Anak Perempuan yang Puber Dini Berisiko Alami Kekerasan Dalam Pacaran

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum

Rata-rata, anak perempuan akan mengalami masa pubertas ketika memasuki usia 8-13 tahun. Tapi, tak sedikit anak perempuan yang mengalami pubertas dini. Jika Anda memiliki anak perempuan yang mengalami pubertas dini, maka sebaiknya Anda harus lebih waspada dan memperhatikan pergaulannya. Sebab, anak perempuan yang mengalami pubertas dini cenderung berisiko untuk mengalami kekerasan dalam pacaran. Mengapa?

Pubertas dini meningkatkan risiko anak perempuan alami kekerasan dalam pacaran

Kekerasan dalam pacaran lebih cenderung terjadi pada anak perempuan yang mengalami pubertas dini. Pernyataan tersebut berasal dari sebuah penelitian yang dilaporkan jurnal Pediatrics dan melibatkan peserta sebanyak 3870 anak perempuan yang berusia 13 sampai 17 tahun. Para peneliti dan mendata kapan mereka mengalami pubertas dan menanyakan terkait hubungan pacaran yang pernah mereka jalani.

Setelah mengumpulkan data, diketahui jika sebagian besar kelompok anak perempuan yang pubertas dini mengaku bahwa mereka pernah mengalami kekerasan dalam pacaran, entah itu kekerasan verbal maupun fisik.

Selain itu, para ahli juga menemukan pada kelompok tersebut, berisiko 29% lebih tinggi untuk alami kekerasan dalam pacaran jika anak-anak perempuan tersebut memiliki teman laki-laki yang lebih banyak.

Mengapa anak yang pubertas dini bisa menjadi korban kekerasan dalam pacaran?

Para ahli menyatakan bahwa sebenarnya kekerasan dalam pacaran dapat terjadi pada siapa saja, entah ia mengalami pubertas dini atau tidak. Namun pada penelitian ini, para peneliti mengungkapkan jika kondisi tersebut dapat dikaitkan dengan pembentukan emosi, kepribadian, serta perubahan fisik seorang anak yang terjadi ketika masa pubertas.

Penjelasan yang diungkapkan oleh peneliti yaitu, anak perempuan yang telah mengalami pubertas dianggap dan dinilai lebih menarik dan atraktif di mata anak laki-laki, ketimbang dengan anak perempuan yang belum pubertas. Ketertarikan ini didasarkan dari, berkembangan secara fisik, seksual, dan emosi yang mulai terbentuk ketika memasuki masa pubertas.

Selain itu, kematangan emosi dari anak perempuan yang telah pubertas dini ini bisa juga menjadi penyebabnya. Emosi yang tak stabil dapat menyebabkan hubungan romantis yang mereka jalin dengan pasangan mereka tidak berjalan dengan baik dan dapat menyebabkan kekerasan di dalamnya.

Bagaimana mencegah kekerasan dalam pacaran yang mungkin terjadi pada anak saya?

Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa peran orangtua sangat penting dalam hal ini. Orangtua sebaiknya mulai memberikan pelajaran terkait pubertas, pendidikan seksual, bahkan tentang hubungan asmara sekali pun pada anak-anaknya, sebelum mereka memasuki masa pubertas.

Hal ini dilakukan agar anak mulai mengerti apa yang dapat terjadi padanya saat pubertas, apa itu pacaran, dan apa saja yang boleh dilakukan ketika berpacaran. Tak perlu menyampaikan apa arti sebenarnya dalam berhubungan, seperti layaknya orang dewasa. Anda hanya perlu menyampaikan konsep dasar dari rasa suka menyukai atau rasa senang yang terjadi dalam sebuah pasangan.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: Juni 28, 2017 | Terakhir Diedit: September 6, 2017

Sumber
Yang juga perlu Anda baca