Merasa jadi orang yg problematik

Dok sy adalah seorang ibu 2 anak dan pekerja kantoran. Di kantor, awalnya sy dekat dengan 2 orang, yg satu adalah teman karena tahun masuk kerja kami berbarengan (si A), dan yang satunya lagi karena orangnya memang social butterfly (si B). Sy termasuk orang yang rajin di tahun-tahun awal bekerja. Si A dan si B ini sering sy tolong, bahkan sampai suami bilang seperti orang yang dimanfaatkan saja. Tapi waktu itu sy pikir karena teman saya senang saja membantu. 5 tahun sy jalani dengan senyum dan abai saja, sampai puncaknya ketika sy dan si A ditugaskan mengerjakan kegiatan yang besar dengan dana terbatas, sy meledak marah karena mereka ternyata bersekongkol bertanya ke pimpinan tentang dana di grup kantor, tapi seperti menyudutkan sy dan si A yang menjadi penanggung jawab. Waktu itu sy tidak tahu klau ternyata itu akal2an mereka biar dana turun. Sy pikir si B ini menyerang kami. Bahkan pimpinan pun menyalahkan kami yg bekerja waktu itu. Sy mundur dari kegiatan itu. Ternyata si A & si B ini sering menjelek2an saya di kantor. Semua teman dihasut. Semua kena hasutan kecuali 1 orang yang sy anggap sahabat sampai sekarang. Semakin kesini sy yakin ternyata si A itu iri dengan pencapaian2 sy selama ini. Si B pun sama saja. Dengan banyaknya kejadian setelah itu, sy sudah enggan membantu mereka lagi. Semakin bertambah hasutan mereka ke teman2 di kantor bahkan pimpinan. Sy dijauhi, dan cm bs curhat dengan 1 orang yg sy anggap sahabat sampai sekarang. Waktu itu sy curhat ke pimpinan pun sy yg disalahkan. Bahkan smpai saat ini sy msh merasa kalau mungkin memang sy yang bermasalah. Sy yg terlalu berlebihan. Tapi sy msh belum bisa seperti dulu dengan mereka. Bahkan si B yg mulut dan status wa nya selalu menyakiti saya sampai sekarang sy anggap gak ada. Melihat sj sy malas, apalagi menyapa. Karena waktu itu sy sampai lelah mental. Malam terbangun dan kepikiran sampai gak bisa tidur lagi. Sampai akhirnya sy hapus nomornya dr pertemanan di HP sy. Barulah sy lumayan sembuh. Saat ini saya mengajukan mutasi ke tempat kerja lain, tapi ada rasa takut kalau sampai ada kejadian yg seperti ini lagi atau kejadian lain yg bisa menjatuhkan mental sy lagi. Sy seperti trauma berteman dan menolong tanpa pamrih seperti dulu. Sy takut dengan kepribadian sy, karena sampai saat ini sepertinya hanya sy yg masih kepikiran kejadian2 buruk itu. Dan yg lain asik sj menjalani hidup. Tapi yg sy syukuri, sy sudah bisa ngobrol dgn teman2 se kantor lagi (kecuali si B). Tapi ketakutan sy di tempat kerja yg baru nanti seperti membuat sy minder, menyalahkan diri sendiri, merasa tidak baik, merasa jadi orang problematik, tidak sperti dlu lg. Bagaimana ini dokter?

Suka
Bagikan
Simpan
Komentar
1

1 komentar

Ibu, saya memahami betul betapa berat dan melelahkannya pengalaman yang Anda alami di tempat kerja. Perasaan dikhianati, disudutkan, dan kemudian dijauhi oleh rekan kerja, bahkan sampai merasa disalahkan oleh pimpinan, tentu sangat menyakitkan dan dapat menguras mental. Perasaan Anda yang merasa "problematik", "terlalu berlebihan", minder, menyalahkan diri sendiri, dan tidak sebaik dulu adalah respons yang sangat wajar terhadap lingkungan kerja yang toksik dan tekanan emosional yang berkepanjangan:

Situasi yang Anda gambarkan, dengan adanya rekan kerja yang suka menjelek-jelekkan, menghasut, dan menciptakan persaingan tidak sehat, sangat sesuai dengan ciri-ciri lingkungan kerja toksik. Pengalaman ini dapat menyebabkan stres berkepanjangan, kelelahan mental, kesulitan tidur, dan memicu gangguan kecemasan atau bahkan gejala depresi, seperti yang Anda rasakan. Trauma untuk berteman dan menolong tanpa pamrih juga merupakan dampak nyata dari pengalaman buruk tersebut. Penting untuk diingat bahwa Anda bukanlah orang yang bermasalah. Anda adalah korban dari perilaku toksik orang lain. Kemampuan Anda untuk mengenali situasi, membatasi interaksi dengan rekan kerja yang merugikan, dan mencari lingkungan kerja yang baru menunjukkan kekuatan dan keinginan Anda untuk pulih. Untuk mengatasi perasaan takut dan minder menjelang tempat kerja baru, serta memulihkan mental Anda, saya menyarankan beberapa hal:

  1. Validasi Perasaan Anda: Akui bahwa perasaan sakit hati, marah, dan takut itu nyata dan valid. Jangan menyalahkan diri sendiri atas respons emosional ini.
  2. Fokus pada Diri Sendiri: Prioritaskan kesehatan mental Anda. Lakukan aktivitas positif yang Anda nikmati, seperti olahraga atau hobi, untuk mengurangi stres.
  3. Manfaatkan Dukungan: Pertahankan hubungan baik dengan sahabat dan suami Anda yang menjadi support system. Berbagi cerita dan perasaan dapat sangat membantu.
  4. Tetapkan Batasan: Di tempat kerja baru nanti, penting untuk menetapkan batasan yang jelas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, serta dalam berinteraksi dengan rekan kerja. Belajar dari pengalaman sebelumnya untuk lebih berhati-hati dalam memilih siapa yang Anda percayai.
  5. Cari Bantuan Profesional: Mengingat Anda mengalami kelelahan mental, kesulitan tidur, dan perasaan trauma yang mendalam, sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater. Profesional kesehatan mental dapat membantu Anda memproses pengalaman traumatis ini, mengelola kecemasan, membangun kembali kepercayaan diri, dan memberikan strategi koping yang efektif agar Anda tidak lagi merasa "problematik" dan dapat kembali menjadi diri Anda yang lebih kuat. Ingatlah, setiap pengalaman adalah pelajaran. Anda telah belajar banyak dari situasi ini dan memiliki kesempatan untuk memulai lembaran baru dengan lebih bijaksana dan kuat.
2 jam yang lalu
Suka
masukan
warningDisclaimer: Informasi yang disampaikan di atas adalah informasi umum, bukan pengganti saran medis resmi dari dokter atau pakar.
Related content
Temukan komunitas Anda
Jelajahi berbagai jenis komunitas yang ada dan paling sesuai dengan kondisi kesehatan yang Anda hadapi.
Iklan
Iklan