Setelah Tahu 7 Bahaya Vape Ini, Apa Masih Tetap Mau Vaping?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Vape atau rokok elektrik sangat populer terutama di kalangan anak remaja. Banyak orang yang mengira vape lebih baik daripada rokok. Padahal nyatanya, vape tetap mengandung nikotin dan berbagai zat lain yang bahaya untuk tubuh. Sebelum melanjutkan kebiasaan yang satu ini, kenali dulu bahaya rokok elektrik untuk kesehatan Anda.

Bahaya vape yang tak boleh disepelekan

Faktanya, di balik kepopuleran vape, ada banyak bahaya yang terkandung di dalamnya. Bahaya vape ternyata tak hanya membuat kecanduan saja, tapi masih banyak masalah lain yang mungkin ditimbulkan jika Anda tidak berhenti vaping. Berikut berbagai bahaya vape atau rokok elektrik yang wajib diketahui:

1. Menyebabkan kecanduan seperti rokok

Sama dengan rokok tembakau, vape juga mengandung nikotin, yang berarti dapat menyebabkan ketergantungan. Nikotin dapat meningkatkan kadar dopamin di dalam otak. Hormon yang satu ini akan memengaruhi bagian otak yang mengendalikan perasaan senang.

Akibatnya, otak akan “memotivasi” Anda untuk menggunakan nikotin lagi dan lagi. Meski Anda tahu bahayanya, otak akan mengabaikan hal tersebut dan terus ingin mengembalikan perasaan senang tersebut.

Orang yang menggunakan vape juga berisiko mengalami ketergantungan. Ini karena tabung dengan tegangan tinggi pada vape dapat mengalirkan nikotin dalam jumlah besar ke dalam tubuh.

Menurut dr. Neal Benowitz dari Center for Tobacco Control Research and Education, belum ada bukti medis yang menunjukkan bahwa vape bisa membantu menghentikan kecanduan rokok tembakau.

Bahkan dalam penelitiannya ditemukan bahwa mengurangi dosis nikotin tidak membawa perubahan apapun terhadap kebiasaan merokok.

Selain itu, penelitian lain melaporkan bahwa jenis nikotin yang ditemukan dalam vape ternyata merupakan nikotin yang paling mudah diserap oleh tubuh.

Ketika Anda menghirup nikotin, zat ini akan masuk ke otak hanya dalam waktu sekitar 10 detik. Reaksi otak terhadap nikotin adalah memproduksi hormon adrenalin yang membuat Anda merasa lebih bersemangat dan berenergi.

Namun, efek ini sangat cepat hilang, yang akhirnya membuat tubuh Anda menjadi lemas dan tidak berenergi. Jadi seketika Anda juga merasa harus vaping lagi dan lagi.

2. Buruk bagi kesehatan paru

Meski tidak memakai tembakau, bukan berarti bahaya vape untuk paru-paru tidak Anda diperhitungkan. Kandungan nikotin yang terdapat di dalam vape juga memiliki dampak buruk pada paru-paru.

Nikotin dapat menyebabkan peradangan pada paru-paru sehingga mengurangi kemampuan jaringan untuk melindungi dari zat asing.

Menurut Irina Petrache, dokter dan spesialis paru-paru di Indiana University, Indianapolis, nikotin dari mana pun asalnya tetap berbahaya bagi jaringan paru-paru.

Sebuah penelitian dalam Toxicology and Applied Pharmalogy, melaporkan bahwa vape memiliki bahaya yang sama dengan efek jangka pendek dari rokok tembakau. Hasilnya pun menunjukkan gejala yang sama yaitu peradangan dan kerusakan paru-paru.

Selain memiliki dampak buruk bagi paru, nikotin yang terkandung di dalam vape juga membahayakan bagian tubuh yang lain. Bagian tubuh yang terkena bahaya dari nikotin pada rokok elektrik ini yaitu otak, jantung dan sistem kekebalan tubuh.

Ini karena nikotin yang terserap melalui aliran darah akan merangsang kelenjar adrenal untuk mengeluarkan hormon epinefrin (adrenalin).

Hormon ini mengakibatkan tekanan darah naik serta laju pernapasan dan denyut jantung semakin cepat. Selain itu, nikotin juga mengaktifkan dopamin di otak yang mengakibatkan efek ketergantungan.

Namun, dari beberapa penelitian didapat pula kesimpulan bahwa rokok elektrik dengan atau tanpa nikotin sama-sama dapat mengganggu fungsi paru-paru normal pada orang sehat.

3. Menyebabkan kanker

Rokok disebut-sebut sebagai penyebab utama kanker paru-paru. Lantas, bagaimana dengan vape? Nyatanya, tidak beda jauh dengan rokok, vape bisa juga meningkatkan peluang seseorang terkena kanker.

Hal ini dibuktikan dalam sebuah penelitian yang berasal dari University of Nevada menyatakan bahwa vape mengandung zat formaldehid yang bersifat karsinogenik alias pemicu kanker.

Dalam penelitian tersebut, para ahli menyebutkan zat formaldehid tersebut dapat masuk dan langsung terserap di dalam paru-paru. Hal ini membuat bahaya vape atau rokok elektrik pada penggunanya meningkatkan peluang kanker paru yang cukup besar.

Akan tetapi, diperlukan penelitian lanjutan untk memastikan bahwa rokok elektrik sudah pasti menyebabkan kanker jika digunakan dalam waktu yang cukup lama.

4. Berefek buruk pada kesehatan gigi dan mulut

Faktanya, vape punya sejumlah efek negatif pada kesehatan mulut. Sebuah penelitian yang diterbitkan di PLOS One melaporkan bahwa paparan aeorosol dari rokok elektrik membuat permukaan gigi lebih rentan terhadap bakteri.

Hal ini membuat vape menimbulkan bahaya tersendiri untuk gigi, yaitu meningkatkan risiko berlubang. Selain itu, penelitian lain dalam jurnal Oncotarget, menunjukkan bahwa vape berkaitan erat dengan peradangan gusi.

Selain dua penelitian itu, ada banyak studi serupa yang membuktikan bahaya rokok elektrik pada kesehatan mulut. Umumnya, vape bisa memicu iritasi gusi, mulut, dan tenggorokan.

Bahkan, ada beberapa bukti yang menyimpulkan bahwa rokok elektronik yang mengandung dan bebas nikotin sama-sama bisa merusak sel dan jaringan mulut pada orang yang tidak merokok.

5. Berpotensi merusak jantung

Sebuah tinjauan dalam jurnal Stroke, menyebutkan bahwa aeorosol dalam vape mengandung partikulat, zat pengoksidasi, aldehida, dan nikotin. Saat terhirup, aeorosol ini kemungkinan besar bisa memengaruhi jantung dan sistem peredaran darah.

Hal ini diperkuat oleh laporan dari National Academies Press yang menemukan bukti bahwa menghirup vape nikotin memicu peningkatan detak jantung.

Selain itu, bukti lain menunjukkan bahwa setiap isapan vape bisa meningkatkan tekanan darah. Jika kebiasaan ini dipertahankan, hal ini bisa berpengaruh pada kesehatan jantung dalam jangka panjang.

Dalam survei lain tentang bahaya vape disebutkan bahwa kebiasaan ini meningkatkan risiko stroke, serangan jantung, angina (nyeri dada), dan penyakit jantung.

Vape juga bisa menghambat sistem peredaran darah terutama baagi mereka yang sudah memiliki beberapa penyakit jantung.

Bahkan, bahaya rokok elektrik ini untuk penyakit jantung tetap ada meski Anda menerapkan berbagai gaya hidup sehat lainnya.

6. Berpengaruh pada perkembangan otak

Kebanyakan rokok eletrik biasanya mengandung nikotin. Nikotin merupakan zat adiktif dalam rokok biasa dan produk tembakau lainnya. Dilansir dari laman Centers for Disease Control and Prevention, nikotin pada vape cukup bahaya bagi otak yang sedang berkembang.

Normalnya, otak akan terus berkembang dari mulai bayi hingga sekitar usia 25 tahun. Ketika seseorang menggunakan nikton di masa remaja hal ini membuat perkembangan otak bisa terganggu.

Nikotin bisa membahayakan area otak yang bertanggung jawab untuk mengendalikan perhatian, pembelajaran, suasana hati, dan kendali diri.

Ketika sebuah memori baru diciptakan atau keterampilan baru dipelajari, akan ada sinapsis yang dibangun di antara sel-sel otak. Sinapsis adalah koneksi yang lebih kuat yang dibangun pada sel-sel otak.

Pada remaja, sinapsis biasanya dibangun dengan lebih cepat dibandingkan dengaan orang dewasa. Nah, keberadaan nikotin di dalam otak akan mengubah cara sinapsis ini terbentuk.

Sebuah laporan dari National Academies Press juga menemukan bukti bahwa vape menyebabkan disfungsi sel, stres oksidatif, dan kerusakan DNA.

Selain itu, penggunaan nikotin di masa remaja juga bisia meningkatkan risiko kecanduan obat lain di masa depan. Jangan sampai kecanduan vape menjadi gerbang awal para remaja untuk kecanduan obat-obat terlarang lainnya di kemudian hari.

7. Menyebabkan keracunan pada anak

Cairan vape juga bisa beracun jika seseorang menyentuh, menghirup, atau meminumnya. Dilansir dari laman Family Doctor, ada peningkatan angka keracunan vape pada anak di bawah 5 tahun. Kejadian ini terutama terjadi jika anak memiliki akses ke cairan tersebut.

Oleh karenanya, jika Anda memiliki anak kecil di rumah, pastikan untuk menaruh cairan vape di tempat yang sulit dijangkau oleh si kecil. Namu tentu akan jauh lebih jika Anda mulai meniatkan diri untuk menghentikan kebiasaan vaping demi kesehatan yang lebih baik.

Bahaya vape untuk yang para perokok pasif

Selain pada penggunanya, bahaya rokok elektrik juga bisa berakibat pada mereka yang menghirupnya. Asap yang dihasilkan oleh rokok elektrik punya banyak sekali zat yang cukup bahaya untuk paru-paru dan jantung.

Asap yang terhirup ini bisa mengakibatkan peradangan pada paru-paru. Hal ini bisa menjadi pintu pembuka untuk infeksi bakteri dan pneumonia.

Selain itu, hal lain yang tak boleh diabaikan yaitu partikel yang keluar dari asap vape tak hanya menyebar di udara tetapi juga menempel di permukaan benda. Meja, lantai, dan benda-benda lainnya bisa menjadi tempat asap vape mendarat.

Senyawa-senyawa berbahaya yang ada di dalam vape bisa diserap manusia melalui tiga cara, yaitu, dihirup, termakan (melalui debu yang beterbangan), dan diserap oleh kulit.

Berbagai bahaya ini terutama mengancam anak-anak dan bayi yang sedang belajar merangkak. Bayi dan anak-anak yang bermain di lantai lebih cenderung memakan debu yang ada di permukaannya dua kali lipat. Akibatnya, racun yang terdapat di dalam vape dan menempel di lantai akan ikut termakan.

Seperti yang telah disebutkan, nikotin dalam rokok elektrik punya bahaya yang cukup besar untuk otak yang sedang berkembang. Pasalnya, nikotin bisa mengubah cara kerja otak dan menghambat perkembangannya.

Dalam sebuah penelitiannya, Dr. Jonathan Winickoff, seorang dokter anak dan anggota American Academy of Pediatrics (AAP) bagian pengendalian tembakau, menemukan bahaya nikotin.

Anak dan remaja yang terpapar nikotin akan mengalami gangguan mood, kecemasan, dan depresi. Paparan dini ini bisa membuat otak lebih rentan terhadap kecanduan di masa remaja dan dewasa awal.

Meski masih dibutuhkan berbagai penelitian lanjutan, ada baiknya untuk menjauhkan diri dari paparan asap vape. Meski aromanya tidak semenyengat rokok bahkan terkadang harum, ingatlah bahwa asapnya bisa merugikan kesehatan Anda.

Vape bukan alternatif untuk berhenti merokok

Banyak orang menggunakan vape sebagai alasan untuk berhenti merokok. Namun, Food and Drugs Association (Badan POM Amerika) belum menyetujui vape sebagai cara yang aman atau efektif untuk membantu seseorang berhenti merokok.

Selain itu, nikotin dalam vape adalah zat adiktif, yang dapat membuat kecanduan dan menimbulkan berbagai bahaya untuk kesehatan. Sedikit nikotin yang masuk ke dalam tubuh akan membuat Anda mencari zat nikotin yang lebih besar jumlahnya di kemudian hari.

Oleh karena itu, tidak disarankan untuk menggunakan vape sebagai metode untuk menghentikan kecanduan rokok tembakau. Cara terbaik untuk itu adalah dengan melakukan perubahan gaya hidup secara menyeluruh, dukungan dari orang-orang terdekat, dan menjalani beberapa terapi.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca