Merkuri (raksa) adalah logam berat yang berisiko tinggi menyebabkan kerusakan saraf dan organ tubuh manusia. Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), merkuri merupakan salah satu zat kimia berbahaya yang paling mengancam kesehatan masyarakat di dunia. Saking berbahayanya, keracunan merkuri telah merenggut ribuan nyawa warga kota Minamata di Jepang pada tahun 1950an hingga awal 2000an.

Dalam bencana fatal tersebut, lebih dari 2.000 orang juga menderita kecacatan permanen serta gangguan berat yang akhirnya dikenal sebagai penyakit Minamata. Ingin tahu lebih jelas soal penyakit Minamata? Simak ulasan berikut ini.

Apa yang terjadi bila seseorang keracunan merkuri?

Merkuri sebenarnya bisa ditemukan di alam bebas secara alami. Anda sendiri mungkin pernah mengonsumsinya tanpa sadar. Akan tetapi, keracunan merkuri baru akan terjadi bila Anda mengonsumsi merkuri yang sudah terkontaminasi dengan bakteri sehingga strukturnya berubah jadi metil merkuri. Paparan metil merkuri dalam jumlah besar inilah yang akan menyebabkan keracunan.

Penyakit Minamata yang disebabkan oleh keracunan merkuri menyerang otak dan sistem saraf seseorang. Gejalanya antara lain kejang otot, mati rasa pada tangan dan kaki, otot melemah, penglihatan menyempit, serta gangguan pendengaran dan wicara. Dalam kasus yang sudah parah, keracunan merkuri di kota Minamata ini menyebabkan kelumpuhan, gangguan jiwa, koma, hingga kematian. Keracunan merkuri pada ibu hamil juga mengakibatkan kecacatan janin, keguguran, atau bayi lahir mati.

Bagaimana semua warga Minamata bisa keracunan merkuri?

Pada awalnya penyakit Minamata hanya menyerang kucing. Selama bertahun-tahun warga di kota Minamata mengamati perubahan perilaku mencurigakan pada kucing-kucing di kota tersebut. Kucing-kucing di Minamata mengalami kejang, kelumpuhan, bahkan akhirnya mati. Baru pada tahun 1950an penyakit ini pertama kali diidap oleh manusia.

Rupanya, ada sebuah pabrik plastik yang membuang limbah sembarangan ke Teluk Minamata. Limbah tersebut terkontaminasi metil merkuri dalam kadar yang sangat tinggi. Padahal, Teluk Minamata merupakan perairan yang kaya akan ikan dan binatang laut. Ikan dan binatang laut seperti udang dan cumi dari Teluk Minamata yang telah terkontaminasi merkuri dikonsumsi oleh warga Minamata sehari-hari selama bertahun-tahun. Akibatnya warga Minamata pun mulai menunjukkan berbagai gejala keracunan merkuri yang serius.

Setelah pemerintah Jepang melakukan serangkaian penyelidikan, pabrik plastik yang membuang limbah merkuri pun ditutup secara paksa pada 1968. Pabrik tersebut juga diharuskan untuk membayar ganti rugi kepada pemerintah dan seluruh warga kota Minamata yang dirugikan akibat bencana ini.

Apakah penyakit Minamata bisa disembuhkan?

Hingga saat ini belum ada penawar khusus yang bisa langsung mengobati keracunan metil merkuri. Penanganan yang diberikan biasanya fokus pada meringankan gejala serta membuang racun merkuri dari tubuh. Pasien mungkin diminta untuk melakukan detoksifikasi dan diberikan arang aktif (activated charcoal) yang mampu mencegah penyerapan racun dalam tubuh.

Mencegah keracunan merkuri dari makanan laut

Meskipun belum ditemukan penawarnya, Anda bisa mencegah keracunan logam berat ini. Sesuai anjuran dari WHO, hindari konsumsi ikan besar yang kandungan merkurinya tinggi seperti ikan hiu, kerapu, todak, dan makarel. Sebaiknya pilih ikan yang lebih kecil yaitu baronang, barakuda, salmon, tuna, dan bandeng.

Perhatikan juga dari mana makanan laut yang Anda beli berasal. Jangan makan ikan dan makanan laut yang berasal dari perairan yang terkontaminasi limbah atau sedang dalam penyelidikan pemerintah.

Baca Juga:

Sumber
Ingin hidup lebih sehat dan bahagia?
Dapatkan update terbaru dari Hello Sehat seputar tips dan info kesehatan
Yang juga perlu Anda baca