minggu 12-14. Bayi dengan kondisi ini akan tetap memiliki penis dan skrotum, tapi testisnya tidak ada.
  • Kriptorkismus. Kondisi ini terjadi ketika testis bayi laki-laki tidak turun ke dalam skrotum saat lahir. Normalnya, pada trimester ketiga kehamilan testis akan turun secara alami melalui rongga perut dan menempati skrotum. Namun pada bayi yang lahir dengan kondisi ini, testisnya tetap berada di dalam rongga perut dan tidak berada di skrotum. 
  • Sindrom Klinefelter. Sindrom klinefelter adalah kelainan bawaan yang menyebabkan seorang pria memiliki kelebihan kromosom X. Pria dengan kondisi ini mungkin tidak mengalami masa pubertas sebagaimana mestinya. Sebaliknya,mereka justru memunculkan beberapa karakteristik wanita.
  • Riwayat penyakit tertentu. Beberapa penyakit seperti diabetes, sirosis, atau gagal ginjal bisa meningkatkan risiko pria mengalami kondisi ini. 
  • Obat-obatan tertentu. Terapi kemoterapi atau paparan radiasi juga bisa menyebabkan seorang pria terkena azoospermia.

3. Post-testicular azoospermia

Kondisi ini terjadi ketika sperma yang dihasilkan di testis justru tidak bisa dikeluarkan dari penis. Dalam banyak kasus, penyebab inilah yang paling sering dialami pria dengan azoospermia. Ada beberapa hal yang bisa menyebabkan kondisi. Beberapa di antaranya seperti:

  • Vasektomi. Vasektomi adalah proses operasi pemotongan vas deferens (saluran berbentuk tabung kecil di dalam skrotum yang membawa sperma dari testikel menuju penis).
  • Ejakulasi retrograde. Ketika pria mencapai orgasme, penis biasanya akan berejakulasi dengan menembakkan air mani keluar dari lubang penis. Namun, air mani pria dengan kondisi ini justru tidak keluar lewat lubang penis, melainkan berbalik ke atas hingga masuk dalam kandung kemih.
  • Azoospermia obstruktif. Kondisi ini terjadi ketika tabung yang membawa sperma dari testis ke penis mengalami penyumbatan.

Berbagai pilihan perawatan untuk azoospermia

Jangan langsung berkecil hati ketika dokter memberi tahu kalau Anda dokter mengalami azoospermia. Dengan perawatan dan pengobatan yang tepat,  pria dengan kondisi ini tetap memiliki peluang untuk memiliki momongan, kok. Berikut beberapa jenis pengobatan untuk pria dengan azoospermia:

  • Operasi. Jika kondisi Anda disebabkan karena adanya penyumbatan di saluran yang membawa sperma dari testis ke penis, operasi adalah pilihan terbaik. Semakin cepat penyumbatan tersebut ditangani, maka besar kemungkinan operasi akan berhasil. Jika operasi berhasil, peluang Anda untuk cepat memiliki momongan juga besar. 
  • Bayi tabung. Ada cara lain yang bisa dilakukan jika Anda mengalami penyumbatan tapi tidak ingin operasi. Salah satu caranya adalah dengan mengambil sampel sperma dari testis dan kemudian digunakan dalam fertilisasi in vitro (IVF) alias bayi tabung.

Baca Juga:

Sumber
Ingin hidup lebih sehat dan bahagia?
Dapatkan update terbaru dari Hello Sehat seputar tips dan info kesehatan
Yang juga perlu Anda baca