“Minum Antibiotik Harus Sampai Habis”, Anjuran Minum Obat yang Sudah Basi

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 17 September 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Anjuran minum obat antibiotik yang paling umum adalah “diminum sampai habis”. Namun kini beberapa penelitian terbaru menyatakan hal yang sebaliknya. Minum obat antibiotik sampai habis justru bisa menyebabkan tubuh jadi kebal terhadap antibiotik. Maka bila suatu saat nanti Anda memiliki infeksi atau luka lain, tubuh jadi makin sulit sembuh walaupun sudah minum antibiotik. Kok bisa?

Terlalu lama minum antibiotik meningkatkan risiko resistensi antibiotik

Sebuah penelitian baru yang dipublikasi oleh British Medical Journal (BMJ) mengumpulkan pendapat dari 10 pakar kesehatan yang mengatakan bahwa minum antibiotik tetap harus sampai habis, tapi penggunaannya harus sambil dievaluasi dokter — termasuk apakah kondisi Anda sudah membaik atau belum. Jika menurut dokter lama waktu minumnya sudah dirasa cukup sementara kondisi Anda juga sudah cukup OK, Anda dibolehkan untuk berhenti minum antibiotik meski “deadline” habis dosisnya masih lama.

Aturan minum antibiotik sampai habis selama durasi tertentu haruslah dibawah pengawasan ketat dari dokter yang bersangkutan. Pasalnya, kelamaan minum antibiotik dapat menghadirkan risiko resistensi antibiotik.

Antibiotik pada umumnya berfungsi untuk mengobati penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri dengan cara membunuh atau menghambat proses pertumbuhan organisme penyebab penyakit (seperti parasit, jamur, dan bakteri). Saat pasien mengonsumsi antibiotik, jenis bakteria yang berbahaya dapat tumbuh di kulit dan usus. Bila penggunaan obat semakin panjang, dikhawatirkan dapat terjadi resistensi antibiotik.

Ketakutan Lleweylyn didorong berdasarkan penjelasan Alexander Fleming, bapak penemu antibiotik penisilin, yang mana dikatakan kalau penggunaan antibiotik bisa memicu penyakit yang lebih berbahaya. Dalam pidato Fleming pada penerimaan hadiah Nobel tahun 1945 pun, ia mengatakan untuk menggunakan penisilin secukupnya saja, tidak berlebihan.

Apa akibatnya kalau minum obat antibiotik terlalu lama?

Seperti yang telah dijelaskan di atas tadi, kalau terlalu lama minum antibiotik atau durasi minum obatnya dibuat terlalu panjang, dikhawatirkan efek sampingnya akan memicu resistensi obat. Resistensi antibiotik alias kekebalan terhadap antibiotik, adalah kemampuan bakteri untuk melawan efek dari obat dan justru semakin menguat. Akibatnya bakteri tidak mati setelah pemberian antibiotik.

Selain itu, dalam artikel BMJ para ahli berpendapat bahwa ketika seorang pasien mengonsumsi antibiotik, kemungkinan akan muncul bakteri berbahaya yang tumbuh di kulit dan usus. Di mana bakteri ini dapat menyebabkan masalah kesehatan lain nantinya. Parahnya lagi di Inggris, diperkirakan ada 12.000 orang meninggal akibat resistensi antibiotik. Lebih mematikan daripada kasus kematian akibat kanker payudara.

Minum antibiotik harus sesuai durasi yang dianjurkan

Namun demikian, bukan berarti Anda bisa seenaknya menghentikan penggunaan antibiotik tanpa sepengetahuan dokter. Salah-salah malah resistensi antibiotik malah terjadi karena durasi minum antibiotik yang terlalu pendek.

Professor Helen Stokes-Lampard, ketua perhimpunan dokter umum di UK (Royal College of GPs) mengatakan bahwa penentuan durasi minum antibiotik bukanlah tanpa dasar. Perbedaan durasi minum antibiotik memang berbeda-beda berdasarkan jenis dan tingkat keparahan penyakit. Contohnya, untuk infeksi saluran kemih sering kali meminum antibiotik selama 3 hari cukup untuk membunuh bakteri. Namun untuk infeksi tuberkulosis yang disebabkan bakteri tahan asam, enam bulan merupakan durasi pemakaian antibiotik yang minimal dan selanjutnya perlu evaluasi sebelum memutuskan pemberhentian antibiotik.

Baiknya,  jika Anda diberi antibiotik coba tanyakan kepada dokter, seberapa lama durasi minum antibiotik yang diperlukan. Jangan lupa juga tanyakan, apabila kondisi Anda mulai membaik, apakah obat antibiotik harus tetap diminum atau dihentikan. Karena pada dasarnya, konsumsi antibiotik tiap orang berbeda-beda, tergantung pada riwayat dan kondisi kesehatan masing-masing.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Penyebab Kelopak Mata Bengkak dan Cara Tepat Mengatasinya

Mungkin Anda kaget saat tahu kalau kelopak mata bengkak tiba-tiba. Ada banyak hal yang bisa bikin kelopak mata Anda bengkak. Apa saja?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Kesehatan Mata 22 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit

Bisakah Penis yang Bengkok Diluruskan Kembali?

Pria dengan penis bengkok mungkin bertanya-tanya, adakah cara untuk meluruskan kembali organ intim ini? Yuk, simak perawatan khusus penis bengkok di sini.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Andisa Shabrina
Kesehatan Pria, Kesehatan Penis 22 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Kuku Pendek vs Kuku Panjang: Mana yang Lebih Baik untuk Kesehatan?

Memanjangkan kuku seringkali menjadi pilihan bagi kaum hawa untuk mempercantik diri. Namun, kuku yang panjang ternyata memiliki segelintir risiko.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Kesehatan Kulit, Perawatan Kuku 22 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit

Deodoran Tidak Mempan Kurangi Bau Badan? Atasi Dengan Bahan Alami Berikut Ini

Masalah bau badan tak sedap bikin kurang pede? Tenang, dua bahan alami ini bisa membantu mengurangi bau badan ketika deodoran saja tidak mempan.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. Marsha Desica Arsanta
Kebersihan Diri, Hidup Sehat 21 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit

Direkomendasikan untuk Anda

makanan yang baik untuk usus

Ragam Makanan dengan Kandungan Bakteri yang Baik untuk Usus

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 25 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit
perbedaan mentega dan margarin

Perbedaan Mentega dan Margarin: Mana yang Lebih Sehat?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 25 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
penyakit kuku dan masalah pada kuku

Penyakit pada Kuku yang Perlu Diwaspadai

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Tiara Putri
Dipublikasikan tanggal: 23 Januari 2021 . Waktu baca 9 menit
polip hidung

Penyebab dan Cara Ampuh Mengatasi Hidung Tersumbat Alias Mampet

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 22 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit