5 Golongan Wanita yang Ternyata Tidak Boleh Minum Pil KB (Anda Salah Satunya?)

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 18 Desember 2020 . Waktu baca 3 menit
Bagikan sekarang

Pil KB adalah metode kontrasepsi yang paling difavoritkan wanita karena kemudahan cara pakainya dan kemanjurannya mencegah kehamilan. Namun ternyata, tidak semua wanita boleh minum pil KB. Siapa saja yang tidak boleh, dan apa alasannya? Cari tahu di sini.

Ada lima wanita yang tidak boleh minum pil KB

Sebelum mulai pakai kontrasepsi, sebaiknya Anda konsultasi dulu ke dokter kandungan apakah pil KB benar-benar tepat dan aman untuk Anda.

Pasalnya meski pil KB secara umum aman dikonsumsi dan minim efek samping, tidak demikian untuk wanita-wanita yang:

1. Punya migrain

obat migrain alami

Pil KB dapat meningkatkan risiko terjadinya stroke iskemik pada wanita pengidap migrain yang disertai aura. Ini karena pil KB mengandung jenis estrogen sintetik yang disebut ethinyloestradiol. Peningkatan kadar estrogen dalam tubuh bisa menjadi pemicu munculnya stroke iskemik.

Risikonya memang kecil, tapi bukan berarti mustahil. Maka jika Anda punya migrain dan sedang berniat untuk mulai pakai kontrasepsi, pertimbangkan metode yang lain seperti KB spiral (IUD). Jika tetap ingin minum pil KB, dokter mungkin akan menyarankan pil KB mini yang hanya mengandung progesteron dosis rendah. Pil mini dilaporkan cenderung lebih aman.

2. Berusia lebih dari 40 tahun

kesehatan umur 40 tahun

Seiring bertambah tua, tubuh akan mulai mengalami banyak penurunan fungsi. Dikutip dari Verywell Health, wanita berusia 40 tahun ke atas berisiko sangat tinggi untuk mengalami penggumpalan darah ketika menggunakan pil KB yang mengandung estrogen. Dari 100 ribu wanita usia 40-an yang minum pil KB estrogen, kira-kira 100 di antaranya mengalami penggumpalan darah.

Selain itu, risiko Anda mengalami penyumbatan arteri akibat bekuan darah ini juga meningkat 2 kali lipat akibat minum pil KB.

Sebaiknya konsultasikan lebih lanjut ke dokter mengenai alternatif kontrasepsi mana yang lebih aman untuk Anda.

3. Perokok aktif

Wanita perokok tidak boleh minum pil KB karena dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit jantung, termasuk komplikasinya seperti stroke dan serangan jantung. Apalagi jika Anda merokok dan sudah memasuki usia 40 tahun. Risikonya bisa meningkat berkali-kali lipat.

Jika Anda berniat untuk pakai kontrasepsi, umumnya dokter akan menyarankan Anda untuk lebih dulu mulai berhenti merokok demi menghindari risiko tersebut. Dokter mungkin juga akan mencarikan alternatif metode KB yang lebih aman setelahnya.

4. Memiliki riwayat gangguan pembekuan darah

proses pembekuan darah

Kandungan estrogen dalam pil KB dapat mengganggu proses pembekuan darah (koagulasi). Dikutip dari WebMD, sebuah penelitian menunjukkan bahwa pil KB meningkatkan peluang Anda terkena gangguan pembekuan darah sekitar 2-6 kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan wanita yang tidak pakai alat kontrasepsi.

Risiko ini dapat meningkat terutama jika Anda memang sudah memiliki riwayat gangguan pembekuan darah, misalnya hemofilia, sejak sebelum memutuskan ingin pakai pil KB.

5. Berisiko tinggi kanker payudara (atau sudah terdiagnosis)

sembuh dari kanker payudara

Mengutip berbagai penelitian, penggunaan rutin pil KB dosis tinggi dapat meningkatkan risiko kanker payudara. Apalagi jika Anda juga memiliki “bakat” keturunan kanker payudara dan memiliki sel abnormal di payudara. Maka risiko Anda akan jauh lebih tinggi.

Bahkan, konsumsi pil KB dosis tinggi juga dapat meningkatkan risiko kekambuhan pada mantan pengidap kanker payudara.

Kalkulator Masa Subur

Ingin Cepat Hamil? Cari tahu waktu terbaik untuk bercinta dengan suami lewat kalkulator berikut.

Kapan Ya?
general

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

4 Penyebab Sakit Kepala di Belakang Telinga yang Umum, Serta Cara Mengatasinya

Jika Anda salah satu orang yang sering mengalami sakit kepala di belakang telinga, ketahui berbagai penyebab dan cara mengatasinya dalam artikel ini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Kesehatan Otak dan Saraf, Sakit Kepala 20 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit

Kenapa Orang Gemuk Lebih Sering Migrain (dan Bagaimana Mencegahnya)

Apakah Anda sering mengalami sakit kepala migrain? Bisa jadi, berat badan Anda saat ini yang menyebabkannya. Lalu bagaimana mengatasinya?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Kesehatan Otak dan Saraf, Sakit Kepala 18 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit

Berbagai Jenis Penyakit yang Berhubungan dengan Kelainan Trombosit Darah

Kelainan pada trombosit dalam darah bisa menyebabkan berbagai jenis penyakit, mulai dari yang ringan hingga fatal. Apa saja?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Shylma Na'imah
Penyakit Kelainan Darah, Kelainan Trombosit 22 November 2020 . Waktu baca 8 menit

Darah Kental

Darah kental adalah kondisi ketika seseorang lebih mudah mengalami pengentalan darah. Apa penyebab dan gejala darah kental? Ikuti ulasannya di sini.

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Shylma Na'imah
Penyakit Kelainan Darah, Kelainan Trombosit 16 November 2020 . Waktu baca 12 menit

Direkomendasikan untuk Anda

sakit kepala setelah keramas

Tiba-tiba Sakit Kepala Setelah Keramas, Apa Penyebabnya?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
5 Kesalahan Minum Pil KB yang Sering Dilakukan

4 Kesalahan Minum Pil KB yang Sering Dilakukan

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Dipublikasikan tanggal: 14 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit
makanan pedas atasi migrain

Benarkah Makanan Pedas Bisa Mengatasi Sakit Kepala Migrain?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 1 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit
sakit kepala

Sakit Kepala

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Dipublikasikan tanggal: 28 Desember 2020 . Waktu baca 13 menit