Adakah Batas Maksimal untuk Transfusi Darah?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Carla Pramudita Susanto

Transfusi darah terkadang dibutuhkan seseorang ketika sedang mengalami tindakan medis. Saking pentingnya, seringkali transfusi darah dapat menyelematkan nyawa seseorang. Namun transfusi tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Beberapa hal menjadi faktor penentu apakah seseorang memang memerlukan transfusi darah. Terdapat aturan yang perlu Anda ketahui sebelum melakukan atau memiliki kerabat yang akan mendapat transfusi darah. Salah satunya adalah batas atau limit dalam transfusi darah.

Memahami aturan dalam batas maksimal transfusi darah

Sebenarnya tidak ada batas tertentu tentang berapa banyak transfusi darah yang diperbolehkan ketika seseorang sedang dalam kondisi kronis atau keadaan darurat. Namun, terdapat penelitian mengenai siapa saja yang akan mendapat manfaat dari transfusi darah dan apakah terdapat batasan dalam hal jumlah darah yang harus diberikan setiap transfusi.

Parameter transfusi

Darah mengandung sel darah putih dan merah, serta dilengkapi trombosit dan plasma. Transfusi darah dilakukan secara lengkap (semua kandungan darah), atau transfusi yang lebih umum dilakukan yaitu transfusi bagian spesifik dari darah.

Sebagian besar rumah sakit memiliki aturan mengenai tingkat seberapa rendah sel darah merah sebelum pasien dinyatakan perlu mendapat transfusi darah. Aturan ini disebut juga parameter transfusi darah.

Penelitian menunjukkan bahwa dengan melarang transfusi darah sebelum seseorang memiliki tingkat hemoglobin antara 7 dan 8 gram per desiliter (g/dL) berhubungan dengan menurunnya angka kematian, durasi tinggal di rumah sakit yang lebih singkat, dan pemulihan yang lebih cepat.

Penelitian lain menemukan menahan transfusi darah pada pasien untuk menunggu tingkat hemoglobin berada pada parameter 7 atau 8 g/dL menghasilkan manfaat yang lebih baik sekaligus menurunkan biaya pengobatan.

Batas transfusi darah

Batas transfusi darah bergantung pada beberapa faktor dan bertujuan untuk menghindari efek samping atau komplikasi. Darah diawetkan dengan senyawa yang bernama sitrat agar tidak menggumpal. Paparan sitrat akibat transfusi yang berulang dalam waktu berdekatan dapat menyebabkan tingkat kalium Anda meningkat dengan cepat, sedangkan tingkat kalsium dan magnesium menurun. Hal ini dapat berdampak pada kondisi jantung.

Transfusi darah masif berpotensi menyebabkan komplikasi. Transfusi darah masif adalah ketika pasien mendapat 4 unit sel darah merah dalam satu jam, atau lebih dari 10 unit dalam 24 jam.

Komplikasi yang berpotensi terjadi di antaranya:

  • Kelainan elektrolit
  • Hipotermia (suhu tubuh rendah)
  • Penggumpalan darah
  • Asidosis metabolik, di mana cairan tubuh mengandung terlalu banyak asam
  • Stroke atau serangan jantung

Namun, transfusi masif tetap dibutuhkan untuk sebagian kondisi kesehatan, seperti:

Transfusi darah mungkin dibatasi akibat persediaan terbatas

Dalam beberapa kasus seperti ketika bencana alam atau kecelakaan besar yang memakan banyak korban, transfusi darah kemungkinan akan dibatasi.

Kasus lain yang menyebabkan terbatasnya transfusi darah adalah ketika seseorang membutuhkan tambahan darah tapi memiliki kondisi kesehatan yang mungkin kontraindikasi atau akan menyebabkan masalah apabila mendapat tambahan darah. Contohnya seperti kondisi jantung tertentu dapat menjadi lebih buruk apabila terjadi peningkatan jumlah darah dalam tubuh.

Kesimpulan

Sampai saat ini belum ada aturan pasti mengenai berapa jumlah darah yang harus diberikan pada pasien ketika transfusi. Namun, penelitian menunjukan, transfusi darah yang terlalu berlebih dapat mengurangi hasil dari pengobatan bahkan dapat menyebabkan komplikasi.

Mengikuti panduan dan aturan mengenai kapan harus memberikan transfusi darah (memperhatikan tingkat hemoglobin) dapat bermanfaat pada hasil pengobatan dan dapat mengurangi komplikasi.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: Maret 23, 2020 | Terakhir Diedit: Maret 23, 2020

Sumber
Yang juga perlu Anda baca