Pick me girl?
Hallo dok, halo juga pembaca yg mungkin melihat keluhan saya
Saya masih remaja umur 14 tahun, waktu pertama kali masuk SMP umur 11 tahun, saya pindah ke kampung ibu saya buat pendidikan lanjut karena saya tidak mendapatkan sekolah disana, sedangkan sekolah swasta, orang tua saya tidak sanggup.
Pertama kali disana, saya biasa² saja tapi makin lama saya merasa sedikit stress. Saya tinggal disana dengan Tante yg merupakan adik ibu saya, sedangkan ibu saya dan keluarga masih di rumah saya yg dulu. Tapi karena saya tinggal di kota besar, dan langsung pindah ke kampung, culture shock saya terlalu banyak, mulai dari diskriminasi teman² sekolah, ketidak Tahuan bahasa yg malah membuat saya dicap sombong, dan Tante saya yg menuntut banyak peraturan yg tidak cocok dengan kepribadian saya
Tapi saya menahan semuanya, dengen kepribadian saya yg ingin bebas, tapi dia mengurung saya dirumah, bahkan pergi kerumah saudara tidak dibolehkan, juga om saya yg saya rasa sedikit aneh, dan akhirnya muncul keinginan saya untuk melakukan hal tidak², saya sempat overdosis obat
Tapi saya langsung sadar dan mengambil alih kendali tubuh pikiran saya. Dengan itu, saya menahan dan menutup semua nya dengan senyum disekolah, ketika dirumah saya berharap malam cepat datang dan tak pernah usai
Akhirnya saya menyadari, setiap mendapat luka, saya tidak ingin lukanya cepat sembuh, saya ingin terlihat lebih parah lagi, lebih menyakitkan, toh itu luka yang bukan disengaja, jadi pasti bukan salah saya juga kan?
Ketika tangan saya tersayat ujung penggaris besi, saya melakukan hal yg sama secara perlahan lahan sampai luka nya membesar, lalu saya anggap saya melakukannya hanya sekedar bermain² lalu akhirnya terluka
Hal serupa terus terjadi hingga kini
Saya bertanya, bagaimana meluruskan ini? Karena semakin hari saya mulai kecanduan melakukan hal berbahaya yg bisa membuat luka secara tidak sengaja
Terimakasih bagi yg sudah membaca🙏
























Halo, terima kasih untuk pertanyaannya.
Saya dapat memahami kondisi yang anda alami, tentunya terasa berat untuk melewati hal tersebut sendirian. Permasalahan yang hadir dalam hidup terkadang membuat seseorang merasa kesulitan untuk berpikir jernih, apalagi mencari solusi terbaik untuk permasalahan tersebut sehingga yang muncul adalah pikiran-pikiran yang bercabang ke berbagai hal. Di samping itu, adanya emosi negatif yang terus-menerus dipendam membuat seseorang terkadang menyakiti diri sendiri sebagai bentuk pelampiasan stres permasalahan yang dihadapi.
Perlu disadari bahwa menyakiti diri sendiri merupakan strategi koping stres yang keliru dan tidak tepat, sehingga diperlukan strategi koping lainnya yang lebih adaptif dalam menyelesaikan permasalahan. Untuk mengatasi stres permasalahan tersebut, anda dapat melakukan identifikasi terhadap permasalahan yang anda alami, seperti menanyakan pikiran apa yang muncul, perasaan/ emosi yang menyertai, serta mencari tahu dan menguraikan permasalahan anda satu persatu sehingga tidak menumpuk dan akan lebih mempermudah anda menemukan alternatif solusi. Anda juga dapat mengalihkan menyakiti diri sendiri dengan melakukan aktivitas produktif menyenangkan lainnya yang membuat suasana hati anda meningkat. Selain itu, anda juga dapat mencari dukungan dari lingkungan dengan menceritakan permasalahan anda kepada orang terdekat yang anda percaya. Anda perlu meluangkan waktu untuk berbicara dari hati ke hati ke orang tua anda, sampaikan kondisi anda yang sebenarnya dan bersama-sama dengan orang tua menemukan upaya yang bisa ditempuh untuk langkah selanjutnya.
Apapun kondisi anda saat ini, anda tetap manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan sama seperti yang lainnya dengan keunikan masing-masing. Anda tetap berharga dengan segala kelebihan dan kelemahan yang dimiliki. Anda hanya perlu fokus pada diri anda, mengenali dan mengeksplor kelebihan anda, dan menerima kekurangan menjadi bagian dari diri anda, serta memahami kebutuhan diri anda sendiri. Dengan demikian, anda dapat menjadi versi terbaik dari diri anda, dan juga bisa berguna untuk orang di sekitar anda. Anda juga dapat menuliskan minimal 3 hal yang dapat disyukuri setiap hari (tidak harus hal yang besar, tetapi hal kecil juga termasuk), sehingga dapat membantu anda untuk lebih memaknai hidup dan memiliki sudut pandangan yang berbeda. Selain itu, dapat menuliskan jurnal harian secara berkala sebagai bentuk katarsis dan peluapan emosi.
Jangan ragu untuk memeriksakan diri anda ke psikolog/ psikiater jika keluhan berlanjut atau bertambah parah agar tertangani dengan tepat.