home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Kenapa Beberapa Orang Cenderung Susah Mencium Bau?

Kenapa Beberapa Orang Cenderung Susah Mencium Bau?

Sebagian orang atau mungkin juga Anda cenderung memiliki indera penciuman yang lebih tajam, sehingga lebih sensitif terhadap bau. Namun, ada beberapa orang lainnya yang justru mengalami hal sebaliknya, yaitu susah mencium bau apa pun yang ada di sekitarnya. Dalam istilah medis, hal ini disebut dengan hiposmia. Lantas, apa penyebab hiposmia? Simak informasinya berikut ini, ya.

Mengenal hiposmia, ketika hidung susah mencium bau apa pun

Benda-benda yang ada di sekitar Anda akan melepaskan molekul-molekul bau tertentu yang kemudian ditangkap oleh sel-sel saraf dalam hidung.

Sel saraf tersebut kemudian mengirimkan sinyal khusus ke otak. Otaklah yang akan mengenali bau-bauan yang Anda cium.

Itu kenapa orang yang indera penciumannya normal semestinya dapat menghirup berbagai aroma yang ada di sekitarnya.

Aroma yang bisa dihirup misalnya makanan, bau busuk dari sampah, bau menyengat dari bahan-bahan kimia, dan lainnya.

Hiposmia adalah hilangnya sebagian kemampuan pada indera penciuman untuk merasakan bau. Turunnya kemampuan untuk mencium bau bukan berarti berarti Anda mengalami masalah pada hidung saja, lho.

Akan tetapi, ini juga bisa menjadi dampak dari gangguan otak dan sistem saraf tubuh, terutama saraf penciuman. Akibatnya, indera penciuman Anda jadi kurang sensitif dengan bau yang ada.

Penyebab beberapa orang mengalami kesulitan mencium bau

tidak bisa mencium bau

Jika sebelumnya Anda dapat mencium aroma wangi atau bau busuk dengan mudah, perubahan ini tentu membuat Anda jadi tak nyaman.

Anda jadi kesulitan untuk mencium bau makanan yang menggugah selera, sehingga nafsu makan pun jadi ikut menurun.

Hiposmia umumnya disebabkan karena penurunan fungsi saraf pada hidung, tapi ini juga bisa karena masalah medis lainnya yang perlu diwaspadai.

Berbagai penyebab seseorang susah mencium bau adalah:

1. Usia

Usia adalah penyebab hiposmia yang paling umum.

Menurut American Academy of Otolaryngology – Head and Neck Surgery, kemampuan indera penciuman jadi sangat sensitif saat Anda berusia 30 dan 60 tahun.

Lebih dari usia tersebut, kemampuan indera penciuman akan berangsur-angsur menurun dan membuat Anda sulit mencium berbagai bau yang ada.

Bahkan, sekitar 39% orang yang berusia 80 tahun ke atas cenderung mengalami hiposmia.

2. Alergi dan infeksi

Orang yang mengalami alergi atau penyakit infeksi seperti flu dan pilek cenderung kurang sensitif dengan bau.

Namun tenang dulu, ini biasanya akan segera kembali normal setelah Anda minum obat flu dan sembuh. Sinus kronis juga dapat memberikan efek yang sama.

Pasalnya, saat rongga di sekitar saluran hidung (sinus) meradang dan membengkak selama lebih dari 12 minggu, peradangan yang terjadi dapat merusak sel-sel tertentu yang memungkinkan seseorang untuk mencium bau.

Itulah mengapa orang dengan sinus kronis cenderung sulit mencium aroma tertentu.

3. Polip hidung

Daging yang tumbuh dalam hidung alias polip hidung bisa jadi penyebab hiposmia yang Anda alami. Sebagian besar orang yang memilikinya tidak merasakan gejala dan tanda apa pun.

Namun, salah satunya bisa Anda deteksi dengan turunnya kemampuan untuk mencium bau di sekitar.

4. Konsumsi obat-obatan tertentu

Jika Anda merasa tak lagi sensitif untuk mencium bau, coba perhatikan jenis obat yang sedang Anda minum.

Ya, beberapa jenis obat tertentu dapat membuat indera penciuman Anda jadi kurang sensitif, seperti:

5. Cedera kepala

Cedera kepala tak hanya memberikan efek samping pusing dan sakit kepala saja, tetapi juga bisa membuat Anda mengalami hiposmia.

Hal ini dapat memengaruhi sistem saraf hidung dan mengganggu indera penciuman, meskipun cenderung tidak permanen maupun berbahaya.

6. Penyakit tertentu

Kondisi saraf yang bermasalah dapat menyebabkan hidung kehilangan kemampuan untuk mencium aroma.

Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa penyakit yang meliputi:

Penyakit multiple sclerosis, misalnya, sering kali dikaitkan dengan hiposmia.

Sebuah penelitian menemukan bahwa terdapat 40% penderita multiple sclerosis mengalami hilangnya sebagian indera penciuman mereka.

Semakin besar tingkat kecacatan akibat multiple sclerosis, maka semakin sulit pula seseorang untuk mencium aroma di sekitarnya.

Sedangkan pada penderita diabetes, beberapa penelitian menemukan bahwa orang dengan diabetes tipe 1 cenderung kesulitan untuk membedakan aroma yang terhirup.

Hal ini disebabkan oleh kerusakan saraf neuropati perifer, sehingga indera penciumannya jadi bermasalah.

Bagaimana cara mengatasi hiposmia?

Penanganan hiposmia berbeda-beda, tergantung dari penyebabnya itu sendiri.

Jika hiposmia disebabkan oleh reaksi alergi atau flu, sebetulnya Anda tidak membutuhkan perawatan khusus karena akan kembali normal dengan minum obat flu atau antihistamin lainnya.

Namun, bila hiposmia disebabkan oleh beberapa penyakit kronis yang telah disebutkan, penanganannya disesuaikan lagi dengan jenis penyakitnya.

Indera penciuman Anda biasanya akan kembali membaik setelah dimulainya pengobatan.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Hyposmia and Anosmia. Retrieved 4 March 2021, from https://www.enthealth.org/conditions/hyposmia-and-anosmia/ 

Hyposmia. Retrieved 4 March 2021, from https://www.sensorysociety.org/knowledge/sspwiki/Pages/Hyposmia.aspx

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh Adelia Marista Safitri
Tanggal diperbarui 04/03/2021
x