Anak Perempuan yang Puber Dini Berisiko Alami Kekerasan Dalam Pacaran

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 20/04/2020
Bagikan sekarang

Rata-rata, anak perempuan akan mengalami masa pubertas ketika memasuki usia 8-13 tahun. Tapi, tak sedikit anak perempuan yang mengalami pubertas dini. Jika Anda memiliki anak perempuan yang mengalami pubertas dini, maka sebaiknya Anda harus lebih waspada dan memperhatikan pergaulannya. Sebab, anak perempuan yang mengalami pubertas dini cenderung berisiko untuk mengalami kekerasan dalam pacaran. Mengapa?

Pubertas dini meningkatkan risiko anak perempuan alami kekerasan dalam pacaran

Kekerasan dalam pacaran lebih cenderung terjadi pada anak perempuan yang mengalami pubertas dini. Pernyataan tersebut berasal dari sebuah penelitian yang dilaporkan jurnal Pediatrics dan melibatkan peserta sebanyak 3870 anak perempuan yang berusia 13 sampai 17 tahun. Para peneliti dan mendata kapan mereka mengalami pubertas dan menanyakan terkait hubungan pacaran yang pernah mereka jalani.

Setelah mengumpulkan data, diketahui jika sebagian besar kelompok anak perempuan yang pubertas dini mengaku bahwa mereka pernah mengalami kekerasan dalam pacaran, entah itu kekerasan verbal maupun fisik.

Selain itu, para ahli juga menemukan pada kelompok tersebut, berisiko 29% lebih tinggi untuk alami kekerasan dalam pacaran jika anak-anak perempuan tersebut memiliki teman laki-laki yang lebih banyak.

Mengapa anak yang pubertas dini bisa menjadi korban kekerasan dalam pacaran?

Para ahli menyatakan bahwa sebenarnya kekerasan dalam pacaran dapat terjadi pada siapa saja, entah ia mengalami pubertas dini atau tidak. Namun pada penelitian ini, para peneliti mengungkapkan jika kondisi tersebut dapat dikaitkan dengan pembentukan emosi, kepribadian, serta perubahan fisik seorang anak yang terjadi ketika masa pubertas.

Penjelasan yang diungkapkan oleh peneliti yaitu, anak perempuan yang telah mengalami pubertas dianggap dan dinilai lebih menarik dan atraktif di mata anak laki-laki, ketimbang dengan anak perempuan yang belum pubertas. Ketertarikan ini didasarkan dari, berkembangan secara fisik, seksual, dan emosi yang mulai terbentuk ketika memasuki masa pubertas.

Selain itu, kematangan emosi dari anak perempuan yang telah pubertas dini ini bisa juga menjadi penyebabnya. Emosi yang tak stabil dapat menyebabkan hubungan romantis yang mereka jalin dengan pasangan mereka tidak berjalan dengan baik dan dapat menyebabkan kekerasan di dalamnya.

Bagaimana mencegah kekerasan dalam pacaran yang mungkin terjadi pada anak saya?

Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa peran orangtua sangat penting dalam hal ini. Orangtua sebaiknya mulai memberikan pelajaran terkait pubertas, pendidikan seksual, bahkan tentang hubungan asmara sekali pun pada anak-anaknya, sebelum mereka memasuki masa pubertas.

Hal ini dilakukan agar anak mulai mengerti apa yang dapat terjadi padanya saat pubertas, apa itu pacaran, dan apa saja yang boleh dilakukan ketika berpacaran. Tak perlu menyampaikan apa arti sebenarnya dalam berhubungan, seperti layaknya orang dewasa. Anda hanya perlu menyampaikan konsep dasar dari rasa suka menyukai atau rasa senang yang terjadi dalam sebuah pasangan.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Manfaat Rutin Melakukan Yoga Bridge Pose pada Fisik dan Mental

Bridge pose menjadi salah satu pose yoga yang memiliki banyak manfaat. Ragam manfaat tersebut mulai dari kesehatan fisik hingga menjaga kesehatan mental.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu

Penyebab Rambut Rontok pada Remaja dan Cara Mengatasinya

Rambut rontok pada remaja bisa disebabkan oleh beberapa kondisi. Tapi sering kali hanya sementara dan bisa tumbuh kembali jika diketahui penyebabnya.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu

KDRT dan Konflik Rumah Tangga Selama COVID-19 di Indonesia

Kondisi pandemi bisa membuat hal-hal kecil menjadi pertengkaran antara suami istri, tapi konflik rumah tangga ini tidak serta-merta merupakan KDRT.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 22/04/2020

Kesehatan Mental Karyawan Kena PHK Karena Pandemi COVID-19

PHK secara tiba-tiba karena COVID-19 berpotensi menimbulkan masalah bagi para karyawan, terutama pada kesehatan mental mereka.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 15/04/2020

Direkomendasikan untuk Anda

dampak pandemi mental remaja

Pengaruh Pandemi Terhadap Kesehatan Mental Remaja, Apa Saja?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 23/05/2020
crab mentality adalah

Crab Mentality, Sindrom Psikologis yang Menghambat Orang Lain untuk Sukses

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 13/05/2020
bahaya junk food pada otak remaja

Begini Bahaya Junk Food pada Otak Anak Remaja

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 08/05/2020
pentingnya support system

5 Alasan Pentingnya Punya Tim Support System untuk Kesehatan Mental

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Dipublikasikan tanggal: 07/05/2020