Mengenal Lebih Jauh Fungsi Leukosit, Sel Darah Putih Penghasil Kekebalan Tubuh

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 27 Juli 2020 . Waktu baca 7 menit
Bagikan sekarang

Leukosit adalah satu dari empat komponen darah manusia. Jangan salah! Meski jumlah leukosit dalam tubuh kita jauh lebih sedikit daripada sel darah merah, fungsinya tidak boleh Anda sepelekan. Tubuh Anda dapat melawan kuman penyebab penyakit karena leukosit memiliki peran utama sebagai pembangun kekebalan tubuh. Lantas, apa saja fungsi leukosit selengkapnya? Simak penjelasannya di bawah ini. 

Apa itu leukosit?

Leukosit adalah nama lain dari sel darah putih yang menjadi bagian dari sistem kekebalan tubuh alias sistem imun.

Bagaimana Cara Kerja Sistem Imun Manusia?

Leukosit berfungsi melacak dan melawan mikroorganisme atau molekul asing penyebab penyakit atau infeksi, seperti bakteri, virus, jamur, atau parasit. Leukosit tidak hanya memerangi kuman yang menyebabkan penyakit dan infeksi, tetapi juga berusaha melindungi kita terhadap agen asing yang menjadi ancaman.

Beberapa sel leukosit langsung bekerja membunuh kuman penyakit sampai tuntas, sedangkan beberapa lainnya yang menghasilkan senjata dalam bentuk antibodi untuk melindungi tubuh. Ada pula sel darah putih yang fungsinya sebatas memberi informasi kepada pasukan leukosit “penyerang” bahwa penyakit telah terjadi.

Apa saja jenis leukosit dan fungsinya?

Ada lima jenis leukosit berbeda yang mengembang tugas spesifik berdasarkan kemampuan masing-masing dan jenis molekul asing yang dilawan. Lima komponen sel darah putih ini disebut neutrofil, basofil, eosinofil, monosit, dan limfosit.

1. Neutrofil

Hampir setengah dari jumlah sel darah putih dalam tubuh adalah sel neutrofil. Neutrofil adalah sel pertama dari sistem kekebalan tubuh yang merespons dengan cara menyerang bakteri atau virus.

Sebagai tameng utama, neutrofil juga akan mengirimkan sinyal yang memperingati sel-sel lain dalam sistem kekebalan tubuh untuk merespons bakteri atau virus tersebut. Neutrofil umumnya ada pada nanah yang keluar dari infeksi atau luka di tubuh Anda.

Leukosit ini akan keluar setelah dilepaskan dari sumsum tulang, dan bertahan di tubuh hanya sekitar 8 jam. Tubuh Anda dapat memproduksi sekitar 100 miliar sel neutrofil tiap hari.

2. Eosinofil

Eosinofil adalah bagian dari leukosit yang berfungsi melawan bakteri dan infeksi parasit (seperti cacing). Eosinofil juga bekerja ketika seseorang mengalami reaksi alergi. Apabila jumlah sel eosinofil berlebihan, maka umumnya ini adalah hasil dari respon imun terhadap zat penyebab alergi.  

Eosinofil jumlahnya hanya sekitar 1 persen dari sel darah putih dalam aliran darah Anda, namun pada sistem pencernaan Anda jumlahnya lebih tinggi.

Eosinofil tak hanya membawa manfaat bagi tubuh, tetapi juga bahaya. Pada kondisi ekstrem, seperti pada penyakit eritema toksikum, eosinofil dapat berperan sebagai elemen bermanfaat atau sekadar pengamat. 

3. Basofil

Basofil adalah leukosit yang jumlahnya hanya sekitar 1 persen. Basofil berfungsi untuk meningkatkan respons imun non-spesifik terhadap patogen. Basofil adalah sel yang paling dikenal karena perannya memunculkan asma.

Ketika dirangsang dengan adanya pemicu asma, seperti debu, sel basofil akan melepaskan histamin. Basofil inilah yang dapat menyebabkan peradangan dan bronkokonstriksi di saluran pernapasan Anda.

4. Limfosit (limfosit B dan limfosit T)

Limfosit adalah leukosit yang penting untuk menjaga sistem kekebalan tubuh. Ada dua jenis utama limfosit, yaitu limfosit sel B dan sel T. 

Limfosit B fungsinya membuat antibodi untuk menyerang bakteri, virus, dan racun yang menyerang tubuh Anda. Sementara itu, limfosit T bertanggung jawab untuk menghancurkan sel tubuh sendiri yang telah diserang virus atau menjadi kanker. 

Limfosit T merupakan pejuang yang melawan penjajah secara langsung. Limfosit jenis ini juga memproduksi sitokin yang merupakan zat biologis yang membantu mengaktifkan bagian lain dari sistem kekebalan tubuh.

Limfosit T dapat dibedakan menjadi beberapa bagian, yaitu:

  • Sel T penolong bertugas melepaskan protein yang disebut sitokin yang membantu mengarahkan respons sel darah putih lainnya. 
  • Sel T sitotoksik (juga dikenal sebagai sel T pembunuh alami) mampu melepaskan molekul yang membunuh virus dan benda asing lainnya. 
  • Sel T memori akan hadir setelah tubuh memerangi infeksi dan membantu tubuh agar lebih mudah menghadapi infeksi sejenis di kemudian hari. 
  • Sel T regulator (juga dikenal sebagai sel T penekan) bertugas membantu untuk mengatur sel T lain untuk mencegah mereka menargetkan sel-sel tubuh sendiri. 

5. Monosit

Monosit adalah leukosit yang bisa dibilang sebagai truk sampah. Monosit berasal dari sumsum tulang belakang yang melakukan perpindahan di dalam darah dan limpa. Monosit dikenal dengan kemampuan mereka untuk mengenali “sinyal bahaya”. 

Sel leukosit ini jumlahnya ada sekitar 5 persen dari keseluruhan sel darah putih. Fungsi truk sampah monosit ini adalah berpindah ke jaringan-jaringan dalam tubuh sembari membersihkan sel-sel mati di dalamnya.

Monosit dapat dibedakan menjadi dua jenis sel, yaitu:

  • Sel dendritik, yaitu sel penyaji antigen dengan menandai benda asing yang perlu dihancurkan oleh limfosit. 
  • Makrofag, yaitu sel yang lebih besar dan hidup lebih lama dari neutrofil. Makrofag juga dapat bertindak sebagai sel penyaji antigen.  

Bagaimana hasil tes sel darah putih yang normal?

leukosit sel darah putih

Penting untuk melakukan tes darah apabila ditemukan gejala penyakit seperti infeksi virus dan bakteri. Anda bisa melakukan tes sel darah putih di puskesmas, klinik atau pun rumah sakit.

Menurut standar yang disebutkan American Associaton of Family Physician (AAFP), berikut adalah kadar normal leukosit apabila dihitung berdasarkan kategori usia:

  • Anak bayi baru lahir kadar  leukosit normalnya sebanyak 13.000-38.000/mm3
  • Bayi dan anak-anak kadar normalnya 5.000-20.000/mm3
  • Orang dewasa kadar sel darah putih normalnya berkisar 4.500-11.000/mm3
  • Wanita hamil (trimester tiga) beriksar 5.800-13.200/mm3

Apabila jumlah sel darah putih berlebih, umumnya hal itu disebut leukositosis. Melacak jumlah sel darah putih umumnya dibarengi juga dengan tes sel darah merah.

Apa penyebab jumlah leukosit naik atau turun?

Seperti yang telah dijelaskan di atas, bahwa leukosit penting untuk menjaga sistem kekebalan imun tubuh. Apabila leukosit jumlahnya sedikit, Anda jadi rentan kena penyakit. Apabila sel darah putih berlebih hal itu juga berbahaya.

Tes darah yang menunjukkan jumlah leukosit kurang dari 4.000 per mikroliter (beberapa ahli ada juga yang mengatakan bahwa batas minimalnya kurang dari 4.500) dapat menandakan bahwa tubuh Anda mungkin tidak dapat melawan infeksi seperti seharusnya. Jumlah leukosit rendah ini  juga disebut sebagai leukopenia.

Sementara itu, leukosit berlebih disebut leukositosis. Umumnya, leukositosis yang serius dan perlu dikhawatirkan adalah bila jumlah leukosit naik sampai di atas 100.000/mm3

Penyakit yang ditandai dengan jumlah sel darah putih tinggi

Beberapa kondisi berikut ini juga bisa menyebabkan leukosit berlebih:

  • Infeksi
  • Adanya kanker seperti leukemia, limfoma, dan mieloma. Kondisi tersebut terjadi ketika banyak sel darah putih diproduksi
  • Peradangan seperti penyakit radang usus dan gangguan autoimun
  • Trauma tubuh atau mental, seperti adanya patah tulang dan stres
  • Anda sedang hamil. kehamilan bisa membuat jumlah sel darah putih meningkat
  • Asma dan alergi yang ditandai dengan meningkatnya sel darah putih eosinofil.

Penyebab sel darah putih rendah

Kondisi yang dapat menyebabkan jumlah leukosit menurun meliputi:

  • Infeksi parah
  • Kerusakan atau gangguan sumsum tulang, termasuk anemia aplastik.
  • Penyakit autoimun seperti lupus.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

5 Hal yang Harus Anda Lakukan Ketika Menyaksikan Bullying

Anda sering melihat bullying tapi tidak tahu harus berbuat apa? Anda ingin menolong korban tapi takut? Cari tahu di sini apa yang harus Anda lakukan!

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Hidup Sehat, Psikologi 24 September 2020 . Waktu baca 5 menit

Apakah Posisi Kencing Berdiri Berbahaya untuk Kesehatan?

Kencing dengan posisi berdiri kerap dilakukan pria, tapi mereka yang mengidap gangguan saluran kemih justru dilarang. Apa alasannya?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Novita Joseph
Urologi, Kandung Kemih 24 September 2020 . Waktu baca 5 menit

Kenapa Cuaca Dingin Bikin Rematik Kumat dan Bagaimana Mengatasinya?

Istilah 'dingin sampai menusuk tulang' bisa terjadi pada penderita rematik Nyeri sendi akibat rematik kambuh bisa disebabkan oleh cuaca, bagaimana bisa?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Hidup Sehat, Tips Sehat 24 September 2020 . Waktu baca 3 menit

Terapi Urine dengan Minum Air Kencing, Benarkah Efektif?

Terapi urine dengan minum air kencing yang terdengar menjijikkan telah dipercaya sejak berabad-abad lalu. Apakah manfaatnya?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Urologi, Kandung Kemih 23 September 2020 . Waktu baca 8 menit

Direkomendasikan untuk Anda

obat psoriasis alami

Sederet Bahan Herbal yang Berpotensi Sebagai Obat untuk Psoriasis

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Dipublikasikan tanggal: 25 September 2020 . Waktu baca 9 menit
obat cacing kremi

Obat Paling Ampuh untuk Menghilangkan Cacing Kremi

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 25 September 2020 . Waktu baca 5 menit
ensefalopati uremikum

Ensefalopati Uremikum, Komplikasi Gangguan Ginjal yang Menyerang Otak

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 25 September 2020 . Waktu baca 4 menit
hubungan suami istri terasa hambar

3 Hal yang Membuat Seks Tidak Lagi Terasa Memuaskan, dan Cara Mengatasinya

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 24 September 2020 . Waktu baca 4 menit