Cara Mengurangi Paparan Merkuri dari Seafood dan Ikan Laut

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 18 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Apakah Anda dan keluarga suka makan ikan laut atau makanan laut lain seperti udang, kepiting, cumi-cumi, dan lain-lainnya? Jika iya, maka Anda harus berhati-hati dengan zat kimiawi yang mungkin saja terdapat dalam seafood yang Anda makan. Salah satu zat yang paling berbahaya baik tubuh adalah merkuri.

Apa itu merkuri?

Merkuri adalah zat kimia yang merupakan hasil buangan dari berbagai aktivitas manusia, seperti pembakaran, pertanian, dan limbah dari pabrik-pabrik yang menggunakan merkuri. Limbah rumah tangga maupun limbah dari pabrik, biasanya dibuang ke sungai dan berakhir pada laut. Di dalam air, merkuri berubah menjadi zat yang disebut dengan metilmerkuri. Kemudian metilmerkuri berikatan dengan protein yang ada pada otot ikan

Jika Anda mengonsumsi ikan atau seafood yang mengandung merkuri, maka merkuri tersebut juga akan termakan dan menimbulkan berbagai dampak buruk bagi kesehatan. Merkuri yang termakan itu akan terakumulasi di dalam tubuh, bahkan dapat mempengaruhi ASI pada ibu yang sedang menyusui. Jumlah metilmerkuri yang sudah terakumulasi tersebut dapat menjadi racun bagi sistem saraf yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan bahkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan janin yang ibunya mengonsumsi ikan yang terkontaminasi merkuri.

Apakah semua ikan laut mengandung merkuri?

Sebenarnya, hampir semua ikan maupun sumber makanan laut lainnya telah terkontaminasi merkuri. Namun, pada dasarnya seafood merupakan sumber makanan yang baik dan tinggi protein serta berbagai zat gizi lain seperti zat mineral, lemak tak jenuh, dan asam lemak omega-3. Untuk orang yang sehat, mengonsumsi ikan laut atau seafood  yang terkontaminasi merkuri tidak akan menimbulkan masalah. Contohnya saja di Amerika, diketahui bahwa orang yang sering mengonsumsi ikan laut memiliki kadar merkuri dalam darah yang dianggap aman, yaitu kurang dari 5,8 mcg per liter.

Sebuah penelitian pernah memberitakan bahwa terdapat orang yang mengonsumsi sushi dua kali dalam sehari selama satu dekade, yang kemudian merasakan gejala seperti mati rasa di beberapa bagian tubuh dan gangguan keseimbangan serta koordinasi, ternyata memiliki kadar merkuri sebanyak 72 mcg per liter di dalam darahnya, di mana angka tersebut 12 kali lebih tinggi dibandingkan dengan batas aman yang telah ditentukan. Semakin banyak makan ikan atau makanan laut yang terkontaminasi merkuri, maka semakin banyak jumlah merkuri yang terkumpul dalam darah. Oleh karena itu, perlu diperhatikan kelompok usia yang sangat rentan dengan dampak dari kontaminasi merkuri. Salah satunya adalah bayi dan janin dalam kandungan, karena merkuri dapat ,engganggu pertumbuhan serta perkembangan sistem saraf anak.

Siapa saja yang harus rentan terkena dampak kandungan merkuri dari seafood?

Food and Drug Administration (FDA) dan Environmental Protection Agency (EPA) menganjurkan untuk mengurangi konsumsi berbagai sumber makanan dari laut untuk beberapa kelompok yang rentan terhadap merkuri, seperti:

Kelompok  tersebut sangat rentan terhadap merkuri, karena itu mereka tidak boleh mengonsumsi ikan yang mengandung merkuri tinggi dan hanya boleh mengonsumsi makanan laut yang rendah merkuri beberapa kali dalam seminggu.

Amannya, seberapa sering kita boleh makan seafood?

Proses menyiapkan serta memasak makanan laut tidak akan bisa menurunkan kadar merkuri yang ada di dalam makanan tersebut. Oleh karena itu, Anda harus mengetahui jenis ikan apa yang rendah merkuri dan tidak berbahaya bagi tubuh. Berikut adalah tips untuk mengonsumsi seafood yang aman:

  • Untuk seafood yang mengandung merkuri tinggi, yaitu ikan hiu, ikan makarel raja, ikan tuna bigeye, ikan todak atau pedang, ikan tuna sirip kuning, lebih baik jenis ikan-ikan ini dihindari. Apalagi untuk kelompok yang rentan akan merkuri, tidak dianjurkan untuk mengonsumsi ikan tersebut.
  • Konsumsi maksimal 340 gram dalam satu minggu. Ikan yang boleh dikonsumsi sebanyak 340 gram atau sekitar dua porsi per minggu adalah, ikan salmon, udang, ikan sarden, ikan tuna kaleng, ikan pollock, ikan anchovies, ikan trout, dan ikan herrin.
  • Konsumsi maksimal 170 gram atau satu porsi per minggu. Untuk menghindari keracunan merkuri, maka dianjurkan untuk mengonsumsi ikan sebanyak 170 gram dalam satu minggu, kecuali ikan yang sudah diketahui memiliki merkuri tinggi.

Jika Anda sudah mengonsumsi satu jenis ikan atau makanan laut sebanyak satu porsi dalam satu minggu, sebaiknya tidak mengonsumsi sumber makanan laut jenis lainnya di minggu yang sama. Namun, konsumsi makanan laut melebihi jumlah yang dianjurkan dalam satu minggu sebenarnya tidak akan langsung mengubah kadar metilmerkuri di dalam tubuh. Anjuran tersebut hanya patokan saja porsi yang aman untuk dimakan, Anda bisa saja tidak mengonsumsi seafood pada minggu berikutnya jika telah mengonsumsi banyak seafood pada minggu sebelumnya.

BACA JUGA

Kalkulator BMI

Benarkah berat badan Anda sudah ideal?

Ayo Cari Tahu!
general

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Baca Juga:

    Yang juga perlu Anda baca

    Tiba-tiba Sakit Kepala Setelah Keramas, Apa Penyebabnya?

    Kalau muncul migrain atau sakit kepala setelah keramas, Anda mungkin bertanya-tanya apa artinya. Nah, ini dia berbagai penyebabnya. Simak baik-baik, ya!

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Kesehatan Otak dan Saraf, Sakit Kepala 15 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

    Waspada Brazilian Blowout, Teknik Meluruskan Rambut dengan Formalin

    Smoothing sudah menjadi cara lama untuk meluruskan rambut. Sekarang ada tren Brazilian blowout dengan metode baru. Benarkah lebih aman dilakukan?

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Perawatan Rambut & Kulit Kepala, Kesehatan Kulit 15 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

    Cara Mengatasi Mimisan dengan Cepat, Mulai dari Bahan Alami hingga Obat Medis

    Mimisan bisa terjadi pada siapa saja dan kapan saja, tapi Anda tak perlu panik. Berikut adalah berbagai obat mimisan alami yang ampuh hentikan perdarahan.

    Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Kesehatan THT, Gangguan Hidung 14 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit

    5 Penyebab Bercak Putih di Puting Susu dan Cara Mengatasinya

    Pernahkah Anda memiliki bintik atau bercak putih di puting susu atau sekitarnya? Tak usah khawatir, kenali penyebab dan cara mengatasinya di sini.

    Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Andisa Shabrina
    Kesehatan Wanita, Penyakit pada Wanita 14 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    cara merangsang istri

    Untuk Para Suami, Ini 10 Trik Memanjakan Istri Agar Lebih Bergairah

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
    olahraga untuk mantan penderita sembuh dari pasien kanker survivor

    Panduan Olahraga untuk Mantan Penderita Kanker

    Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
    Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
    telat datang bulan

    Berapa Lama Telat Datang Bulan Dapat Menjadi Pertanda Kehamilan?

    Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Widya Citra Andini
    Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
    mengatasi kesepian

    5 Langkah Mengatasi Kesepian, Agar Hidup Lebih Semangat

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Widya Citra Andini
    Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit