home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

8 Penyebab Umum Telinga Terasa Panas dan Penanganan yang Tepat

8 Penyebab Umum Telinga Terasa Panas dan Penanganan yang Tepat

Pernahkah Anda mengalami telinga panas? Kondisi ini bisa terjadi secara tiba-tiba, bahkan mungkin membuat Anda bingung. Ada berbagai hal yang dapat menjadi penyebab telinga panas, mulai dari reaksi umum tubuh hingga tanda sebuah penyakit. Lantas, apakah telinga panas adalah kondisi yang perlu diwaspadai? Simak penjelasannya berikut ini.

Apa saja penyebab telinga panas?

Telinga panas, baik di sebelah kanan atau kiri, adalah sebuah gejala yang Anda rasakan ketika mengalami kondisi tertentu.

Gejala tersebut sering kali muncul bersamaan dengan gejala-gejala lainnya, seperti kemerahan, bengkak, hingga sakit.

Penyebab kondisi ini pun beragam, mulai dari hal sepele hingga kondisi langka. Nah, berikut beberapa kemungkinan penyebab telinga panas:

1. Emosi dan reaksi tubuh

rasa malu

Emosi berupa malu, marah, atau panik adalah penyebab paling umum mengapa telinga tiba-tiba terasa terbakar dan kemerahan.

Hal ini terjadi akibat adanya peningkatan aliran darah ke daerah telinga.

Telinga juga bisa memerah sebagai reaksi dari perubahan suhu (baik dingin ke panas atau sebaliknya), minum alkohol, selesai olahraga, dan perubahan hormon efek menopause maupun setelah kemoterapi.

Selain terasa seperti terbakar, telinga Anda tampak kemerahan.

2. Terbakar matahari

menatap matahari

Terpapar sinar matahari dalam jangka waktu cukup lama dapat menyebabkan kulit telinga dan sekitarnya berwarna kemerahan dan terasa seperti terbakar.

Gejala kulit terbakar lainnya termasuk nyeri dan sakit ketika disentuh. Untuk kasus yang lebih parah, kulit bahkan bisa melepuh dan mengelupas akibat terbakar matahari.

Biasanya, telinga menjadi panas dan memerah beberapa jam setelah terpapar matahari. Dalam beberapa hari, telinga dan kulit Anda mungkin akan pulih dengan sendirinya.

Namun, sunburn atau kulit terbakar sinar matahari parah mungkin membutuhkan waktu yang lebih lama untuk pulih seutuhnya.

3. Infeksi kulit

telinga sakit saat flu

Adanya infeksi pada kulit juga bisa menjadi salah satu penyebab telinga merah, panas, dan terasa sakit.

Salah satu kondisi yang bisa menyebabkan gejala tersebut adalah selulitis yang diakibatkan oleh infeksi bakteri.

Bakteri bisa masuk ke tubuh melalui luka, gigitan serangga, dan kulit kering sehingga kemudian mengakibatkan penyakit. S

elain menyebabkan telinga seperti terbakar, kondisi ini dapat membuat telinga bengkak. Tak hanya itu, selulitis juga bisa menyebabkan kelelahan, demam, hingga menggigil.

4. Perikondritis

infeksi telinga tengah

Perikondritis adalah infeksi yang terdapat pada kulit dan jaringan di sekitar tulang rawan telinga luar. Kondisi ini biasanya disebabkan oleh cedera di telinga, seperti:

  • operasi telinga,
  • tindik telinga,
  • cedera olahraga, dan
  • trauma di sisi kepala.

Gejala yang ditimbulkan akibat perikondiritis termasuk telinga panas, sakit, kemerahan, bengkak.

Kemerahan biasanya mengelilingi area cedera, seperti luka atau goresan. Selain itu, Anda mungkin akan merasakan demam akibat infeksi ini.

5. Eksim seboroik

membersihkan kotoran telinga

Eksim seboroik atau dermatitis seboroik dapat menyebabkan kulit telinga berwarna kemerahan.

Kondisi ini ditandai dengan bercak merah gatal dan bersisik pada kulit kepala dan punggung, serta wajah.

Tak jarang, kondisi ini juga menyebabkan telinga terasa terbakar.

Dikutip dari Mayo Clinic, tanda-tanda dan gejala eksim seboroik dapat lebih parah jika Anda stres.

Gatal hingga panas di permukaan kulit juga mungkin kambuh pada cuaca yang dingin dan kering.

Penyebab eksim seboroik masih belum diketahui, tetapi diduga terkait dengan genetik dan interaksi sistem kekebalan tubuh dengan organisme yang hidup di kulit.

6. Sindrom telinga merah

tuli mendadak

Sindrom telinga merah atau red ear syndrome adalah kondisi yang cukup langka. Journal of Headache and Pain menyebutkan bahwa penyakit ini belum didefinisikan dengan jelas.

Sindrom telinga merah ditandai dengan telinga nyeri, kemerahan, dan panas.

Gejala-gejala tersebut dapat muncul beberapa kali dalam sehari. Terkadang, tanda dan gejala sindrom telinga merah muncul beberapa hari sekali.

7. Eritermalgia

tiba-tiba telinga tuli sebelah

Kondisi langka lain yang dapat menyebabkan telinga terasa seperti terbakar adalah eritermalgia.

Kondisi ini ditandai dengan eritema, nyeri, dan terasa panas pada leher, wajah, telinga, bahkan skrotum.

Gejala-gejala tersebut dapat berlangsung selama berjam-jam, bahkan berhari-hari. Kondisi ini dapat diperburuk oleh cuaca panas dan dapat diatasi dengan kompres dingin.

8. Infeksi telinga

bahaya sering mengorek telinga

Telinga terasa panas merupakan salah satu gejala yang ditimbulkan dari infeksi telinga.

Selain telinga yang terasa terbakar, infeksi telinga juga dapat mengakibatkan banyak gejala lain, seperti:

Infeksi telinga merupakan kondisi yang dapat terjadi pada anak-anak dan orang dewasa. Jika Anda mengalami gejala infeksi telinga, segera hubungi dokter.

Bagaimana cara mengatasi telinga panas?

mengatasi telinga berdenging

Cara mengatasi telinga merah berbeda-beda tergantung dari penyebabnya. Berikut beberapa penanganan telinga panas untuk berbagai kondisi:

  • Jika diakibatkan oleh paparan sinar matahari berlebih, kulit yang iritasi dapat Anda oleskan gel lidah buaya atau minum obat pereda nyeri seperti ibuprofen.
  • Kompres telinga yang memerah dan panas dengan kompres dingin.
  • Jika disebabkan oleh infeksi, pengobatan utamanya adalah dengan antibiotik.

Meski terdengar sepele, kondisi ini tidak boleh diabaikan begitu saja saja.

Segera cari pertolongan medis jika telinga terasa sakit, nyeri jika ditekan, terasa berdengung, apalagi jika tiba-tiba mengeluarkan darah.

Penting juga mencari perawatan medis untuk mengatasi infeksi bakteri seperti selulitis, terutama jika gejala telinga panas akibat kondisi tersebut disertai dengan demam.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Sunburn – Symptoms and causes. (2021). Retrieved 6 January 2021, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/sunburn/symptoms-causes/syc-20355922

Cellulitis – Symptoms and causes. (2021). Retrieved 6 January 2021, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/cellulitis/symptoms-causes/syc-20370762

Blushing . (2018). Retrieved 6 January 2021, from https://www.nhs.uk/conditions/blushing/

Lambru, G., Miller, S., & Matharu, M. (2013). The red ear syndrome. The Journal Of Headache And Pain, 14(1). doi: 10.1186/1129-2377-14-83

Encyclopedia, M. (2020). Perichondritis: MedlinePlus Medical Encyclopedia. Retrieved 6 January 2021, from https://medlineplus.gov/ency/article/001253.htm

Relapsing polychondritis | Genetic and Rare Diseases Information Center (GARD) – an NCATS Program . (2021). Retrieved 6 January 2021, from https://rarediseases.info.nih.gov/diseases/7417/relapsing-polychondritis

Chen, M., Xu, Q., Luo, D., Li, X., & He, D. (2014). Erythema associated with pain and warmth on face and ears: a variant of erythermalgia or red ear syndrome?. The Journal Of Headache And Pain, 15(1). doi: 10.1186/1129-2377-15-18

Seborrheic dermatitis – Symptoms and causes. (2021). Retrieved 6 January 2021, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/seborrheic-dermatitis/symptoms-causes/syc-20352710

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Fajarina Nurin Diperbarui 24/03/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.
x