Apa Akibatnya Jika Gigi Sensitif Dibiarkan Saja?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 22 Juni 2020 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Jika Anda pernah mengalami gigi yang ngilu dan mendadak nyut-nyutan saat sedang menyantap makanan dingin atau makanan manis, Anda mungkin memiliki gigi sensitif. Kondisi ini tak bisa dianggap sepele, apalagi dibiarkan tanpa penanganan apa-apa, karena rasa ngilu akibat gigi sensitif tidak dapat sembuh sendiri dan akan bertambah parah jika diabaikan.

Jika Anda memiliki gigi sensitif, Anda harus melakukan perawatan khusus agar rasa ngilu tidak datang kembali sewaktu-waktu saat makan. Anda tentu tak mau bukan, kebersamaan dengan orang terdekat jadi terganggu akibat gigi senat-senut?

Siapa saja yang rentan memiliki gigi sensitif?

Menurut riset yang dilakukan Ipsos Indonesia di 2011, sebanyak 45% orang Indonesia merasakan ngilu dan nyeri yang menusuk saat mengonsumsi makanan dan minuman dingin, panas, manis, atau asam. Namun, lebih dari setengahnya tidak menyadari bahwa mereka memiliki gigi sensitif, sehingga tidak melakukan perawatan dengan pasta gigi khusus gigi sensitif, dan tak memeriksakannya ke dokter sampai kondisinya sudah berkelanjutan.

Gigi sensitif bisa terjadi pada siapapun, dan kapanpun. Gigi Anda bisa saja dulunya tak bermasalah, tapi baru mulai sensitif setelah memasuki usia tertentu. Umumnya, gigi sensitif terjadi di usia antara 20 hingga 50 tahun, meskipun ada juga beberapa remaja maupun kaum lansia di atas 70 tahun yang memiliki gigi sensitif. Selain itu, wanita lebih rentan memiliki gigi sensitif dibandingkan pria.

Apakah Anda salah satunya?

Penyebab gigi sensitif

Gigi menjadi sensitif ketika lapisan dentin terekspos, sehingga serabut saraf pun ikut terekspos. Beberapa hal yang dapat membuat ini terjadi adalah adanya peradangan gusi, menyikat gigi terlalu keras, gigi yang retak akibat plak, makanan yang asam, kebiasaan menggeretakkan gigi, dan menggunakan produk pemutih gigi yang terlalu keras.

Kenapa gigi sensitif tak boleh dibiarkan saja?

Gigi sensitif menyebabkan rasa ngilu dan nyeri setiap Anda makan atau minum dingin, panas, asam, atau manis. Jika tidak ditangani, ini akan menghalangi Anda untuk menikmati berbagai makanan dan minuman favorit.

Namun, jika gigi sensitif dibiarkan berlarut-larut tanpa ada perawatan, kondisi ini bisa menjadi makin parah, menyebabkan nyeri berkepanjangan, dan sensitivitas yang makin tinggi.

Pada tahap lanjut, gigi sensitif bahkan bisa terasa nyeri dan ngilu saat terkena angin.

Selain itu, gigi sensitif juga bisa berdampak pada komplikasi lain di mulut Anda. Terkadang gigi sensitif adalah salah satu gejala gigi berlubang atau karies gigi. Lubang yang tak segera ditangani bisa berlanjut menjadi infeksi pada gusi dan rahang, disertai rasa sakit, pembengkakan, dan risiko menyebarnya infeksi ke area lain di kepala dan bahkan leher. Untuk mencegah ini terjadi, periksakan ke dokter gigi untuk mencari tahu apa penyebab gigi sensitif Anda.

Bagaimana cara mengatasi gigi sensitif?

1. Periksakan ke dokter gigi

Untuk penanganan gigi sensitif, ada baiknya Anda memeriksakan dan konsultasikan ke dokter gigi.

Menurut anjuran kesehatan yang umum, tiap orang wajib memeriksakan giginya setiap 6 bulan sekali. Dari pemeriksaan tersebut, dokter bisa menangani dan mengetahui masalah kerusakan gigi. Dokter gigi Anda mungkin akan memberikan satu dari berbagai macam perawatan tergantung dari kondisi Anda.

Ada 3 jenis tindakan yang biasa dilakukan dokter gigi untuk mengatasi gigi sensitif:

  • Dental bonding. Permukaan akar gigi yang terekspos, dapat diobati dengan mengaplikasikan lapisan (resin) yang berikatan dengan permukaan gigi yang sensitif.
  • Bedah gusi. Saat akar gigi kehilangan lapisan gusi, sejumlah kecil jaringan gusi dapat diambil dari bagian lain untuk dilekatkan pada bagian gusi yang hilang ini. Hal ini bertujuan untuk melindungi akar gigi dan mengurangi sensitivitas.
  • Saluran akar. Jika ngilu yang Anda dirasakan pada gigi sudah parah, dokter gigi mungkin akan menyarankan perawatan saluran akar, yaitu prosedur yang digunakan untuk mengobati masalah pada pulpa gigi. Teknik ini didapuk paling ampuh dalam menyembuhkan gigi sensitif.

2. Jangan menyikat gigi terlalu keras

Banyak orang yang menyikat gigi sekencang dan sekeras mungkin dengan anggapan hal itu bisa menghilangkan semua plak dan kotoran di gigi.

Sebetulnya, menyikat gigi terlalu keras dapat merusak struktur lapisan gigi dan memicu gusi jadi kendur. Ketika gusi kendur, akar dan saraf-saraf pada gigi jadi tidak bisa tertutup gusi dengan sempurna. Akibatny,a akar dan saraf-saraf gigi tereskpos, dan hal inilah yang menyebabkan gigi ngilu dan menjadi sensitif saat di udara dingin ataupun saat sedang mengunyah makanan.

3. Gunakan bulu sikat gigi yang lembut

Bulu sikat gigi ternyata penting untuk menjaga sensitivitas gigi. Anda sebaiknya tidak mencari yang murah saja, namun utamakan pada yang bulu sikat yang halus. Sebab saat Anda memakai sikat gigi yang berbulu kasar, hal itu juga bisa mengendurkan gusi dan menjadi faktor penyebab gigi terasa ngilu.

4. Menggunakan pasta gigi khusus gigi sensitif

Pasta gigi biasa tidak bisa melindungi gigi sensitif Anda dari rasa ngilu. Anda perlu menggunakan pasta gigi khusus gigi sensitif yang bekerja lebih efektif dalam memberikan perlindungan lebih untuk gigi sensitif, sehingga membantu mengatasi rasa ngilu dan mencegahnya datang lagi.

5. Jangan lupa gosok gigi 2 kali dalam sehari

Untuk mencegah terbentuknya plak gigi, jagalah kesehatan gigi dengan rutin menyikat gigi sehari 2 kali. Perhatikan juga teknik menyikat gigi yang benar sehingga Anda bisa membersihkan seluruh bagian gigi dan mulut. Sikat dengan lembut dan hati-hati di sekitar garis gusi sehingga Anda tidak menghilangkan jaringan pada gusi, yang bisa membuat gigi jadi sensitif.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Waspadai Gejala yang Menandakan Anda Kena Tukak Lambung

Tukak lambung menandakan adanya luka pada lapisan lambung. Lantas, apa saja gejala atau ciri-ciri tukak lambung yang perlu diwaspadai?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Kesehatan Pencernaan, Gangguan Pencernaan Lainnya 1 Maret 2021 . Waktu baca 7 menit

Mengenal Jenis Beras, Mana yang Paling Sehat?

Kita mungkin setiap hari makan nasi putih, tapi ada berbagai jenis berasa lain yang tersedia. Kira-kira beras jenis apa yang lebih sehat?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Fakta Gizi, Nutrisi 1 Maret 2021 . Waktu baca 5 menit

4 Jenis Tambalan Gigi dan Prosedur Pemasangannya di Dokter Gigi

Tambal gigi digunakan untuk memperbaiki kerusakan pada gigi. Berikut ini, merupakan jenis-jenis tambalan pada gigi dan proses pemasangannya.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Perawatan Gigi, Gigi dan Mulut 26 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit

Obat Penambah Tinggi Badan, Apakah Benar Bisa Membuat Tinggi?

Banyak orang yang mengonsumsi obat penambah tinggi badan yang dianggap bisa membuat mereka tinggi. Tapi, benarkah klain tersebut?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Kesehatan, Informasi Kesehatan 26 Februari 2021 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

cara membasakan diri jalan kaki agar tubuh bugar

6 Trik Sederhana Agar Terbiasa Jalan Kaki Demi Tubuh yang Bugar

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 1 Maret 2021 . Waktu baca 5 menit
bahaya polusi udara

Jangan Remehkan Bahaya Debu Polusi! Yuk, Lindungi Diri Dengan Cara Ini

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 1 Maret 2021 . Waktu baca 5 menit
manfaat kulit manggis

5 Manfaat Kulit Manggis untuk Kesehatan Tubuh

Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 1 Maret 2021 . Waktu baca 3 menit
toxic people

Kenali 5 Ciri Utama “Toxic People”, Racun Dalam Persahabatan Anda

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 1 Maret 2021 . Waktu baca 3 menit