backup og meta
Kategori
Cek Kondisi
Tanya Dokter
Simpan

Meski Penting, Ini Alasan Pria Enggan Pakai Kondom

Ditinjau secara medis oleh dr. Nurul Fajriah Afiatunnisa · General Practitioner · Universitas La Tansa Mashiro


Ditulis oleh Satria Aji Purwoko · Tanggal diperbarui 06/02/2023

Meski Penting, Ini Alasan Pria Enggan Pakai Kondom

Salah satu prinsip melakukan seks yang aman ialah memakai pengaman alias kondom. Meski begitu, banyak pria enggan melakukannya saat sesi bercinta dengan pasangan. Lantas, apa alasan pria tidak suka memakai kondom? 

Beragam alasan pria tidak suka memakai kondom

Kesadaran untuk memakai kondom terbilang masih rendah. Hal ini terbukti lewat survei Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), seperti dikutip dari CNN Indonesia.

Hasil survei tersebut mencatat bahwa penggunaan kondom sebagai alat kontrasepsi pada pria di Indonesia per tahun 2021 baru mencapai 3,37% saja.

Banyak pria mencari alasan untuk tidak memakai kondom ketika akan bercinta dengan pasangannya. Berikut ini beberapa contohnya.

1. Tidak tahu cara menentukan ukuran kondom

menggunakan kondom

Salah satu alasan mengapa pria tidak menggunakan kondom yaitu mereka tidak tahu cara menentukan ukuran yang tepat. Sebenarnya, Anda bisa memilih ukuran kondom sesuai dengan ukuran Mr. P.

Anda dapat terlebih dahulu mengukur panjang, tebal, dan lebar penis ketika ereksi. Selanjutnya, tinggal memilih produk kondom yang sesuai dengan ukuran penis Anda.

Sudah banyak produk kondom dalam berbagai ukuran di pasaran, mulai dari yang paling kecil hingga ekstra besar. Pastikan kondom tidak berpindah atau melorot saat Anda gunakan.

Jadi, lebih baik untuk menggunakan kondom dan menyesuaikan ukuran Mr. P dengan kondom. Tujuannya agar hubungan intim Anda tetap aman dan nikmat.

2. Ukuran kondom tidak pas

Sebagian pria mengaku bahwa kondom yang ada di pasaran cenderung lebih besar daripada ukuran Mr. P mereka. Ini membuat kondom terasa longgar atau sempit saat digunakan.

Panjang kondom akan berbeda-beda sesuai dengan ukurannya. Pada dasarnya, kebanyakan produk kondom memiliki ukuran yang lebih panjang daripada ukuran penis.

Panjang penis pria saat ereksi rata-rata mencapai 14–15 sentimeter (cm), sedangkan panjang kondom biasanya lebih dari itu, yakni sekitar 17 cm. 

Hal ini bertujuan memberikan ruang untuk menampung air mani. Ukuran yang tidak pas tentu akan meningkatkan risiko pasangan hamil meski Anda memakai kondom.

3. Takut ketebalan kondom mengurangi kenikmatan bercinta

berapa kali pria bisa ejakulasi dalam sehari

Alasan utama banyak pria tidak mau memakai kondom yaitu karena mereka tidak ingin kenikmatan selama sesi bercinta berkurang.

Sebagian besar pria menganggap kalau kondom hanya akan mengganggu saat berhubungan intim, sebab mereka merasa ada penghalang antara penis dengan Miss V.

Padahal, saat ini sudah ada produk kondom yang dibuat setipis mungkin, tetapi tetap kuat dan tidak mudah robek. Produk ini diklaim memberikan sensasi senikmat bercinta tanpa kondom.

Bahkan, Anda juga bisa memilih kondom dengan variasi bentuk yang malah akan menambah kenikmatan bercinta, seperti kondom bergerigi dan kondom berulir.

4. Merasa nyaman dengan pasangan

Beberapa pria memilih untuk tidak memakai kondom saat bercinta dengan pasangan wanita yang berpenampilan menarik dan membuatnya merasa nyaman.

Hal ini dibuktikan dalam sebuah studi yang dimuat dalam British Medical Journal (2016) terhadap 51 partisipan pria heteroseksual berusia antara 19 hingga 61 tahun.

Para peneliti meminta partisipan untuk memberi tahu seberapa besar keinginan mereka untuk bercinta tanpa alat kontrasepsi berdasarkan foto dari beberapa wanita.

Hasilnya, diketahui para pria lebih bersedia untuk berhubungan intim tanpa kondom dengan wanita yang memiliki penampilan menarik. 

5. Berpikir pasangan tidak akan menularkan penyakit kelamin

Salah satu alasan mengapa kondom perlu digunakan yakni untuk mencegah penyakit kelamin. Sayangnya, banyak pria merasa dirinya kebal dari penularan penyakit tersebut.

Sebagian dari mereka merasa sangat percaya diri bahwa mereka tidak akan pernah tertular dan menularkan penyakit terhadap pasangan seksnya.

Penyakit menular seksual, seperti klamidia, gonore, dan bahkan HIV, sangat mungkin dan besar peluangnya untuk menular ketika Anda tidak menggunakan kondom.

Banyak penyakit kelamin yang tidak menunjukkan gejala apa pun pada tahap awal penularan. Biasanya, gejala baru ditemukan saat penyakit sudah parah.

6. Yakin pasangan tidak akan hamil

Senggama terputus alias ejakulasi di luar bisa nenjadi alasan pria tidak suka memakai kondom. Ini karena mereka yakin bahwa metode tersebut tidak akan membuat pasangannya hamil.

Padahal, ejakulasi merupakan refleks spontan. Tidak ada pria yang mampu memastikan kapan dirinya akan ejakulasi dan harus segera menarik Mr. P keluar.

Wanita juga berpeluang untuk hamil dari cairan pra-ejakulasi yang keluar saat pria terangsang. Keluarnya cairan pra-ejakulasi pun tidak bisa dikontrol layaknya ejakulasi biasa.

Cairan pra-ejakulasi mungkin memiliki sedikit sel sperma di dalamnya. Tentu, sel sperma dapat membuahi sel telur wanita dan menyebabkan kehamilan.

7. Khawatir gairah berkurang karena lama memakai kondom

Banyak pria menganggap memakai kondom itu butuh waktu dan bisa menghambat ejakulasi. Apalagi saat ia sedang bergairah dan harus menghabiskan waktu untuk memakainya.

Padahal, hal ini tidak sepenuhnya benar. Anda tidak butuh waktu yang lama untuk memakai kondom. Kebanyakan orang bahkan hanya butuh waktu kurang dari setengah menit.

Pastikan Anda sudah tahu cara memasang kondom yang benar. Selain mencegah kondom bocor, ini juga bertujuan agar gairah Anda saat ingin bercinta dengan pasangan tidak rusak. 

Kesimpulan

  • Kondom adalah salah satu alat kontrasepsi pada pria yang cukup sederhana dan harganya tidak terlalu mahal.
  • Selain mencegah kehamilan, kondom juga berfungsi untuk melindungi diri Anda dan pasangan dari penularan penyakit kelamin.
  • Ada beragam alasan pria tidak suka memakai kondom, mulai dari tidak tahu ukuran yang pas hingga takut mengurangi gairah dan kenikmatan seks.

Catatan

Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.

Ditinjau secara medis oleh

dr. Nurul Fajriah Afiatunnisa

General Practitioner · Universitas La Tansa Mashiro


Ditulis oleh Satria Aji Purwoko · Tanggal diperbarui 06/02/2023

ad iconIklan

Apakah artikel ini membantu?

ad iconIklan
ad iconIklan