Penelitian Buktikan Gemar Makan Ikan Ternyata Bisa Kurangi Gejala Rematik

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 27/01/2019
Bagikan sekarang

Rematik termasuk penyakit autoimun yang tidak bisa disembuhkan, tetapi masih bisa diringankan gejalanya. Penelitian menunjukkan fakta bahwa gemar makan ikan bisa membantu meringankan gejala rematik. Mengapa bisa begitu?

Gemar makan ikan kurangi gejala rematik

pantangan rematik

Peneliti menemukan fakta bahwa orang yang makan ikan minimal dua kali seminggu mengalami gejala rematik yang lebih ringan dibanding dengan orang yang makan ikan sekali per bulannya. Fakta ini dilaporkan oleh Dr. Sara Tedeschi, dari Brigham and Women’s Hospital dan Harvard Medical School, dalam jurnal Arthritis Care & Research. Sebagai ketua penelitian, Dr. Tedeschi menemukan fakta bahwa gejala penyakit ini bahkan terus berkurang setiap kali Anda menambah porsi ikan setiap minggunya.

Rematik sendiri adalah kondisi kronis yang terus berkembang di mana sistem kekebalan tubuh mengalami kekeliruan dan menyerang sendi. Akibatnya, kondisi ini mengakibatkan peradangan, pembengkakan, dan rasa nyeri. Jika dibiarkan, peradangan bisa menyebabkan kerusakan tulang rawan. Kondisi ini menyebabkan sendi kaku, bengkok, dan sulit digerakkan.

Penelitian ini dilakukan menggunakan data dari 176 orang pasien rematik. Para peserta ini mengisi kuisioner yang berisi pertanyaan seberapa sering mereka makan ikan di tahun sebelumnya apakah kurang dari sebulan sekali, sebulan sekali, sekali atau dua kali seminggu, atau lebih dari dua kali seminggu. Selain itu, peneliti juga meminta menyebutkan jenis ikan yang dimakan dan bagaimana cara memasaknya. Cara memasak yang tidak diperbolehkan yaitu ikan digoreng, kerang yang tidak dikeringkan, atau mencapurkan ikan dalam bahan makanan. Hal ini dapat mempengaruhi kandungan EPA dan DHA.  

Seberapa parahnya penyakit kemudian diukur dengan menggunakan skor aktivitas penyakit yang disebut DAS28-CRP. Caranya dengan mengukur jumlah sendi yang membengkak di 28 lokasi serta adanya protein C-reaktif yang menjadi penanda peradangan.

Selain itu, peneliti juga mempertimbangkan jenis kelamin, indeks massa tubuh atau BMI, merokok atau tidak, konsumsi suplemen minyak ikan, obat, dan lainnya. Dari hasil penelitian, didapatkan fakta bahwa semakin banyak makan ikan dalam seminggu maka semakin berkurang pula gejala rematik yang dirasakan.

Nutrisi dalam ikan membantu mengurangi peradangan

ikan paling sehat

Para peneliti menarik simpulan bahwa kandungan asam lemak omega 3 DHA dan EPA-lah yang berperan dalam hal ini. Keduanya merupakan antiradang yang ampuh. Omega 3 terdiri dari DHA dan EPA yang biasanya ditemukan pada jenis ikan tertentu seperti salmon, sarden, dan tuna.

Omega 3 juga ditemukan dalam tanaman seperti biji rami, kenari, dan sayuran berdaun hijau, tetapi tidak mengandung DHA atau EPA. Oleh karena itu, sumber omega 3 yang bisa memberikan manfaat untuk mengurangi gejala rematik hanyalah ikan.

Bahkan, suplemen minyak ikan juga terbukti efektif mengatasi radang sendi pada orang rematik. Pasalnya, minyak ikan mengandung DHA dan EPA. Oleh sebab itu, pasien rematik yang diberikan suplemen minyak ikan juga mengalami hal yang sama, yaitu rasa sakit yang berkurang dibanding biasanya.

Akan tetapi, masih dibutuhkan penelitian lanjutan untuk membuktikan apakah benar gemar makan ikan bisa mengurangi gejala rematik. Pasalnya, menurut Daniela di Giuseppe, Ph.D., di Karolinksa Institute di Stockholm, yang juga mempelajari hubungan antara rematik dan makan ikan menyatakan mungkin saja hal ini disebabkan karena orang tersebut juga menerapkan gaya hidup yang lebih sehat. Dengan begitu, hal ini memengaruhi kondisi kesehatannya secara keseluruhan.

Meski begitu, ikan memang mengandung banyak lemak yang baik untuk kesehatan. Bahkan, American Heart Association menyatakan bahwa makan ikan dua kali seminggu juga membantu menurunkan risiko stroke dan menjaga kesehatan jantung. Namun, Anda juga tetap harus memilih jenis ikan yang aman dikonsumsi dan sedikit mengandung merkuri apalagi pada anak-anak dan wanita hamil.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Ternyata, Siwak Juga Bisa Bantu Ringankan Gejala Rematik

Siwak adalah tanaman yang kaya akan manfaat, termasuk untuk mengobati rematik. Penasaran apa saja manfaat siwak untuk rematik? Simak artikel berikut ini.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Shylma Na'imah

Mengenali Penyakit Autoimun dari Gejala Hingga Cara Mencegahnya

Jangan anggap sepele, penyakit autoimun bisa merusak organ tubuh secara perlahan. Oleh sebab itu, yuk cari tahu semua hal tentang penyakit ini dari ahlinya.

Ditulis oleh: Widya Citra Andini

Apa Bedanya Rematik, Demam Rematik, dan Penyakit Jantung Rematik?

Artritis, demam rematik, dan penyakit jantung rematik adalah tiga kondisi dengan istilah yang mirip tapi sebenarnya sangat berbeda. Apa saja bedanya?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Diah Ayu

Mana yang Lebih Bergizi: Ikan Laut Atau Air Tawar?

Baik ikan air tawar dan ikan laut sama-sama mudah diolah dan enak disantap. Namun, adakah perbedaan nilai gizi di antara keduanya? Mana yang lebih tinggi?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Nutrisi, Hidup Sehat 26/04/2019

Direkomendasikan untuk Anda

ikan tilapia

4 Manfaat Ikan Tilapia (Ikan Nila) untuk Kesehatan Anda

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Dipublikasikan tanggal: 10/03/2020
pemeriksaan badan pegal rematik

Ke Mana Harus Memeriksakan Diri Saat Badan Pegal Seperti Rematik?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 08/11/2019
lupus pada ibu hamil lupus saat hamil

Semua Hal yang Perlu Anda Tahu Seputar Lupus dan Kehamilan

Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 04/10/2019
rheumatoid arthritis pada remaja

Kena Rheumatoid Arthritis Saat Muda, Apakah Harus Menjalani Pengobatan Selamanya?

Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 29/07/2019