Bahaya yang Mungkin Muncul Akibat Menghirup Asap Kebakaran Hutan

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 30/06/2019 . Waktu baca 3 menit
Bagikan sekarang

Dampak kebakaran hutan tidak hanya terasa langsung ketika api masih berkobar. Setelah api padam, asap kebakaran hutan masih dapat menyebar dan menimbulkan bahaya bagi orang-orang yang tinggal di sekitar wilayah bencana.

Asap kebakaran hutan mungkin tidak tampak berbahaya secara kasat mata. Padahal, berbagai bahan yang terkandung di dalamnya dapat menjadi penyebab dari beragam gangguan kesehatan.

Kandungan berbahaya dalam asap kebakaran hutan

Sumber: Popular Science

Semua jenis asap bisa menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan, terutama bila terhirup. Namun, asap kebakaran hutan memiliki bahaya yang jauh lebih besar karena kandungan berbagai zat kimia berbahaya di dalamnya.

Kebanyakan zat kimia pada asap kebakaran hutan berasal dari pepohonan, bangunan, kendaraan, fasilitas industri, dan permukiman di sekitar hutan.

Zat kimia ini biasanya digunakan dalam pestisida, cat, bahan bakar, hingga pelapis bangunan.

Selain itu, asap kebakaran hutan juga mengandung banyak partikel abu dari material yang terbakar. Jika terhirup, partikel pada asap kebakaran hutan akan masuk ke paru sehingga mengakibatkan gangguan pernapasan.

Risiko kesehatan akibat menghirup asap kebakaran hutan

Sebuah penelitian pada tahun 2018 menemukan bahwa paparan asap kebakaran hutan dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan serius pada sistem pernapasan. Di antaranya asma, bronkitis, pneumonia, serta penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).

Namun, bahaya asap kebakaran hutan tidak berhenti sampai di situ. Campuran gas, zat kimia, partikel debu, dan bahan-bahan lain pada asap kebakaran hutan bisa menimbulkan efek jangka pendek dan jangka panjang bagi kesehatan.

1. Efek jangka pendek

Berikut adalah efek jangka pendek yang berisiko muncul akibat paparan asap kebakaran hutan:

  • Kesulitan untuk bernapas secara normal
  • Sesak napas atau napas terdengar nyaring
  • Iritasi pada tenggorokan dan paru
  • Batuk
  • Tenggorokan gatal
  • Hidung meler
  • Sinus mengalami iritasi
  • Iritasi mata
  • Sakit kepala

Pada kasus yang parah, dampak asap kebakaran hutan dapat menghambat pasokan oksigen menuju jantung. Kondisi ini dapat berakibat fatal bila tidak segera ditangani.

2. Efek jangka panjang

Asap kebakaran hutan dapat bertahan lama sehingga menurunkan kualitas udara di wilayah sekitar bencana. Akibatnya, penduduk yang mendiami wilayah ini lebih berisiko mengalami efek jangka panjang karena menghirup asap kebakaran.

Gangguan kesehatan yang berisiko muncul di antaranya penyakit ginjal, diabetes, masalah kesuburan, dan peningkatan tekanan darah.

Beberapa penelitian juga menemukan adanya peningkatkan risiko gangguan saraf seperti penyakit Alzheimer.

Menghindari bahaya asap kebakaran hutan

Mengutip laman Centers for Disease Control and Prevention, berikut adalah beberapa langkah yang bisa Anda lakukan untuk meminimalisasi dampak asap kebakaran hutan:

  • Mempersiapkan fasilitas yang diperlukan untuk mengantisipasi kebakaran hutan
  • Memeriksa kondisi kualitas udara setiap hari
  • Menjaga udara di dalam rumah sebersih mungkin
  • Menghindari kegiatan luar rumah bila tidak benar-benar mendesak
  • Menggunakan masker khusus, sebab masker yang dijual secara umum tidak dapat menahan partikel abu pada asap kebakaran
  • Memasang penyaring udara di rumah
  • Menghindari sumber polusi dalam rumah, misalnya asap rokok
  • Berkonsultasi dengan dokter untuk memantau kondisi kesehatan

Paparan terhadap asap kebakaran hutan, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang, memiliki sejumlah bahaya bagi kesehatan. Maka dari itu, perlindungan diri menjadi suatu hal yang harus diutamakan saat kebakaran hutan terjadi.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Benarkah Udara Kotor Bisa Bikin Susah Tidur?

Selain memberikan dampak buruk untuk kesehatan paru-paru dan jantung, udara kotor ternyata juga dapat mempengaruhi tidur Anda.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Hidup Sehat, Gangguan Tidur 01/04/2020 . Waktu baca 4 menit

Cara Mendiagnosis COVID-19 pada Tubuh Manusia

Novel coronavirus (COVID-19) dari China kian menyita perhatian dunia. Bagaimana cara tenaga medis melakukan diagnosis terhadap novel coronavirus?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Coronavirus, COVID-19 22/01/2020 . Waktu baca 6 menit

Apa Dampaknya Berolahraga di Tengah Kabut Asap Australia?

Olahraga memang menyehatkan, tapi melakukannya saat terdapat kabut asap justru berbahaya bagi kesehatan. Mengapa demikian?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Hidup Sehat, Tips Sehat 20/01/2020 . Waktu baca 4 menit

Cegah Polusi di Dalam Ruangan Dengan 5 Cara Ini

Polusi tidak terjadi di luar saja, melainkan juga dalam ruangan. Supaya kesehatan Anda terjaga, cari tahu cara mencegah polusi udara dalam ruangan di sini.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Hidup Sehat, Tips Sehat 03/12/2019 . Waktu baca 7 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Sponsored
dampak menghirup udara kotor

Tak Hanya di Luar, Udara Kotor di Dalam Ruangan Bisa Ganggu Sistem Pernapasan

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Maria Amanda
Dipublikasikan tanggal: 04/06/2020 . Waktu baca 6 menit
dampak polusi udara pada mata

Dampak Polusi Udara pada Kesehatan Mata dan Cara Mencegahnya

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Dipublikasikan tanggal: 01/05/2020 . Waktu baca 4 menit
pelonggaran psbb dki efek covid-19 kondisi lingkungan

Begini Efek Pandemi COVID-19 Terhadap Lingkungan Sekitar

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 28/04/2020 . Waktu baca 5 menit
Sponsored
hidung

Keunggulan Nasal Spray Powder untuk Melindungi Hidung

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Dipublikasikan tanggal: 24/04/2020 . Waktu baca 4 menit