Sindrom Sleeping Beauty, Kelainan yang Membuat Anda Tidur Sangat Lama

Oleh

Tanggal update September 4, 2019
Bagikan sekarang

Si putri tidur, dongeng yang sudah dikenal dari masa ke masa, ternyata tidak seluruhnya merupakan mitos belaka. Sindrom sleeping beauty adalah suatu keadaan yang benar-benar terjadi di kehidupan nyata. Sindrom sleeping beauty atau dalam dunia medis dikenal sebagai Kleine-Levin Syndrome adalah suatu kelainan neurologis yang bisa dibilang langka. Saking langkanya, dilaporkan hanya ada sekitar 1000 orang di seluruh dunia yang menderita penyakit ini.

Apa itu sindrom sleeping beauty?

Sindrom Kleine-Levine adalah suatu penyakit neurologis langka yang uniknya biasa diderita oleh pria dewasa, sekitar 70% dari jumlah penderita sindrom sleeping beauty adalah laki-laki. Karakterisitik utama dari penyakit ini adalah berlangsungnya periode di mana penderitanya tidur dalam jangka waktu yang lama, kira-kira lebih dari 20 jam per harinya. Periode ini dapat berlangsung selama beberapa hari hingga beberapa bulan. Tetapi setelah periode tersebut berakhir, penderita sindrom sleeping beauty bisa beraktivitas biasa seperti layaknya orang normal.

Kasus pertama dari sindrom ini dilaporkan oleh Brierre de Boismont pada tahun 1862. Kasus ini muncul beberapa dekade sebelum timbulnya epidemik encephalitis lethargica. Tetapi baru pada tahun 1925 kasus hiperinsomnia yang terus menerus berulang dikumpulkan dan dilaporkan oleh Willi Kleine di Frankfurt. Max Levin kemudian melanjutkan penelitian terkait sindrom sleeping beauty dengan menambahkan beberapa teori yang mendukung. Sindrom sleeping beauty kemudian dinamai Kleine-Levin Syndrome oleh Critchley pada tahun 1962 setelah ia sebelumnya memantau 15 kasus terkait gejala-gejala sindrom sleeping beauty yang muncul pada prajurit-prajurit Inggris yang bertugas pada perang dunia II.

Apa saja ciri-ciri sindrom sleeping beauty?

Ciri utamanya adalah waktu tidur yang berlebihan ketika sindrom tersebut menyerang, masa-masa ini biasa disebut ‘episode’. Jika suatu episode terjadi, penderita dapat memiliki karakteristik sebagai berikut:

  • Penderita tidak dapat membedakan mana kenyataan mana mimpi. Tidak jarang di sela-sela berlangsungnya episode, penderita sering melamun dan terlihat seolah-olah tidak sadar dengan lingkungan sekitarnya.
  • Ketika terbangun di tengah-tengah waktu tidur panjangnya, penderita dapat bertingkah laku seperti anak kecil, merasa kebingungan, disorientasi, letargi (kehilangan energi dan merasa sangat lemas), hingga apatis atau tidak menunjukkan emosi terhadap yang terjadi di sekitarnya.
  • Penderita juga dilaporkan menjadi lebih sensitif terhadap banyak hal seperti misalnya suara dan cahaya. Kehilangan nafsu makan juga bisa terjadi ketika suatu episode sedang berlangsung. Beberapa juga menyatakan munculnya nafsu seksual yang meningkat secara tiba-tiba.
  • Sindrom sleeping beauty ini merupakan sebuah siklus. Tiap episode dapat berlangsung selama beberapa hari, beberapa minggu, bahkan beberapa bulan. Ketika suatu episode berlangsung, penderita tidak dapat melakukan pekerjaan layaknya orang normal seperti misalnya pergi ke kantor atau ke sekolah. Karena lebih dari setengah harinya akan digunakan untuk tidur. Mereka juga tidak bisa mengurus dirinya sendiri karena meskipun mereka terbangun, tetapi kemudian mereka akan merasa terlalu lelah, tidak punya tenaga, dan mengalami disorientasi.

Apa yang menyebabkan terjadinya sindrom sleeping beauty?

Sama seperti penyakit langka lainnya, masih belum ada penjelasan terkait apa sebenarnya yang menyebabkan terjadinya penyakit ini. Tetapi gejala-gejala yang muncul pada sindrom ini mengindikasikan adanya malfungsi kerja bagian hipotalamus dan thalamus pada otak. Kedua bagian ini pada otak berperan dalam mengatur nafsu makan serta tidur.

Bagaimana pengobatan bagi penderita sindrom sleeping beauty?

Dibandingkan dengan terapi obat, pendampingan dan penanganan di rumah saat episode sindrom sleeping beauty muncul jauh lebih ditekankan. Beberapa jenis obat dapat dikonsumsi tetapi tujuannya bukan untuk mengobati sindrom tersebut melainkan hanya mengurangi gejala-gejalanya. Obat-obatan yang berupa stimulan seperti amfetamin, methylphenidate, dan modafinil dapat digunakan untuk mengatasi rasa kantuk berlebihan yang ditimbulkan sindrom sleeping beauty. Tetapi jenis obat-obatan tersebut dapat meningkatkan iritabilitas penderita dan tidak berpengaruh untuk mengurangi abnormalitas kemampuan kognitif yang terjadi saat episode berlangsung.

Karena itu, pengawasan dan penanganan di rumah selama episode terjadi sangatlah penting. Penderita akan mengalami kesulitan mengurus dirinya sendiri sehingga bantuan orang lain sangatlah dibutuhkan. Setelah satu episode berakhir, penderita biasanya tidak akan mengingat apa yang terjadi selama episode sindrom berlangsung. Biasanya episode-episode sindrom sleeping beauty ini lama kelamaan akan berkurang durasi dan intensitasnya. Proses ini dapat berlangsung selama 8 hingga 12 tahun lamanya.

BACA JUGA:

Baca Juga:

    Apakah artikel ini membantu Anda?
    happy unhappy"
    Sumber

    Yang juga perlu Anda baca

    7 Cara Menjaga Tubuh Agar Tetap Fit Saat Puasa

    Jangan sampai karena puasa Anda jadi lemas, lesu, dan mudah sakit. Simak rutinitas yang bisa dilakukan agar tetap fit saat puasa.

    Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh Risky Candra Swari
    Hari Raya, Ramadan Mei 9, 2020

    Kenapa Kita Sering Ngantuk Saat Puasa?

    Penelitian menunjukkan bahwa pukul 14.00 sampai 16.00 adalah waktunya kantuk menyerang saat kita berpuasa. Kenapa sering ngantuk saat puasa?

    Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh dr. Angga Maulana
    Hari Raya, Ramadan Mei 7, 2020

    4 Tips Mencegah Maag Kambuh Saat Puasa

    Puasa menjadi tantangan tersendiri untuk Anda yang memiliki maag. Namun, jangan khawatir, berikut tips-tips mencegah maag saat puasa.

    Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh Novita Joseph
    Hari Raya, Ramadan Mei 7, 2020

    5 Tips Lancar Puasa Bagi Anda yang Punya Tekanan Darah Tinggi

    Punya masalah hipertensi alias tekanan darah tinggi saat puasa tentu memberikan tantangan sendiri. Agar puasa tetap lancar, ikuti tips ampuhnya berikut ini!

    Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh Adelia Marista Safitri
    Hari Raya, Ramadan Mei 4, 2020

    Direkomendasikan untuk Anda

    5 Penyebab Mulut Anda Terasa Pahit Saat Puasa

    5 Penyebab Mulut Anda Terasa Pahit Saat Puasa

    Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh Ajeng Quamila
    Tanggal tayang Mei 19, 2020
    Rutin Minum Madu Saat Sahur Bisa Memberikan 5 Kebaikan Ini

    Rutin Minum Madu Saat Sahur Bisa Memberikan 5 Kebaikan Ini

    Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh Karinta Ariani Setiaputri
    Tanggal tayang Mei 17, 2020
    3 Buah Selain Kurma yang Baik untuk Berbuka Puasa

    3 Buah Selain Kurma yang Baik untuk Berbuka Puasa

    Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh Monika Nanda
    Tanggal tayang Mei 14, 2020
    5 Fungsi Antiseptik Cair Selain untuk Mandi

    5 Fungsi Antiseptik Cair Selain untuk Mandi

    Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
    Ditulis oleh Willyson Eveiro
    Tanggal tayang Mei 12, 2020