home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Kenapa Wanita Lebih Emosional dari Pria Setelah Bercinta?

Kenapa Wanita Lebih Emosional dari Pria Setelah Bercinta?

Anggapan bahwa wanita lebih emosional dibandingkan dengan pria, khususnya setelah bercinta, sudah beredar sejak lama. Namun, apakah hal itu sudah terbukti benar? Simak penjelasannya berikut ini.

Apakah benar wanita lebih emosional dari pria?

Anggapan bahwa wanita lebih emosional dibandingkan dengan pria ternyata bukan isapan jempol belaka. Pasalnya, hal itu telah dibuktikan melalui sejumlah penelitian.

Studi yang dipublikasikan di Sage Journals menyebutkan bahwa wanita lebih banyak tersenyum dan menangis, serta menunjukkan berbagai ekspresi wajah lainnya, daripada pria.

Hal itu dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk norma-norma yang berlaku di masyarakat. Contohnya, wanita “diperbolehkan” menangis, sedangkan pria tidak boleh.

Wanita juga disebut akan menangis jika mereka merasa sedih, marah, bersalah, atau tidak berdaya. Sementara itu, alasan utama pria menangis adalah karena mereka merasa sedih.

Mungkin hal itu juga yang membuat wanita sering kali disebut sebagai makhluk yang emosional, sedangkan tidak begitu bagi pria.

Mengapa wanita lebih emosional setelah bercinta?

cara sehat berhubungan intim

Perempuan cenderung memberi nilai lebih untuk seks ketimbang pria. Jadi, tidak heran jika wanita lebih mudah emosional setelah bercinta.

Mengapa demikian? Ternyata ada alasan biologis mengapa wanita lebih emosional dari pria.

Saat berhubungan seks, hormon oksitosin akan dilepaskan, baik sepanjang aktivitas seks hingga saat orgasme, pada pria dan wanita.

Hormon ini berfungsi untuk meningkatkan rasa percaya pada pasangan, membuat Anda merasa lebih terhubung satu sama lain, dan bisa mengurangi stres.

Namun, nyatanya keberadaan hormon lain di tubuh pria dan wanita akan membuat itu semua jadi berbeda.

Wanita punya hormon estrogen dalam jumlah yang tinggi, sedangkan pria memiliki testosteron lebih banyak daripada wanita.

Jika bertemu dengan oksitosin, hormon estrogen akan meningkatkan perasaan emosional, menjadi lebih terikat dan lebih menenangkan.

Perubahan badan setelah berhubungan seksual

Ketika testosteron berjumpa dengan oksitosin, perasaan emosional tersebut malah meredup dan tidak meningkat.

Itulah mengapa wanita akan merasa lebih terkoneksi secara emosional daripada pria, setelah bercinta.

Perbedaan pria dan wanita ini juga sangat jelas saat mereka menerima rangsangan seksual.

Pria dengan gampang bisa ereksi lalu orgasme dengan sendirinya ketika melihat tubuh wanita tanpa busana atau berpakaian minim.

Berbeda dengan pria, wanita adalah makhluk yang sangat sulit dimengerti. Hasrat seksnya tidak begitu saja ada dan muncul, dan belum tentu harus ia tuntaskan.

Ketika merasa ingin berhubungan seksual, pria akan mencari tempat dan pasangan untuk melakukannya, tetapi wanita akan mencari alasan yang tepat untuk melakukannya.

Pria juga bisa emosional setelah berhubungan seks

Setelah membaca penjelasan di atas, Anda mungkin berpikir bahwa wanita lebih emosional setelah bercinta dari pria. Bahkan, mungkin pria tidak melibatkan sisi emosional saat berhubungan seks. Nyatanya, justru kebalikan dari hal itu.

Journal of Sex & Marital Therapy menyebutkan bahwa 41% dari 1.208 pria mengaku pernah mengalami postcoital dysphoria (PCD), yaitu efek negatif yang ditandai dengan air mata dan perasaan melankolis setelah berhubungan seksual.

Studi tersebut menjelaskan bahwa PCD pada pria-pria terkait dengan tekanan psikologis, pelecehan seksual masa kanak-kanak, serta disfungsi seksual.

Bagaimana cara mencegah perasaan emosional setelah berhubungan seks?

Memikirkan orientasi seksual

Untuk wanita, yang perlu Anda ingat adalah, pria dan wanita itu berbeda. Wanita tidak boleh berharap bahwa gejolak emosional yang terjadi pada dirinya dan pasangan akan sama.

Tanamkan pada pikiran sendiri, bahwa tidak melibatkan perasaan adalah salah satu cara kaum wanita untuk mengatur emosi mereka.

Ingat, sering kali wanita tampak lebih emosional saat bercinta hanya karena hormon, jadi tidak perlu terlalu dipusingkan.

Setelah itu, semua kembali lagi tergantung pada perasaan emosional masing-masing. Wanita akan mencari seorang pria yang secara emosional bersedia saling terbuka, dan jujur.

Hal ini dapat memberi jaminan emosional bahwa pria tersebut akan tetap terikat sehabis berhubungan seks.

Inilah yang perlu dilakukan oleh pria, penting untuk menyampaikan kejujuran saat hendak bertemu wanita.

Dibutuhkan juga komunikasi yang jelas dari semua sisi, agar tidak terjadi ketimpangan emosi setelah tubuh saling terhubung satu sama lain.

Perlu diingat bahwa perasaan negatif setelah berhubungan seksual tidak selalu berarti bahwa seks yang baru Anda lakukan tidak memuaskan.

Meskipun begitu, jika Anda terus menerus merasa sedih dan cemas setelah berhubungan seksual, jangan ragu untuk meminta bantuan ahli.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

What Drives the Smile and the Tear: Why Women Are More Emotionally Expressive Than Men – Agneta Fischer, Marianne LaFrance, 2015. (2021). Emotion Review. Retrieved from https://journals.sagepub.com/doi/abs/10.1177/1754073914544406?journalCode=emra&

Schweitzer, R., O’Brien, J., & Burri, A. (2015). Postcoital Dysphoria: Prevalence and Psychological Correlates. Sexual Medicine, 3(4), 235-243. doi: 10.1002/sm2.74

Maczkowiack, J., & Schweitzer, R. (2019). Postcoital Dysphoria: Prevalence and Correlates Among Males. Journal Of Sex & Marital Therapy, 45(2), 128-140. doi: 10.1080/0092623x.2018.1488326

Post-Sex Blues: Both Men and Women Say They Have It. (2021). Retrieved 18 June 2021, from https://www.psychologytoday.com/intl/blog/myths-desire/201809/post-sex-blues-both-men-and-women-say-they-have-it

Jarczok, M., Aguilar-Raab, C., Koenig, J., Kaess, M., Borniger, J., & Nelson, R. et al. (2018). The Heart´s rhythm ‘n’ blues: Sex differences in circadian variation patterns of vagal activity vary by depressive symptoms in predominantly healthy employees. Chronobiology International, 35(7), 896-909. doi: 10.1080/07420528.2018.1439499

Foto Penulis
Ditulis oleh Fajarina Nurin pada 22/03/2017
Ditinjau oleh dr Mikhael Yosia
x