Bolehkah Kita Donor Darah Saat Puasa? Apa Saja Risikonya?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 2 Mei 2020 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Darah adalah hadiah yang paling berharga yang bisa diberikan oleh siapa pun kepada yang membutuhkan. Keputusan Anda untuk menyumbangkan darah dapat menyelamatkan satu kehidupan, atau bahkan beberapa nyawa sekaligus. Tapi, apa kata dunia medis soal donor darah saat puasa? Apakah boleh menyumbangkan darah dengan kondisi perut kosong?

Berapa kali donor darah dalam setahun yang dianjurkan?

Donor darah sebaiknya dilakukan secara teratur. Tak usah khawatir akan kehabisan darah jika Anda rutin mendonor darah. Ini karena darah memiliki kemampuan regenerasi yang luar biasa untuk mengganti semua sel dan cairan yang telah hilang.

Tubuh Anda memproduksi sekitar 2 juta sel darah merah baru setiap detiknya, sehingga tidak butuh waktu lama untuk menggantikan “kloter” yang hilang setelah donor darah. Tapi, tubuh tetap butuh waktu sekitar empat sampai enam minggu untuk benar-benar menggantikan seluruh kelengkapan komponen sel darah merah dalam tubuh.

Mengingat hal di atas, Palang Merah Internasional merekomendasikan Anda untuk mendonorkan darah setidaknya 8 minggu sekali (56 hari), dengan batas maksimal 6 kali donor dalam satu tahun. Namun idealnya, Anda harus memberi jarak antar donor minimal 12 minggu atau 3 bulan sejak donor darah terakhir Anda. Lantas, bagaimana jika jadwal donor darah Anda selanjutnya jatuh di bulan Ramadan? Apakah masih boleh donor darah saat puasa?

Apakah boleh donor darah saat puasa?

Jawabannya, boleh-boleh saja. Dilansir dari CNN Indonesia, Dr. Ari Fahrial Syam, praktisi klinis dan pengamat kesehatan mengungkapkan persetujuannya atas donor darah saat puasa. Ini karena terlepas dari waktu yang Anda pilih untuk menyumbangkan darah, donor darah tetap merupakan kegiatan yang bermanfaat bagi kesehatan diri sendiri dan orang yang menerimanya.

Donor darah rutin membantu menjaga kadar zat besi di tubuh tetap terkendali. Hal ini terbukti bisa mengurangi risiko berbagai penyakit jantung. Stok zat besi yang berlebihan dapat menyebabkan kekentalan darah, yang merupakan salah satu faktor risiko dari serangan jantung dan stroke.

Persediaan zat besi yang berlebihan juga dapat menyebabkan kerusakan oksidatif dalam tubuh, yang menjadi penyebab utama dari penuaan dini dan kanker. Ini sebabnya salah satu manfaat donor darah adalah menurunkan risiko Anda terhadap beberapa jenis kanker, seperti kanker hati, kanker paru-paru, kanker usus besar, dan kanker tenggorokan.

Donor darah saat puasa boleh, tapi awas pingsan

Perlu dipahami bahwa ada risiko kesehatan tersendiri dari donor darah saat berpuasa. Donor darah saat puasa bisa berisiko pingsan. Ini karena ketika berpuasa, tubuh mengalami berbagai macam kondisi yang bisa memengaruhi kesehatan.

Selama berpuasa, tubuh tidak dapat memperoleh energinya dari makanan dan minuman seperti di waktu-waktu lain. Untuk menyiasatinya, tubuh kemudian beralih pada simpanan energi darurat dari glukosa yang tersimpan di hati dan otot. Ini dimulai sekitar 8 jam setelah makanan terakhir dikonsumsi. Kerja otak dan organ vital dalam tubuh Anda amat sangat bergantung pada fungsi glukosa. Kadar gula darah yang telah jatuh terlalu rendah tidak mampu untuk mendukung kebutuhan energi tubuh dan otak.

Orang yang berpuasa juga sering mengalami dehidrasi karena tubuh mereka tidak mendapatkan cukup cairan dari makanan dan minuman yang seharusnya. Padahal tubuh terus-menerus mengeluarkan cairan selama seharian, lewat keringat, urin, dan saat buang air besar.

Air juga bisa hilang dari pembuluh darah, yang kemudian mengganggu sirkulasi darah. Belum lagi, puasa bisa meningkatkan tingkat stres dan mengganggu tidur. Kombinasi dari berbagai macam “komplikasi” puasa inilah yang menyebabkan Anda jadi tidak bertenaga, sulit berkonsentrasi, pusing, sakit kepala, hingga sering gemetaran.

Sementara itu, sejumlah besar zat besi di tubuh Anda juga ikut hilang setelah donor darah. Untuk mengimbangi hal ini, zat besi yang tersisa akan diputar merata ke seluruh tubuh. Kekurangan zat besi dapat menyebabkan kadar hemoglobin berkurang. Hemoglobin bertanggung jawab untuk membawa darah beroksigen ke setiap sel di seluruh tubuh Anda, termasuk otak.

Jika darah Anda tidak mengandung cukup hemoglobin, jaringan otak jadi tidak menerima oksigen yang cukup. Demikian pula, kadar natrium dan kalium yang tidak mencukupi selama puasa dapat mempengaruhi denyut jantung dan tekanan darah, yang juga dapat menurunkan aliran darah ke otak.

Kekurangan zat besi dan oksigen dalam darah, kadar gula darah rendah, dan tekanan darah rendah — semuanya bisa menyebabkan pusing dan pingsan, apalagi jika terjadi secara bersamaan. Ini menyebabkan denyut jantung dan tekanan darah Anda turun mendadak. Akibatnya, aliran darah aliran darah ke otak Anda menjadi terhambat, sehingga menyebabkan Anda bisa kehilangan kesadaran sementara.

Tips aman memberi donor darah saat puasa

Meski donor darah saat puasa berpotensi menyebabkan pingsan, bukan berarti Anda tidak boleh melakukannya. Sebaiknya pilih waktu yang tepat. Perlu dipahami bahwa untuk bisa mendonorkan darah saat puasa, pendonor seharusnya sudah “mempersenjatai” diri dengan simpanan gizi dan cairan yang mencukupi dalam empat jam sebelum memberi sumbangan. Sebagian besar pedoman donor darah merekomendasikan bahwa pendonor yang puasa harus minum minimal 500 ml air minum segera sebelum dan sesudah menyumbang darah.

Karena itu, Dr Laila Al Shaer, kepala Dubai Blood Donation Centre (DBDC), dilansir dari Gulf News, menyarankan orang-orang yang berpuasa untuk sebaiknya mendonorkan darah setelah lewat waktu berbuka. Dengan demikian, Anda memiliki waktu yang cukup untuk mengisi ulang tubuh dengan asupan nutrisi dan air, untuk menghindari kemungkinan pingsan setelah donor darah.

Dan tidak hanya itu yang harus Anda persiapkan. Beberapa malam sebelum donor darah, usahakan cukupi asupan gizi dan cairan tubuh Anda dengan makanan dan minuman kaya zat besi, seperti daging merah, ayam, ikan, produk susu, kacang dan biji-bijian, dan bayam. Hindari makanan berlemak, seperti fast food atau es krim, yang bisa mengecoh hasil tes darah.

Perbanyak minum air putih dan minuman lainnya sebelum donor darah. Di malam menjelang donor darah, usahakan Anda mendapat cukup istirahat — juga setelahnya. Perbanyak pula asupan cairan dan makanan setelah donor darah saat puasa.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy

Yang juga perlu Anda baca

Kenapa Kita Tak Boleh Terlalu Banyak Makan Makanan Asin?

Makanan tinggi garam bukan hanya membuat Anda berisiko mengalami tekanan darah tinggi. Simak berbagai bahaya makanan asin pada tubuh kita.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Hidup Sehat, Tips Sehat 19 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

Vaksin MMR: Manfaat, Jadwal, dan Efek Samping

MMR adalah singkatan dari tiga macam penyakit infeksi fatal yang paling rentan menyerang anak-anak di tahun pertama kehidupannya. Kapan harus vaksin MMR?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Imunisasi, Kesehatan Anak, Parenting 16 Oktober 2020 . Waktu baca 9 menit

Mengenal Berbagai Efek Samping Imunisasi: Bahaya Atau Tidak?

Jangan sampai berbagai efek samping imunisasi (vaksin) bikin Anda takut apalagi ragu diimunisasi. Pelajari dulu seluk-beluknya di sini, yuk.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Imunisasi, Kesehatan Anak, Parenting 16 Oktober 2020 . Waktu baca 12 menit

11 Prinsip Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut Sehari-hari

Banyak kebiasaan sehari-hari yang tanpa Anda sadari dapat berdampak negatif pada kesehatan mulut dan gigi. Begini cara mengakalinya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Gigi dan Mulut, Hidup Sehat 16 Oktober 2020 . Waktu baca 6 menit

Direkomendasikan untuk Anda

gejala leptospirosis

Cara Mengatasi Gejala Leptospirosis, Penyakit Khas di Musim Hujan

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Dipublikasikan tanggal: 22 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
bikin kopi yang sehat

6 Cara Praktis Membuat Kopi Anda Lebih Sehat dan Nikmat

Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 21 Oktober 2020 . Waktu baca 3 menit
daging ayam belum matang

4 Penyakit Akibat Makan Daging Ayam Belum Matang (Plus Ciri-cirinya)

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 20 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
perlukah lansia minum susu

Apakah Lansia Masih Perlu Minum Susu? Berapa Banyak yang Dibutuhkan?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 20 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit